
"Apa anda baik-baik saja, Tuan Alexander?" Tanya seorang bocah Narva dengan pakaian mewah kepada seorang bocah Narva lain yang sedang duduk dibangku kayu di bawah sebuah pohon rindang di pekarangan bangunan di tengah Kota Tengah.
Anak laki-laki berusia sekitar 14 tahun yang dipanggil Alexander itu tidak langsung menjawab. Ia terdiam menatap si penanya, seperti sedang menilai. Namun tidak tampak ekspresi apapun diwajahnya. "Apa aku terlihat seperti tidak baik-baik saja ya, Herman?" tanyanya kemudian.
"Anda terlihat lebih muram dibanding hari biasanya," jawab anak laki-laki yang dipanggil Herman itu seraya ikut duduk di bangku panjang yang tampak dibuat secara asal itu. Rambutnya yang disisir rapi belah tengah itu terlihat cocok dengan bentukan rahang yang lancip dan hidungnya yang mancung.
"Oh, benarkah kau bisa melihat bedanya? Kau berbakat, Herman. Sementara yang lain hanya melihatku sedang bermuram saja," jawab Alexander yang tidak bisa ditebak maksud perkataannya. Apakah ia sedang bercanda mencemooh, atau sedang serius memuji. Itu semua karena ia berbicara dengan nada dan wajah yang datar.
"Anda bisa menyebut saya seperti itu. Saya cukup percaya diri bahwa saya memang pemuda yang berbakat." Herman menjawab tanpa memperdulikan niatan dari ucapan Alexander sebelumnya. "Apa Anda sedang memikirkan sesuatu, Tuan Alexander?" tanya kemudian.
"Kau tidak perlu kuatir, Herman. Aku baik-baik saja," jawab Alexander seraya mengalihkan pandangannya ke arah beberapa anak yang sedang bermain berkejaran di sekitar pekarangan tersebut.
"Baiklah, bila Anda berkata demikian," jawab Herman yang juga mengikuti Alexander memandang anak-anak yang sedang bermain.
"Disini memang selalu ramai saat jam istirahat seperti sekarang. Anda bisa beristirahat di dalam kelas atau di Perpustakaan Kota yang berada di sebelah gedung percetakan tak jauh dari sini, bila ingin tempat yang tenang," ucap Herman lagi mencoba membuat topik pembicaraan lain dengan Alexander.
"Tidak perlu. Aku suka disini. Aku memang pendiam, tapi bukan berarti aku tidak suka tempat yang ramai," jawab Alexander pendek. Dan kesunyian terjadi lagi.
"Lalu bagaimana kesan Anda setelah mengikuti pelajaran di sekolah ini?" Herman masih mencoba untuk memulai perbincangan dengan Alexander.
"Meskipun mereka menggunakan tingkatan umur sebagai batasan dari banyak dan rumitnya sebuah pelajaran diberikan, tetap saja masih membuatku terkejut bagaimana anak-anak seumuran Eden dan bahkan Eureka diajarkan lebih dari sekedar membaca dan berhitung," jawab Alexander kemudian. "Tapi yang lebih mengejutkannya lagi, anak-anak dari kalangan rakyat biasa juga menerima pengajaran yang sama," lanjutnya menambahi.
"Di tempat ini memang beda dari tempat yang lain, setidaknya begitulah yang saya dengar dari ayah saya." Herman terlihat sedikit bersemangat mendapati Alexander memberikan jawaban yang cukup panjang.
"Ya, aku tahu tentang bagaimana aturan berjalan ditempat ini. Tapi aku tidak dapat terbiasa oleh hal itu. Terkadang beberapa hal masih membuatku terkejut," jawab Alexander masih menatap ke anak-anak yang tengah bermain.
"Kalau menurutku, tempat ini jauh lebih menyenangkan dibandikan kotaraja," sahut Herman mengeluarkan pendapat.
"Apa maksudmu kotaraja menakutkan?" Kali ini Alexander menayap ke arah Herman yang duduk tak jauh di sebelahnya.
