
Prajurit kerajaan Urbar mulai berbaris maju melewati wilayah desa Sekai, mengejar para Yllgarian yang melarikan diri menuju kedalam hutan.
Tampak kemudian dua ksatria lagi turun dari kapal ke pantai tersebut. Lalu berjalan menghampiri pria berpalu tadi.
"Kulihat kau sudah menyelesaikkan masalah ditempat ini, Guan?" Ucap pria Morra dengan tombak berujung kapak terlihat dalam genggamannya.
"Oh, kau sudah tiba Krios" jawab pria berpalu yang dipanggil Guan itu.
"Setidaknya beri kami bagian untuk unjuk kekuatan juga" tambah pria Morra lain dengan dua kapak potong menempel menyilang dibelakang punggungnya.
"Tenang Karka. Kurasa pasti mereka menyiapkan lebih banyak hal di dalam hutan sana" Guan menunjuk ke arah hutan di depan mereka.
"Benar. Hutan adalah wilayah yang mereka kuasai" saut Krios pria bertombak kapak kemudian.
"Tapi itu tidak akan berarti apapun di depan senjata mistik" Karka pria berkapak ganda menimpali.
"Kalau begitu, ayo! Kita ada perang untuk dimenangkan" ujar Guan yang kemudian berlari menyusul para prajurit yang sudah mulai berbaris menuju ke hutan.
.
Sudah hampir 100 prajurit kerajaan Urbar tumbang sampai sejauh ini. Namun itu tidak merubah apapun, karena masih ada sekitar 500 lebih prajurit yang berbaris menuju kearah hutan Sekai.
Setelah sampai di depan mulut hutan, pasukan kerajaan Urbar tampak berhenti. Mereka tahu pasti hutan tersebut telah dipasangi jebakan.
Guan melangkah maju kedepan bersama Krios dan Karka. Lalu tampak pria berpalu itu kembali mengayunkan palunya dan memukulkan ketanah seperti yang tadi ia lakukan. Gelombang di dalam tanah kembali muncul yang membuat jebakan-jebakan yang telah dipasang di mulut hutan berhamburan ke angkasa.
"Sudah kukira mereka akan melakukan hal pengecut seperti itu" ujar Karka yang melangkah maju seraya mengambil dua kapak dari punggungnya.
Kemudian Karka mulai memasang kuda-kuda untuk bersiap melempar dua kapak yang berada dalam genggaman kedua tangannya itu. Dan dengan mencondongkan tubuhnya kebelakang sebagai bentuk ancang-ancang, lemparan yang Karkas lakukan setelahnya, jadi terasa sangat bertenaga.
Dua kapak itu berputar cepat hingga terlihat seperti sebuah lingkaran. Dan kemudian puluhan pohon di bibir hutan Sekai terpapras dengan begitu saja setelah dilewati oleh kapak tersebut.
Tak lama kemudian, kapak tadi berputar balik dan kembali tepat dalam genggaman Karka. Meninggalkan pepohonan yang mulai berjatuhan dengan suara yang terdengar meresahkan.
"Boleh juga" kali ini Krios yang berucap. Sama halnya dengan Karkas, Krios juga tampak maju kedepan. Kemudian memasang kuda-kuda untuk melakukan sabetan dengan tombak berkapaknya.
Dan setelah sabetan itu dilakukan, secara tiba-tiba puluhan pohon dijalur tebasannya terpotong begitu saja. Seolah ada pisau tak kasat mata yang memotong pepohonan tersebut.
"Yah, kurasa kita sudah cukup melakukannya. Mereka sudah tidak memiliki tempat untuk bersembunyi" ujar Guan yang tampak puas melihat tumpukan pohon di depan bibir hutan.
Dan sekali lagi pria berpalu itu menghantamkan palunya ke tanah. Dan puluhan batang pohon yang ada di bibir hutan itu tadi, terlempar ke samping dan membuat sebuah jalur yang cukup lebar menuju kedalam hutan.
__ADS_1
"Oh, itu mereka" ujar Karka saat melihat puluhan Yllgarian berwujud macan kumbang diujung jalur yang baru saja terbentuk itu tadi.
"Serbu!" Teriak Guan memerintah prajuritnya.
Dan kemudian prajurit kerajaan Urbar itu berlari menyerbu kearah para Yllgarian tersebut.
Yllgarian macan kumbang itu begitu lincah dan tampak lebih banyak bertahan dan menghindar dibanding melakukan serangan. Mereka tampak berusaha memecah dan menarik para prajurit memasuki hutan lebih dalam.
