Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
12.5. Antology Story : Hari Libur Lucia I


__ADS_3

Siang itu Lucia berencana akan mengunjungi paman nya Orland bersama Jean. Ia hanya ingin sekedar berbincang karena hari ini ia bebas dari pekerjaan rutinnya. Dengan kata lain hari ini adalah hari liburnya.


Namun kali ini Jean sedang ada tugas bersama Helen untuk mengantar peralatan penting ke luar tanah Pharos.


Sebenarnya Jean sudah memberitahukan kepada Lucia untuk meminta Caspian menemaninya saat ia hendak berpergian. Tapi karena sifat Caspian yang terlalu kaku, membuat Lucia malas mengajak Caspian berpergian. Jadilah Lucia hanya berpergian seorang diri.


"Hai, paman" sapa Lucia begitu memasuki tenda Orland yang tak jauh dari tendanya.


Tampak pria baya berperut buncit itu tampak sedang sibuk. Banyak sekali gulungan kertas dan kitab berjilid diatas mejanya.


"Oh, kau Lucia. Perlu apa kau kemari?" Tanya Orland seraya menatap kearah Lucia sebentar kemudian kembali lagi menunduk ke atas gulungan kertas dihadapannya.


"Apa yang sedang paman lakukan?" Tanya Lucia seraya mendekat melihat apa yang sedang pamannya baca.


"Ini gulungan tentang anturan-aturan yang Aksa tulis" jawab Orland tanpa menatap kearah Lucia.


"Apakah perihal pembagian tanah bagi para pekerja, paman?" Tanya Lucia seraya duduk di meja dihadapan Orland.


"Bukan. Ini tentang bagaimana kita mengawasi para pengunjung tanah ini bila nanti jasa penyeberangan itu sudah dibuka" jawab Orland masih belum menatap Lucia. "Sedang untuk tanah para pekerja dan budak yang ingin tinggal di daerah perkebunan di sisi barat itu, mereka sudah bisa untuk segera memilikinya" tambahnya kemudian.


"Benarkah?" Terlihat Lucia gembira mendengarnya.


"Dan kita akan terbitkan surat sah untuk mereka bersamaan dengan yang lainnya nanti, saat kota sudah mulai dibuka" tambah Orland lagi.


"Berapa besar tanah yang akan mereka dapat paman?" Tanya Lucia lagi.


"Sebesar tanah yang digunakan para bangsawan membangun kastil. Dan secara baku bila mengikuti pedoman dari istana berarti panjang dan lebarnya adalah 20 kali kereta kuda..." ucap Orland terhenti. Kemudian ia mengangkat wajahnya, menatap Lucia. "Kenapa kau berada disini Luc? Apa kau sedang libur sekarang?" Tanyanya kemudian.


"Benar, saya sedang libur hari ini" ucap Lucia dengan senyum mengembang.


"Lebih baik kau pergi ke stasiun sekarang. Mereka sedang melakukan uji coba gerbong baru. Aku masih ada tugas yang belum selesai, jadi jangan menggangguku. Sudah sana pergilah" ucap Orland seraya kembali menjatuhkan pandangannya keatas gulungan kertas diatas meja.

__ADS_1


Lucia langsung menekuk wajahnya kesal "Baiklah" ujarnya kemudian seraya berjalan keluar tenda Orland.


-


"Kurasa interior ini terlalu mewah bukan, untuk para bedagang atau sekedar pengelana?" Terlihat Dirk, Madron, Haldin, dan Matyas sedang berdiskusi sambil berdiri di depas sebuah gerbong yang terlihat baru saja dibuat.


Kayu dan pelapis gerbongnya masih terlihat mulus. Juga logam disisi badan gerbong masih terlihat mengkilap.


"Wah, apakah ini gerbong untuk jasa penyeberangan tersebut?" Tiba-tiba Lucia bertanya dari belakang yang mengejutkan semua orang.


"Putri? Anda sendirian?" Ucap Madron yang segera bertanya setelah melihat sosok Lucia seorang diri.


"Mana nona Jean?" Dirk ikut bertanya.


"Jean sedang bersama nona Helen mengawal pengiriman barang" jawab Lucia, yang kemudian berjalan maju dan kemasuki gerbong tersebut.


"Wah! gerbong ini bagus sekail!" Ucap Lucia kagum begitu melihat bagian dalamnya.