"Entahlah, tapi kotaraja bagi anak bangsawan itu, terasa suram. Penuh dengan aturan-aturan," jawab Herman kemudian. "Apa lagi bagi putra pertama seperti saya. Sejak usia lima tahun saya sudah diajarkan tentang tatakrama, kemudian seiring bertambahnya usia, semakin banyak hal yang harus dipelajari," lanjutnya lagi.
"Bukannya tidak beda dengan sekolahan ini? Kita juga diajari banyak hal ditempat ini." Alexander bertanya datar.
"Benar, tapi yang diajarkan di tempat ini adalah hal-hal yang menyenangkan. Apa Anda tidak merasa demikian?" Herman menjawab.
"Merasa seperti apa?" tanya Alexander cepat.
"Coba Anda bandingkan. Di samping pelajaran dasar tentang menghitung dan membaca, kita diajarkan tentang bagaimana dunia ini bekerja. Kita belajar tentang tanah, angin, tumbuhan, binatang, dan juga membuat sesuatu dan mengerti sesuatu." Herman menjawab dengan sedikit antusias. "Sedangkan di kotaraja kita harus belajar cara menyapa, bertutur kata, menghapal aturan, sejarah, politik, peta dan silsilah keluarga, semua itu sangat membosankan," ujarnya lagi melanjutkan.
Alexander tidak langsung menjawab ucapan Herman. Tampak ia sedang memikirkan sesuatu. "Mungkin saja memang seperti itu. Tapi semua hal yang kita lakukan itu adalah kewajiban yang harus kita terima karena terlahir sebagai seorang bangsawan. Hal-hal itu tadi adalah penyeimbang terhadap hak-hak khusus yang akan kita terima sebagai seorang bangsawan," jawab Alexander mencoba menjelaskan pandangannya terhadap pendapat Herman.
Kali ini giliran Herman yang terdiam setelah kendengar ucapan dari Alexander tadi. "Kurasa Anda benar," jawabnya kemudian. "Tapi bila saya diminta untuk memilih, maka saya akan memilih seperti sekarang ini," lanjutnya menambahi.
"Apa kau tidak ingin menjadi seorang bangsawan yang memiliki kekuasaan?" tanya Alexander lagi.
"Kurasa saya hanya akan meneruskan nama keluarga Macay, dan menjadi seorang pedagang yang sukses seperti ayah saya." Herman menjawab seraya menatap ke langit cerah. "Karena menurut beliau kita bisa memiliki kekuasaan tanpa harus menjadi seorang Bangsawan. Tapi saya yakin, ayah saya berkata demikian karena keluarga kami hanya setingkat Baron di kerajaan Elbrasta," ucap Herman kemudian seraya tertawa kecil.
"Aku mengerti," jawab Alexander dengan nada datar seperti biasanya.
Tiba-tiba tampak seorang bocah Narva berlari mendekati Alexander, dengan tampak seekor anak rubah dalam gendongannya.
"Kak, lihat rubah ini penurut sekali. Apa aku juga boleh memelihara yang seperti ini? Menurut Andele, kakaknya masih punya tiga ekor lagi kalau aku mau memeliharanya," ucap bocah yang lebih muda dari Alexander itu sambil dengan berhati-hati mengusap kepala rubah dalam gendongannya tersebut.
"Kurasa, ibunda tidak akan memperbolehkan, Eden. Lagi pula itu hewan Mistik. Meskipun masih kecil, tetap saja dapat membahayakan anak-anak. Bagaimana bisa sampai ada disini tanpa pengawasan orang dewasa?" Alexander menjawab adiknya yang dipanggil Eden itu.
"Rubah itu temanku." Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan dari belakang Eden. "Dia sudah jinak," tambah suara tersebut.
"Oh, benarkah?" Alexander bertanya saat mendapati suara itu berasal dari seorang anak perempuan Morra yang tidak lebih tua darinya. Berdiri di belakang Eden bersama dengan seorang bocah Narva dan bocah Yllgarian dari klan Macan Kumbang.
