
Siang harinya Orland mengundang Lucia, Nata, dan Aksa ke ruangan kerjanya. Orland sangat penasaran dengan dua pemuda yang tampak tak tahu sopan santun itu bisa mendapat perhatian Oracle dan sumpah setia pahlawan perang legenda. Dan tentang ide gila keponakannya membangun kota ditanah mati.
"Jadi apa rencana kalian untuk bisa membangun sebuah kota ditanah mati itu?" Tanya Orland setelah pelayan selesai menuangkan teh.
"Kami sudah memiliki rencana, hanya saja kami harus tau dengan pasti terlebih dahulu seperti apa daerah yang dimiliki tanah mati ini sebenarnya" ujar Aksa.
Tampak Orland terdiam sejenak, kemudian mulai berkata-kata, "siapa sebenarnya kalian? Dan apa motivasi kalian melakukan hal ini kepada Lucia?" Tanya nya yang sudah mulai tidak sabaran.
"Mungkin tuan Orland tidak percaya dengan cerita yang baru saja tuan dengar. Tapi kami berkata jujur" jawab Nata dengan tenang.
"Bahkan kami tidak dapat menggunakan sihir sama sekali" saut Aksa kemudian berusaha ikut meyakinkan bahwa mereka benar-benar dari dunia lain.
"Malah bangga" celetuk Nata.
"Tapi kami punya ilmu pengetahuan melebihi apa yang peradaban kalian ini punya" saut Aksa segera mengimbuhi.
"Apa?! Melebihi peradaban ini? Bahkan kalian terus meracau membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal. Bagaimana aku bisa percaya?" Jawab Orland kemudian.
"Masuk akal sih Nat. Kurasa tuan Orland perlu bukti. Coba kamu kasih buktinya" ucap Aksa seraya mengangkat gelas teh nya dari meja dan meneguk isinya.
"Kau ini bego atau gimana sih Aks? Jelas kamulah yang harus kasih bukti dengan memberi pengetahuan yang katanya 'melebihi peradaban ini' itu tadi. Malah dilepar ke aku" sewot Nata kemudian.
"Oh, baiklah. Coba sekarang tuan Orland ingin bertanya tentang apa sebagai tes pada kami?" respon Aksa tanpa perubahan nada.
"Apa kau sungguh-sungguh?" Tanya Orland seolah tak percaya dengan ucapan Aksa yang seolah sedang bercanda.
"Atau, tunggu sebentar. Aku ambilkan barang bukti dulu" Ujar Aksa kemudian seraya bergegas meninggalkan ruangan.
"Mau kemana kau?" Tanya Nata melihat seolah Aksa sedang berusaha melarikan diri dari sesi penjelasan ini.
"Ambil Tas dan Jaket di kamar, bentar" jawab Aksa seraya menghilang dibalik pintu.
"Maafkan mereka yang tidak tahu sopan santun paman" ujar Lucia meminta pengertian pamannya. Sementara tampak wajah Orland sudah terlihat pasrah dengan segala tingkah laku dan tata krama yang di lakukan oleh kedua pemuda itu.
"Maafkan kami yang tidak tahu tata krama tuan Orland. Terlebih dari hal itu, kita punya masalah yang lebih penting. Yaitu tentang pelepasan tahta ini" Nata tampak menimpali. "Apakah yang akan terjadi setelah putri melepaskan tahtanya?"
"Maksudmu?" Tampak wajah Orland mulai kembali terlihat serius mendengar pertanyaan Nata baru saja.
__ADS_1
"Secara politik dan secara sosial. Apa dampak yang mungkin terjadi tuan Orland?" Nata menjelaskan pertanyaannya.
Tampak Orland menarik nafas panjang sebelum memulai menjawab, "jelas dampaknya akan sangat besar dalam segala bidang. Mungkin untuk beberapa golongan, terutama rakyat tidak akan berdampak terlalu besar, karena disamping Lucia yang tidak pernah hadir dalam urusan dengan rakyat secara langsung, juga karena selama tiga tahun ini rakyat merasa senang akan kepemimpinan Sebastian" Orland menjedah sebentar dan lalu melanjutkan "tapi untuk golongan bangsawan berpengaruh, hal ini jelas akan menimbulkan perubahan peta politik. Yang bisa jadi akan menimbulkan bentrokan dan pergolakan dalam tubuh kerajaan" tutup Orland dengan meneguk teh dalam cangkir ditangannya.
"Dan apakah ada bangsawan yang sangat dekat dengan keluarga putri selain kalian, yang mungkin akan melakukan perlawanan?" Tanya Nata lagi kemudian.
"Banyak keluarga bangsawan yang dekat dan setia dengan keluarga raja. Tapi kalau mau dibilang, Sebastian juga adalah garis keturunan asli keluarga kerajaan maka kemungkinan untuk mereka ber oposisi tidaklah besar. Mungkin banyak yang tidak akan setuju dan menyayangkan hal ini.
"Tapi untuk keluarga bangsawan yang sudah lama berseberangan dengan keluarga kerajaan, maka ini adalah saat yang tepat untuk membuat gerakan. Dan kemungkinannya akan sangat besar terjadi" ujar Orland seraya menatap kearah Lucia seraya menegaskan bahwa keputusannya ini bukanlah keputusan yang bijak.