"Wah, bening sekali kaca ini. Seperti permukaan air saja?" Ucap Lucia yang tampak kagum melihat gelas kaca se bening itu.


"Dengan cara yang diberikan tuan Aksa, tuan Val berhasil membuat kaca yang sangat bening seperti itu, tidak seperti kaca mozaik yang berwarna dan tidak halus" Haldin menanggapi ucapan Lucia dengan memberikan informasi tentang kaca tersebut.


"Oh, begitukah? Cantik sekali" terlihat Lucia tak henti-hentinya menyentuh kaca jendela tersebut.


"Sekarang separuh pengerajin sudah mulai belajar hal tentang baru lagi. Salah satunya adalah membuat keramik dan gerabah seperti ini" Matyas ikut menambahi informasi. "Karena sekarang beberapa pekerja sudah mulai banyak yang mahir membuat perangkat besi untuk kereta dan menara atau jembatan" tambahnya kemudian.


"Kalian para pengerajin selalu menantang diri kalian sendiri, ya?" Ucap Lucia seraya duduk diatas kursi dihadapannya.


"Wah, lalu kursi ini? Apa ini terbuat dari kulit?" Terlihat Lucia kembali terkejut. Ia kembali meraba-raba kursi disebelah tempatnya duduk. "Apa isinya? Kenapa begitu nyaman saat di duduki. Apa bahannya bebeda dengan bahan yang biasa untuk kembuat kursi dirumah-rumah bangsawan?" Tanyanya kemudian.


"Benar tuan putri, kita mengisinya dengan kapas dan anyaman bambu tipis sebelum kita tutup dengan jahitan dari kulit tersebut" kali ini Dirk yang menjawab, karena memang ia dan para penjahit nya lah yang bertanggung jawab untuk membuat tempat duduk tersebut.

__ADS_1


"Apa menurut anda interior di dalam gerbong kereta ini terlalu mewah untuk kita sewakan tuan putri?" Kali ini Madron yang bertanya.


Terlihat Lucia mulai menilai keseluruhan ruangan dalam gerbong tersebut. Kemudian meletakan tangan nya di bawah dagu seolah sedang berpikir.


"Kurasa cukup. Tidak terlalu mewah. Kita memang harus memberikan kesan yang kuat pada para pedagang dan penyeberang yang menggunakan jasa kerata uap ini kelak" jawab Lucia kemudian dengan panjang lebar dan terlihat serius.


"Hm, begitukah? Baiklah kalau begitu, kita akan buat interior seperti ini pada setiap gerbong baru yang akan digunakan untuk jasa penyebrangan" ucal Madron kemudian.


"Oh iya, ngomong-ngomong. Apakah ada jadwal kereta yang akan pergi menuju ke wilayah barat?"


"Apa tuan putri hendak ke wilayah barat?" TanyanHaldin kemudian.


"Benar, saya ingin mengunjungi area perkebunan dan area peternakan di wilayah barat" jawab Lucia kemudian.


"Anda bisa menggunakan kereta dan gerbong ini. Saya akan minta satu pekerja untuk menjalankannya" tambah Haldin kemudian.


"Apakah tidak apa-apa?" Tanya Lucia memastikan.


"Kami juga sudah selesai dengan gerbong ini. Jadi jangan kuatir tuan putri" Madron menegaskan ucapan Haldin.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih" senyum Lucia mengembang.


-


Tak berapa lama kemudian, kereta uap itu mulai berjalan. Tampak Lucia duduk di pinggir jendela sebelah barat yang kenghadap pagar tebing sisi utara dan juga aliran sungai.


Tampak pula kereta tersebut melewati tenda perkemahan para ksatria, tenda perkemahan penyihir, dan tenda perkemahan para pekerja.


Dan tak lama kemudian, terlihat dari kejauhan sebuah air terjun di dinding sebuah tebing tinggi. Dengan sebuah roda kincir berputar diatas. Air yang jatuh ke sebuah kolam dibawahnya itu, menimbulkan percikan air yang membuat permukaan kolam tersebut seolah berkabut.


"Mau dilihat berapa kali pun, tempat itu selalu terlihat mengagumkan" ucap Lucia pada dirinya sendiri saat melihat tebing waduk dari tepian jendela ditempat duduknya.

__ADS_1


-


__ADS_2