"Benar. Kalau kau tidak percaya akan kubuktikan," ujar anak perempuan yang mengenakan rompi dari kulit tebal berwarna putih kusam di luar baju yang ia kenakan itu. "Dende kemari," perintah anak perempuan itu kemudian, dan rubah kecil yang bearada dalam dekapan Eden tadi meronta melepaskan diri, lalu berlari menuju ke arah anak perempuan tadi.
"Dia Andele. Dia adalah temanku." Eden memperkenalkan anak perempuan tadi kepada Alexander.
"Anda tidak perlu kuatir, Tuan Alexander. Andele adalah seorang Penjinak. Meski masih kecil, tapi pengalaman dan kemampuannya sudah cukup bagus." Herman menambahi dengan informasi.
"Kenapa kau hanya mengatakan Cukup, Herman? Aku Penjinak yang hebat di seumuranku sekarang ini," ucap Andele yang tidak terima akan penjelasan dari Herman.
__ADS_1
"Dan berapa umurmu sekarang?" Kini giliran Alexander yang bertanya.
"Aku akan masuk dua belas tahun, bulan depan. Kenapa? Apa ada masalah dengan hal itu?" jawab Andele dengan lantang yang terkesan sedang menantang.
"Andele jaga sikapmu saat berbicara dengan orang yang jebih tua," sergah Herman kemudian.
"Aku tidak bermaksud tidak sopan. Aku hanya bertanya saja, apakah itu tidak boleh?" Andele tampak sedikit tidak terima mendapat tuduhan dari Herman.
"Boleh-boleh saja," sahut Alexander menjawab pertanyaan dari Andele sebelumnya. "Dan maafkan aku bila pertanyaanku tadi tidak sopan. Perkenalkan aku Alexander. Usiaku empat belas tahun. Terima kasih telah menjadi teman Eden," lanjutnya kemudian memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, aku Andele. Kau tidak perlu berterima kasih hanya karena kami dan Eden berteman. Aku tidak pernah memberi sesuatu yang berharga kepada Eden sampai mendapat ucapan terima kasih segala," ucap Andele membalas.
"Oh, iya. Benar juga. Kalau begitu, terima kasih atas waktu yang kalian luangkan untuk menemani Eden bermain." Alexander membungkuk pendek meski masih dalam posisi duduknya.
"Kenapa ucapanmu rumit sekali?" Andele mengernyitkan dahinya.
"Mungkin memang seperti itu cara seprang Pangeran berbicara," bisik bocah di sebelah Andele yang masih cukup jelas untuk di dengar oleh Alexander.
"Apakah kau tidak berniat memperkenalkan teman-temanmu yang lain, Eden? Bukankah tidak sopan membiarkan aku atau mereka memperkenalkan diri sendiri," ucap Alexander menegur Eden dengan sopan.
"Oh, maafkan aku, kak. Perkenalkan ini teman-temanku. Gale dan Matt," ucap Eden kemudian seraya memperkenalkan bocah Narva sebagai Gale dan bocah Yllgarian sebagai Matt.
"Salam kenal," Matt si Macan Kumbang tadi membungkuk kecil seraya meletakan tangan kanannya ke dada. Itu adalah cara Yllgarian menyapa dengan sopan.
"Aku dan Matt seumuran, kami sembilan tahun,." Kali ini bocah bernama Gale yang berucap, memberikan informasi.
Kemudian terdengar suara lonceng yang berdentang cukup lantang, hingga mengejutkan rubah kecil milik Andele yang segera berlari menuju pundak anak perempuan itu dengan panik.
Lalu disusul suara perempuan dengan sedikit berteriak dari arah pintu masuk sebuah bangunan di ujung pekarangan tersebut.
"Anak-anak ayo kita masik, pelajaran berikutnya akan kita mulai," ujar perempuan itu memanggil anak-anak yang berada di sekitaran tempat tersebut.
"Ayo kita kembali ke kelas, nona Livia sudah memanggil," ucap Matt seraya mengawali berlari meninggalkan tempat itu.
Dan kemudian yang lain pun mulai menyusul berlari menuju ke arah perempuan yang dilanggil Livia itu.