Sementara itu Lucia hanya diam dengan wajah seperti meminta maaf ke pamannya.
"Lalu satu lagi yang ingin ku tanyakan, apakah putri Lucia kaya tuan Orland?" Tanya Nata lagi kemudian.
"Apa maksudmu?" Tanya Orland tidak paham akan maksud pertanyaan Nata.
"Iya apa maksudmu bertanya seperti itu Nat?" Kali ini Lucia ikut bertanya tak mengerti dengan korelasinya.
"Maksud saya sebagai anggota keluarga kerajaan berapa kekayaan yang putri Lucia punya? Hartanya? Wilayahnya? Rumahnya? Pekerjanya?"
"Kenapa tiba-tiba kau tanyakan hal itu?" Tampak Lucia masih tidak terima Nata menanyakan hal itu.
"Sebagai seorang putri dari keluarga kerajaan. Dia memiliki harta berupa uang dan perhiasan yang tersimpan di kastil kediaman nya dahulu. Berikut seluruh pelayan yang bekerja di dalamnya" jawab Orland yang sudah mulai paham bahwa Nata bertanya untuk memperhitungkan modal yang dia punya untuk membangun sebuah daerah.
"Budak? Apakah beliau memiliki budak?"
"Dalam kastil itu ada 105 pekerja dan 75 budak"
"Wah banyak sekali. Dari mana biaya untuk mengelola kasti tersebut? Apa dari pajak?"
"Benar. Wilayah tempat kastil itu berdiri tidak menyetorkan hasil pajaknya ke istana. Tapi sebagai gantinya digunakan untuk mengelola kasti tersebut"
"Apakah kastil itu laku kalau dijual?" Tanya Nata lagi.
"Apa maksudmu?" Kembali Orland dibuat tidak paham dengan pertanyaan Nata.
"Apakah kastil itu milik keluarga putri atau kastil itu termasuk milik istana yang sengaja di pinjamkan ke keluarga kerajaan saat sedang menjabat?"
__ADS_1
"Oh itu maksud mu. Iya itu memang kasti pribadi raja terdahulu. Ayah Lucia. Jadi secara hak sekarang ini kastil itu milik nya. Jadi memungkinkan untuk kastil tersebut di jual" jawab Orland yang sudah paham dengan apa yang dimaksud Nata.
"Apakah putri memiliki prajurit sendiri? Atau penjaga pribadi keluarga kerajaan?"
"Tidak. Keluarga kerajaan di jaga oleh pasukan kusus istana. Tapi bila sekedar penjaga untuk kasti tersebut sih ada. Sekitar 50 orang, itu sudah ku masukan dalam perhitungan 105 pekerja tadi"
"Baiklah aku paham. Lalu kira-kira butuh berapa lama untuk mengesahkan tanah itu menjadi milik putri dan lepas dari kepemilikan kerajaan, tuan Orland?" Tanya Nata lagi.
"Antara 3 minggu sampai 3 bulan. Tergantung dari berapa banyak pencatatan yang dibutuhkan untuk wilayah tersebut" jawab Orland yang mulai kembali meneguk teh dari cangkir teh ditangannya. "Lagi pula kenapa kalian bersikeras untuk melepaskan diri dari kerajaan?"
"Itu karena saya tidak ingin kota itu nanti harus membayar pajak pada kerajaan" Kali ini Lucia yang menjawab cepat.
"Membayar pajak? Bangsawan paling kikir pun tidak akan tega meminta pajak dari tanah mati itu"
"Saat ini memag seperti itu. tapi kelak saat kota itu sudah berkembang pesat, kerajaan tidak akan segan membebankan pajak yang besar pada kota itu.
"Optimis sekali kau Luc. Aku sebenarnya senang mendengar hal itu. Tapi dalam kondisi sekarang, apakah itu tidak terlalu muluk"
"Percayalah pada kami paman" jawab Lucia dengan riang dan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, berarti kita punya waktu dua sampai tiga bulan untuk proses penurunan tahta dan pelepasan tanah mati. Jadi masih ada waktu untuk menuju tanah mati tersebut untuk memastikan medan dan membuat perhitungan."
"Kalian hendak kembali ketanah mati? Kapan?" Terlihat Lucia terkejut mendengar rencana Nata.
"Tenang saja anda tidak akan ikut tuan putri" Jawab Nata dengan santai.
"Kalian mau meninggalkanku?" Lucia terdengar lebih tak percaya.
"Anda punya banyak urusan yang harus diselesaikan disini."
"Tapi,"
"Kita harus membagi tugas agar semuanya cepat selesai. Dan juga kita masih perlu banyak dukungan. Maka dari itu tugas anda disini juga untuk mencari dukungan apapun dari para saudara dan kenalan anda." Jelas Nata kemudian.
"Baiklah, kurasa kau benar" Terdengar Lucia sudah mulai tenang.
"Kalian membicarakan semua hal ini seolah-olah semua ini serius" ucap Orland kemudian.
__ADS_1
Mendengar ucapan pamannya itu Lucia hanya tersenyum. Yang disusul oleh suara Aksa memasuki ruangan dengan gaduh.
-