
Tiga hari kemudian, rombongan dari wilayah Pharos tiba di kota Meso. Berarak-arakan sebanyak 80 prajurit berkuda, dengan 4 kereta besi, dan 2 kereta tempur.
Rombongan itu membawa beberapa bahan makanan, obat-obatan, dan juga keperluan yang lain. Ikut serta Lucia, Jean, Amithy, Parpera, dan Mateus. Bersama dengan 5 penyembuh, 10 penyihir, dan 15 pengerajin dan pekerja.
Mereka tiba saat keadaan kota Meso sudah mulai pulih kembali. Para korban sudah semua ditemukan. Yang meninggal sudah dikuburkan sehari sebelumnya. Sedang yang luka-luka sudah mulai membaik.
Beberapa penduduk menawarkan diri untuk jadi sukarelawan merawat korban dan membersihkan puing-puing dan reruntuhan.
Setelah penyerangan pasukan kerajaan Urbar, mereka menggunakan kediaman bangsawan yang pernah digunakan untuk mengadakan pertemuan, sebagai tempat darurat untuk merawat para korban.
Membuat sekat darurat dari papan kayu tipis di ruang tengah kediaman tersebut, kemudian menempatkan sebuah tempat tidur yang didapat dari semua kediaman bangsawan dan penginapan yang tidak digunakan.
Lucia dan rombongan segera menghampiri tempat darurat tersebut begitu memasuki kota. Lucia menemui Caspian yang tampak sudah mulai membaik.
Luka terparah yang diderita Caspian adalah dibagian perutnya. Yang saat ledakan terjadi, sebuah potongan tongkat kayu menancap dalam pada perutnya setelah baju pelindungnya meleleh. Namun karena ia sempat mengeluarkan sihir penguatan terhadap tubuhnya, dan berkat kerja keras dari para penyembuh yang melakukan perawatan selama dua hari terakhir, sekarang luka tersebut sudah menutup.
Sedang saat Lucia hendak menjenguk Rafa, tampak gadis itu sedang tertidur. Namun melihat kenyataan bahwa Rafa kehilangan lengan kanannya, membuat Lucia merasa sangat sedih.
"Bagaimana kabarnya?" Tanya Lucia kepada Aksa yang terlihat duduk dikursi disebelah ranjang Rafa saat Lucia menjenguk.
"Dia baik-baik saja. Dia gadis yang kuat" jawab Aksa kemudian.
"Benar, nona Rafa adalah gadis yang kuat" Lucia menyetujui ucapan Aksa dengan nada sedih.
.
"Jadi bagaimana keadaan kota sekarang ini, nona Helen?" Lucia bertanya saat ia sudah berada di ruang kerja di sebelah ruang perawatan darurat tadi. Masih di kediaman bangsawan tersebut.
Diruangan tersebut hanya ada Lucia, Amithy, Mateus, Nata, dan Helen. Sedangkan Jean, Parpera, Lily, dan Val membantu pembersihan kota yang masih dilakukan sampai saat ini.
"Setelah serangan dari pihak Urbar kemarin, banyak dari warga yang menawarkan diri untuk ikut membantu membersihkan rerutuhan dan merawat para korban. Dan sekarang kondisi kota ini sudah mulai pulih" Helen menjawab.
"Dan berapa jumlah korban dan kerusakan yang kita terima?" Lucia bertanya lagi.
"Lima belas prajurit terluka parah, lima belas sisanya meninggal. Sementara dua puluh satu warga terluka, dan delapan meninggal" Helen menerangkan. "Hampir tiga puluh bangunan hancur, dan lima belas rusak parah" tambahnya.
"Coba ceritakan bagaimana hal itu bisa terjadi?" Kali ini Amithy yang bertanya tampak sangat penasaran.
"Sepertinya mereka menggunakan semacam tottem atau batu Arcane buatan. Dan kami tidak curiga karena kami tidak merasakan apapun. Permata-permata tersebut tampaknya tidak memiliki aliran Jiwa" Helen mulai bercerita. "Dan saya menduga ada orang yang mengirim aliran Jiwa ke permata-permata tersebut menggunakan batu Arcane yang sesungguhnya atau mungkin sebuah senjata mistik" tuturnya kemudian.