"Kenapa kau tersenyum, Herman?" tanya Alexander saat ia mendapati Herman tersenyum menatapnya.
"Ya kurasa aku bukan orang yang ahli dibidang sosial," jawab Alexander yang mengikuti di belakang Herman.
-
Tampak puluhan anak keluar dari gedung sekolahan, tepat setelah lonceng penanda pukul dua siang terdengar dari menara jam di tengah alun-alun kota tak jauh dari area sekolah tersebut.
Tampak beberapa orang tua atau pelayan menunggu untuk menjemput anak-anak yang masih terlalu kecil untuk dapat pulang sendiri menggunakan kendaraan umum.
Terlihat Livia mulai merapikan ruangan kelas begitu semua anak sudah meninggalkan gedung sekolah tersebut.
Seperti para pengajar yang lain, itu adalah tugas rutinnya. Di samping tugas khususnya sebagai seorang kepala sekolahan yang kadang harus ikut mengurusi masalah di dua sekolahan lainnya di wilayah kerajaan Rhapsodia tersebut.
Tak lebih dari setengah jam kemudian, Livia sudah meninggalkan area sekolahan menuju ke gedung percetakan untuk menemui Fla.
.
"Apa hari ini Nona Rafa tidak datang lagi?" tanya Livia pada Fla saat ia sudah berada di dalam ruangan dimana tiga alat cetak besar yang terbuat dari besi berada.
Tampak pula dalam ruangan tersebut James, dan Luke si Yllgarian Serigala, yang sedang mengikat tumpukan kertas dengan tali pita berwarna warni sebagai penanda.
"Sudah hampir seminggu ini Nona Rafa tidak datang kemari. Bahkan menurut kabar dia tidak perbah meninggalkan wilayah Ceruk Bintang, akhir-akhir ini. Aku jadi semakin kuatir mendengarnya," ucap Fla yang tampak merapikan tumpukan kertas yang sudah diikat oleh kedua rekannya tadi.
"Dia hampir tidak pernah tersenyum semenjak itu. Selalu murung dan lebih pendiam. Melihatnya seperti itu membuatku merasa sedih." James ikut berucap setelah ia selesai dengan tumbukan kertas miliknya.
"Aku juga merasa kuatir," ucap Livia yang terlihat sedang membuka bungkusan makanan yang sengaja ia beli di jalan menuju ke gedung percetakan tersebut.
"Kurasa ia merasa kecewa karena tidak diikut sertakan dalam pekerjaan yang sedang Tuan Aksa dan Tuan Nata kerjakan sampai harus mengunci diri seperti itu," ucap James lagi yang kini sudah berada di depan meja dimana Livia mengelar makanan yang baru saja dibelinya itu. Empat buah roti berbentuk segitiga dengan warna merah dan putih yang mengundang selera.
"Menurutku Nona Rafa tidak akan sampai sekecewa itu bila hanya karena tidak diikut sertakan dalam pekerjaan Tuan Aksa dan Tuan Nata saja." Kali ini Luke yang ikut mengungkapkan pendapat.
__ADS_1
"Lalu menurutmu karena apa Nona Rafa sampai jadi seperti itu?" James bertanya setelah membersihkan tangan dengan kain bersih sebelum mengambil roti segitiga dari Livia tadi.
"Entahlah, mungkin karena Tuan Aksa tidak mengabarinya sama sekali sebelum melakukan penguncian diri?" Luke mencoba menebak. "Bahkan Tuan Couran juga tidak tahu kapan dan kenapa mereka berdua mengunci diri. Padahal bukankah selama Mahan Staan berhasil dibuka, beliau selalu berada di sana bersama mereka berdua?" lanjutnya kemudian seraya menyusul James membersihkan tangannya.
"Bukan hanya Tuan Couran, tapi juga Primaval," sahut Fla menambahi.
"Tampaknya Primaval juga mengalami kekecewaan yang sama, namun tidak sedalam Nona Rafa," ucap Livia yang juga ikut menambahi.
