Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
23.5. Fla Side Story Part 3


__ADS_3

"Fla, apakah tidak apa-apa bila aku menanyakan perihal kehidupanmu saat menjadi budak dulu?" Tanya Nata ketika Fla telah selesai membereskan meja makan seminggu setelah Oracle dimakamkan.


Tampak Fla terlihat ragu. Bila ia salah menjawab bisa jadi orang-orang ini akan membuangnya. Tapi mau tak mau ia harus menjawabnya. Dan akhirnya Fla mengangguk pelan.


"Kau bisa menolaknya bila kau merasa tidak mau. Aku bukan majikanmu, dan kau bukan budak lagi" ucap Nata kemudian.


"Tidak apa-apa tuan Nata. Apa yang ingin anda ketahui?" Jawab Fla.


"Berap lama kau tinggal dikotaraja selama menjadi budak?"


"Hampir 8 bulan tuan"


"Apa kau juga saling mengenal dan berkomunikasi dengan sesama budak? Apa para budak masih memiliki kehidupan sosial?"


"Bagi beberapa budak, kami masih tetap saling mengenal dan berhubungan. Kadang kami juga saling bertukar barang. Tapi itu tergantung dari majikan kami" tutur Fla menjelaskan.


"Oh, ku kira selepas kerja kalian akan langsung dipasung atau dimasukan ke dalam kurungan" kali ini Aksa yang menyahut.


"Ada beberapa budak yang diperlakukan seperti itu oleh majikan mereka"


"Dan apakah kamu diperlakukan seperti itu?" Kali ini Nata kembali mengambil alih pertanyaan.


"Di empat bulan pertama saya diperlakukan seperti itu. Namun ketika saya mendapat majikan yang baru, saya tidak pernah di kurung atau di pasung setelah pekerjaan saya selesai" jawab Fla.


"Apa kau pernah mencoba untuk melarikan diri saat berada di kotaraja, Fla?"


"Saya telah menyerah setelah tiga kali gagal melakukan percobaan melarikan diri. Setelah tulang pundak kiri saya patah" jawab Fla seraya menunjuk ke pundak kirinya.


"Apakah sekarang masih terasa sakit?" Tanya Lucia yang tiba-tiba muncul dari dapur bersama Jean.


"Sekarang sudah baikan. Namun masih terasa nyeri ketika saya menopang beban yang berat. Jadi saya sudah tidak bisa lagi memanggul apapun sekarang"


Lucia terdiam dengan tatapan iba. Dia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk merespon ucapan Fla tadi.

__ADS_1


"Ada berapa memangnya budak disana?" Tanya Nata memecah kesunyian.


"Saya kurang begitu tahu tuan Nata, mungkin ada 100 lebih"


"Apa hanya bangsawan saja yang memiliki budak di kotaraja? Apakah penduduk dengan status warga biasa juga memiliki budak?" Kali ini Nata bertanya kepada Lucia yang sudah duduk diseberang meja makan.


"Menurut aturan di Elbrasta, semua orang boleh memiliki budak. Namun karena pengurusan ijin nya sangatlah mahal dan kepemilikannya dikenakan pajak, maka hanya saudagar kaya, atau tuan tanah yang mampu memiliki budak disamping para bangsawan" jelas Lucia kemudian.


"Jadi ada aturan untuk kepemilikan budak. Apakah pajak mereka mahal?"


"Mereka di hargai sebesar nilai kepemilikan binatang ternak" jawab Lucia yang terdengar berhati-hati dan terlihat sedih.


"Lebih murah dari pada memperkerjakan seseorang" kali ini Aksa yang berucap.


"Lalu, apakah ada cara untuk membebaskan seorang budak?"


"Yang ku tahu pemiliknya bisa membayar pembebasan budak kepada kerajaan"


"Hm, setelah ia dibeli, lalu melalui pengurusan yang memakan biaya mahal, tidak masuk akal kemudian pemilik harus mengeluarkan uang lagi untuk dibebaskannya. Aturan yang memihak" ujar Nata kemudian yang disetujui Lucia dengan anggukan pelan.


"Kami tidak memiliki kekuatan untuk melakukan pemberontakan. Disamping kami tidak memiliki senjata atau kemampuan untuk bertarung, juga bagi sebagian dari kami, lebih baik tetap menjadi budak dari pada harus kehilangan nyawa, atau kehilangan orang yang kami sayangi" jawab Fla yang membuat Aksa mengangguk paham.


"Apa kau punya teman atau seseorang yang kau sayangi dari para budak itu?" Nata kini yang bertanya.


Fla tediam. Pikirannya langsung menuju kepada Livia "Iya, ada beberapa yang saya mengenalnya dengan baik. Yang bisa saya sebut sebagai teman" jawab Fla dengan nada sedih.


"Apakah itu perempuan?"


Fla kembali terdiam, terkejut, seolah Nata dapat membaca pikirannya, "Benar" jawabnya kemudian.


"Siapa namanya?"


"Namanya Livia"

__ADS_1


"Apakah kau mengenalnya saat berada di kotara?" Kali ini Aksa yang bertanya.


"Benar tuan Aksa"


"Apakah dia pacarmu?"


Fla terdiam lagi mendengar pertanyaan Aksa. Iya tidak beranggapan Livia adalah pacarnya. Tidak ada budak yang memiliki pacar. Tapi dalam hatinya Livia adalah seseorang yang spesial yang tak akan tergantikan.


"Apakah dia ada di kota Halmd sekarang?" Tiba-tiba Nata bertanya membuyarkan pemikiran Fla baru saja.


"Kemungkinan besar dia ada disana. Karena dia juga sedang dipindahkan ke kota tersebut saat saya berhasil melarikan diri" jawab Fla kemudian.


"Apakah kau berencana akan menyelamatkannya begitu kau sudah sembuh total?"


Fla terdiam lagi. Nata benar-benar bisa membaca pikirannya.


"Pikirkan dengan sangat matang, dan jangan gegabah atau yang malahan beresiko membuatmu tertangkap lagi"


"Saya paham tuan Nata" jawab Fla.


"Aku doakan yang terbaik untuk Livia disana" ujap Lucia kemudian menenangkan hati Fla.


"Terima kasih putri Lucia"


"Lalu Fla, apakah kotaraja itu besar"


"Benar tuan Nata, kotaraja itu besar"


"Apa kau tahu seluk beluk kotaraja tersebut?"


"Mungkin hanya setengah bagiannya saja"


"Tidak apa, apakah kau mau menceritakannya pada ku?"

__ADS_1


"Bisa tuan Nata, saya akan menceritakan yang saya tahu"


__ADS_2