"Ini semua adalah kesalahan saya. Saya terlalu meremehkan hal ini, hingga saya tidak bisa mengantisipasinya" Nata tiba-tiba berucap.
"Ini bukan salah kita. Tapi salah mereka, Nat" saut Lucia kemudian.
"Benar. Semua ini salah mereka" Amithy menambahi dengan sedikit geram.
Nata hanya tersenyum mendengar ucapan Lucia dan Amithy tanpa membalas. Ucapan mereka berdua tidak membuat Nata merasa baikan.
__ADS_1
Dan kemudian sisa pertemuan itu digunakan mereka untuk membahas tentang rencana pengamanan dan pemulihan kota tersebut. Mereka akan melakukan rencana menghadapi serangan kerajaan Urbar ini, bersama yang lainnya saat mereka semua sudah kembali ke kota Tengah.
.
"Tuan Nata, saya ingin bicara sebentar" Matues memanggil Nata saat mereka tengah berjalan di lorong antar ruang selepas pertemuan.
"Ada apa, tuan Mateus?" Nata terlihat sedikit penasaran.
"Mungkin ini tidak akan benar-benar bisa membantu, tapi setidaknya saya akan mengatakannya pada anda" ucap Mateus kemudian.
"Sepertinya hal yang serius, tuan Mateus?" Sekarang Nata jadi lebih penasaran.
"Bukan. Ini hanya kabar mitos" Mateus menjawab.
-
"Bagaimana keadaan anda, nona Rafa?" Nata menyapa Rafa saat ia hendak menjemput Aksa untuk menemui Lily dan Val.
"Saya sudah sehat sekarang, tuan Nata. Anda sudah tidak perlu kuatir lagi" Rafa menjawab dengan penuh semangat. Meski tampak wajahnya masih terlihat pucat. Sisa lengan kanannya yang hanya sepanjang dadanya itu tampak terbalut kain perban.
"Maafkan saya" ucap Nata tiba-tiba.
"Mengapa anda meminta maaf kepada saya, tuan Nata?" Rafa bertanya dengan wajah yang benar-benar merasa heran.
"Karena sudah menjadi tugas saya untuk memastikan hal seperti kemarin tidak akan pernah terjadi. Dan saya gagal melakukannya. Hingga membuat anda dalam bahaya. Membuat semua orang dalam bahaya" Nata berucap.
Melihat senyum Rafa, Nata pun ikut tersenyum. "Ya, kurasa anda memang benar. Saya akan memikirkan cara yang terbaik untuk menebus hal ini" ucapnya kemudian.
"Benar seperti itu" Senyum Rafa semakin mengembang.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi. Kami harus menemui Lily, dan Val. Anda istirahatlah dulu" pamit Nata.
"Aku pergi dulu" ucap Aksa yang kemudian berjalan menyusul Nata.
Sedang Rafa hanya mengangguk kecil seraya melihat dua pemuda itu pergi meninggalkannya.
.
"Aku mendengar dari tuan Matues, ada kemungkinan bahwa lengan Rafa bisa dipulihkan secara sempurna" Nata berucap saat ia dan Aksa dalam perjalan hendak menemui Lily dan Val.
"Apakah benar?" Aksa segera menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Nata tersebut. Terlihat ia sangat tertarik.
"Meski hanya sekedar kabar burung, menurut tuan Mateus, di daratan selatan ini ada rumor yang mengatakan gadis Suci yang seorang penyembuh itu dapat menyembukan segala macam penyakit. Bahkan menumbuhkan bagian tubuh yang sudah hilang atau rusak" Nata menjelaskan. "Tapi sama seperti sebuah Urban Legend, hal tersebut tidak ada buktinya" tambahnya lagi.
"Meski itu hanya kemungkinan, tetap akan kucoba" Aksa menjawab dengan cepat dan tegas.