"Bukankah hal tersebut terasa aneh? Dua orang yang selalu bersama dengan Tuan Aksa dan Tuan Nata saja tidak tahu apa-apa tentang penguncian diri atau rencana pekerjaan yang mereka berdua sedang lakukan," ucap James setelah gigitan pertama pada rotinya.
"Jelas aneh untuk kita. Tapi Tuan Aksa dan Tuan Nata memang memiliki pemikiran yang tidak dapat kita pahami. Jadi hal aneh menurut kita, belum tentu aneh bagi mereka untuk dilakukan," jawab Fla mencoba memberikan pandangannya.
"Kurasa kau juga ada benarnya, Fla." James terlihat mengangguk kecil sambil memikirkan ucapan Fla sebelumnya. "Mereka adalah orang yang akan melakukan hal yang tidak kita sangka-sangka, dan menganggapnya sebagai hal yang wajar," ucapnya menambahi.
Yang lain hanya mengangguk menyetujui ucapan James tersebut. Dan kemudian mulai terdiam.
Kesunyian mulai terbentuk dalam ruangan tersebut. Hanya suara gemericik air dari saluran air di luar gedung percetakan sajalah yang terdengar untuk beberapa waktu.
"Lalu ngomong-ngomong kapan jadinya tanggal pernikahan kalian berdua?" Tiba-tiba Luke bertanya yang kemudian memecah kesunyian yang sempat terjadi. Terlihat ia mencoba mengganti topik pembicaraan sebelumnya yang mulai terasa berat.
"Aku jadi merasa tidak nyaman membicarakan rencana pernikahan ini, di saat Tuan Aksa dan Tuan Nata sedang mengurung diri, dan Nona Rafa sedang seperti itu." Terlihat Livia menghembuskan nafas panjang. Yang membuat Luke menyesali keputusannya bertanya tentang hal tersebut.
"Aku sebenarnya juga merasa seperti itu, tapi ayah ingin segara memasukan mu ke dalam daftar keluarga sebelum Tuan Orland memulai pendaftaran dan pencatatan ulang seluruh warga di wilayah kerajaan ini," ucap Fla kemudian.
"Menurutku kalian bisa menentukan tanggal untuk acara perayaannya setelah Tuan Aksa dan Tuan Nata keluar. Sedang untuk tata cara adat dan peraturan wilayah yang berlaku, akan jauh lebih baik bila kalian selesaikan secepatnya." James memberikan pendapatnya.
"Ya, kurasa kami akan melakukannya." Livia menjawab dengan nada yang terdengar sedikit ragu.
"Berarti besok lusa, kita akan pulang untuk menemui ayah," ucap Fla kemudian.
"Baik," jawab Livia seraya mengangguk paham.
-
-
Dua hari kemudian Fla dan Livia menuju ke Desa Timur dengan menggunakan kereta besi, karena memang tidak ada jalur kereta uap yang menuju ke wilayah Timur.
Kereta besi yang mereka gunakan itu dipinjam dari Pietro, yang dikendarai sendiri oleh Fla yang belum lama ini berlatih mengemudikannya. Sudah cukup banyak orang yang berlatih mengemudikan kereta besi, semenjak para pengerajin Bintang Timur banyak membuat kendaraan tersebut.
Itu dikarenakan rancangan kereta besi dengan bahan bakar cair itu memiliki bentuk yang jauh lebih kecil dan lebih cepat untuk dirangkai. Yang menyebabkan pembuatannya tidak terlalu memakan biaya yang mahal dan waktu lama.
Fla dan Livia berangkat pagi-pagi sekali. Sudah hampir tiga minggu mereka berdua tidak pulang ke Desa Timur. Itu karena mereka menempati rumah yang dibangun di wilayah utara kota Tengah. Tak jauh dari sekolahan.
Kereta besi mereka tiba di wilayah tempat tinggal Lumire, saat matahari sudah cukup tinggi di langit timur. Wilayah antara Kota Tengah dengan jalan tembus Dinding Sekai itu sekarang sudah mulai bertambah ramai. Sejak mulai dibangunnya jalan berlapis semen yang kokoh, serta pos jaga dan lampu jalan yang membuat orang tetap merasa aman dan nyaman saat melakukan perjalanan di malam hari.
Ditambah lagi semenjak Lumire membuat sebuah pasar khusus untuk para pedagang nomad dari tanah bebas Azzure. Yang kemudian menarik perhatian orang-orang yang hendak mencari barang-barang tertentu yang hanya dijual oleh pedagang Azzure, dan juga para wisatawan yang tertarik dengan keunikan hal tersebut.
Wilayah tempat Lumire tinggal itu dibiarkan tetap seperti apa adanya. Berupa padang sabana dengan beberapa kereta kuda yang dialih fungsikan sebagai kedai untuk menjajakan berbagai dagangan. Sementara di sekitar kereta-kereta tersebut dibangun tenda-tenda berbentuk kubah yang terbuat dari kayu dan kain untuk tempat tinggal keluarga Lumire yang masih menetap di tempat itu, dan juga beberapa pedagang lain yang sedang berjualan ditempat tersebut.
Tidak ada rumah atau gedung yang dibangun seperti pada wilayah pemukiman yang lainnya. Hanya kincir angin dan kincir air saja bangunan dari tembok yang terlihat di sepanjang wilayah sabana tersebut. Wilayah itu terkenal dengan sebutan Pasar Nomad oleh orang-orang.
Biasanya Fla dan Livia selalu meluangkan waktu untuk mampir ke tempat Lumire ketika melewati wilayah tersebut, namun kali ini karena harus segera tiba di Desa Timur, mereka tidak melakukannya.
Tak lama setelah melewati wilayah Lumire, jalan tembus Dinding Sekai pun mulai terlihat di depan mereka. Terowongan yang kini disebut dengan nama Gerbang Dinding Sekai itu, sekarang sudah jauh lebih bagus. Dengan dibangunnya penyangga dari logam Dracz yang kokoh di bagian dalam terowongannya dan juga lampu penerangan.
Sedangkan fasilitas di balik Dinding Sekai itu, juga sudah jauh lebih bagus sekarang. Jalanan berlapis semen sudah selesai dibangun hingga Desa Timur dan memutari kaki gunung Sekai menuju Desa Pesisir Timur.
"Oh, papan penanda arah itu sepertinya baru. Aku tidak melihatnya saat terakhir melewati tempat ini beberapa minggu yang lalu," ucap Livia yang terlihat cukup antusias ketika melihat sebuah papan yang terbuat dari besi yang berdiri tepat di percabangan jalan setelah Gerbang Dinding Sekai.
Di papan itu tertulis 'DESA TIMUR' dengan gambar kepala anak panah menghadap ke arah kiri, dan tulisan 'HUTAN SEKAI' dengan gambar kepala anak panah menghadap ke arah kanan.
"Benar. Dua tahun yang lalu pasti tidak akan ada yang mengira sebuah papan penanda arah dengan tulisan akan terpasang di wilayah ini. Mungkin membayangkannya saja sudah sangat gila. Dan sekarang, bahkan sebagian penduduk sudah bisa membacanya," ujar Fla yang mulai mengarahkan kereta besinya ke jalur sebelah kiri.
"Tuan Aksa, Tuan Nata, dan Yang Mulia Ratu memang adalah orang-orang yang luar biasa. Semoga mereka selalu dilindungi oleh para dewa. Semoga kita bisa bertahan melewati masa-masa sulit ini," ucap Livia yang terlihat benar-benar berharap.
"Benar. Meski sepertinya kita sudah mencapai tujuan kita, mendirikan sebuah wilayah yang ideal dengan kerajaan Rhapsodia ini sebagai hasilnya. Namun masa-masa ini adalah sebuah permulaan yang akan dipenuhi oleh lebih banyak tantangan," ucap Fla menanggapi.
__ADS_1
"Dan bersyukur kita bisa menjadi bagiannya," balas Livia saat kereta besi mereka sudah memasuki lengkung gerbang Desa Timur yang sengaja dibangun sebagai penanda.
-