"Aku tahu kau akan berkata seperti itu"
__ADS_1
"Lalu, apa rencana mu, Nat?"
-
Tiga hari kemudian rombongan Lucia bersama dengan Aksa, Nata, Lily, Val, serta Caspian dan Rafa tiba kembali di kota Tengah di wilayah Pharos. Caspian dan Rafa sudah hampir pulih total.
Sehari kemudian mereka mengadakan pertemuan dengan para kabinet dan parlemen untuk membahas rencana mereka terhadap kerajaan Urbar.
"Rencana apa yang bisa kita ambil untuk menjawab aksi mereka, Nat?" Tanya Lucia setelah ia selesai memberikan kabar tetang apa yang telah terjadi di kota Meso, kepada semua orang di ruang pertemuan di kota Tengah tersebut.
"Tergantung dari tujuan utama anda, tuan putri" ujar Nata kemudian.
"Sudah jelas untuk menyelesaikan perang tidak berguna ini" Lucia menjawab.
"Selalu ada dua cara untuk menyelesaikan sebuah peperangan. Dengan cara memenangkan perang secara mutlak seperti yang dilakukan Arcdux Lugwin di kerajaan Estrinx, atau melakukan perjanjian damai" Ujar Nata kemudian.
"Lalu bagaimana cara kita berdamai dengan mereka di kondisi kita yang sudah seperti ini?" Orland bertanya.
"Mudah, tuan Orland. Yang kita perlukan hanya mengirimi mereka surat tuntutan dan meminta penjelasan atas semua yang sudah terjadi. Dan bila kita tidak ingin lagi menyerang wilayah yang lain, maka kita tinggal menggerakan semua pasukan untuk berjaga dan mulai membangun tembok benteng di perbatasan wilayah mereka" Nata menjelaskan panjang lebar. "Saya yakin mereka yang telah banyak kehilangan wilayah penting mereka, tidak akan melakukan serangan dalam waktu dekat ini" imbuhnya kemudian.
Suasana dalam ruang pertemuan itu mulai jadi sedikit ribut setelah mendengar ucapan Nata tersebut.
"Hanya seperti itu? Kita akan membiarkan apa yang telah mereka lakukan kepada kita selama ini?" Amithy mewakili orang-orang yang tidak terima dengan jawaban Nata.
"Benar, nyonya Amithy. Karena memang seperti itu cara untuk menghentikan peperangan tidak berguna ini, selain memenangkannya" Nata menjawab dengan santai. Sementara Lucia menatap Nata dengan wajah penuh keraguan.
"Saya akan memberikan semua rincian tentang rencana untuk membangun tembok pembatas dan senjata pertahanan, kepada tiap-tiap bagian yang terkait" Nata menambahi.
"Kau berbicara seolah kau akan pergi dari tempat ini?" Lucia bertanya sarkas.
"Benar, tuan putri. Saya dan Aksa berencana meninggalkan tempat ini" jawaban Nata segera memicu keributan dalam ruangan tersebut.
Hanya Lily, Val, dan Rafa yang terlihat tidak terkejut mendengar ucapan Nata tersebut.
"Harap tenang" Orland berucap dengan sedikit berteriak.
"Apa maksudmu?" Disamping terlihat sangat terkejut, Lucia juga terlihat tidak terima.
"Kami sudah menjadikan penyerangan kemarin sebagai masalah pribadi. Jadi kami bersumpah akan menghancurkan kerajaan Urbar, dan mengambil alih tanah Suci" Aksa kemudian angkat bicara yang membuat kaget semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Bahkan kali ini Rafa yang duduk disebelahnya, juga tampak terkejut mendengar ucapan Aksa tersebut.
"Benar, karena ini adalah masalah pribadi kami, jadi wilayah ini tidak perlu ikut campur" Nata menambahi.
"Kalian jangan bercanda disaat-saat seperti ini" Lucia menyahut cepat.
"Kami serius" Nata menjawab tenang.
__ADS_1
-