"Sepertinya Yllgarian itu ingin menggiring kita ke jebakan lain yang mereka punya" ujar Krios yang terlihat menilai.
"Benar. Kita harus mengurus mereka" Guan berucap.
Namun sebelum mereka bertindak, tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan dari barisan belakang. Dan asap hitam terlihat membumbung tinggi diangkasa.
"Apa itu?" Karka terlihat terkejut mendengar teriakan dan melihat asap hitam tersebut.
"Krios, kau urus para Yllgarian itu. Karka, ikut aku memeriksa kebelakang" perintah Guan.
-
Karena medan wilayah pesisir pantai yang terlalu sempit untuk dilewati 500 prajurit secara langsung, menyebabkan mereka harus berbaris memanjang kebelakang untuk menuju ke hutan Sekai.
Dengan menggunakan jalur rahasia yang sudah mereka buat untuk menembuskan hutan Sekai dengan sisi belakang desa Sekai, para Yllgarian itu berhasil melakukan penyergapan dan memotong barisan pasukan kerajaan Urbar tersebut. Dan membaginya menjadi dua.
Yllgarian banteng menerobos barisan pasukan tersebut hingga memisahkannya menjadi dua bagian. Yang kemudian para penyihir membuat tembok tanah, untuk mencegah dua barisan itu kembali bersatu.
Dan untuk memastikan para prajurit yang berada di sisi barat yang dekat dengan hutan Sekai tidak mencoba untuk merobohkan tembok tanah tersebut, puluhan sarang lebah dilempar di dekat tembok sisi baratnya.
Hal tersebut membuat para prajurit berusaha berlarian menjauhi tembok tanah tersebut. Sementara disisi timurnya, para Yllgarian banteng tadi menghadapi prajurit yang ada di sekitaran desa Sekai tersebut.
Disaat yang bersamaan Yllgarian kelelawar, dan Yllgarian burung hantu yang membawa serta Yllgarian beruang, terbang menuju ke pesisir pantai.
Kekacauan terjadi di barisan pasukan pesisir pantai itu, setelah para Yllgarian beruang dijatuhkan dan mulai mengamuk.
Sementara beberapa Yllgarian burung hantu dan Yllgarian kelelawar tampak dilengkapi dengan tabung-tabung besar di antara sayap mereka. Ditangan mereka terdapat sebuah senapan seperti senapan berpeluru pasak besi. Namun alih-alih menembakan pasak besi, senjata itu malah menyemburkan api.
Karena tidak siap dan tidak adanya para Juara untuk membantu mereka, maka pasukan di sisi timur tembok tanah pembatas tersebut tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Hampir 200 prajurit habis dalam pembantaian tersebut.
-
Sementara itu disisi barat tembok tanah tadi, tampak prajurit berlarian menuju ke arah hutan dengan panik karena dikejar oleh puluhan lebah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanya Guan saat ia dan Karka tiba ditempat kepanikan terjadi. Dijalur antara tembok tanah dan bibir hutan.
"Ada puluhan lebah menyerang kita, tuan Guan" jelas seorang prajurit yang mengibas-kibaskan tameng yang ia pegang, mencoba mengusir beberapa lebah yang ada disekitarnya.
"Menunduk kalian" Karka mengarahkan kedua kapaknya ke depan. Dan setelah merapal sesuatu api keluar dari ujung kedua kapak yang ia pegang itu seperti sebuah semburan air.
Butuh beberapa waktu sampai akhirnya Karka berhasil membakar seluruh lebah yang membuat panik prajurit-prajurit tersebut.
Tampak para prajurit mulai kembali bangkit berdiri saat sudah tidak ada lebah yang tersisa.
"Apa yang terjadi dibarisan belakang? Api apa itu?" Guan kembali bertanya seraya menunjuk ke asap hitam yang membumbung tinggi.
"Kami juga tidak tahu, tuan. Tadi tba-tiba ada Yllgarian yang menyerang dari tempat persembunyian mereka dibekas desa yang terbakar. Lalu kemudian muncul dinding tanah memecah barisan pasukan kita" salah seorang prajurit menjawab.
"Penyergapan dari belakang?" Karka menebak-nebak.
"Dinding tanah?" Sedang Guan tidak mengerti dengan maksud perkataan prajurit tersebut.
Belum juga prajurit itu menjawab, terdengar lagi suara teriakan. Kali ini dari arah hutan.
"Apa lagi itu?" Karkas menoleh penasaran.
"Aku akan memeriksa ke belakang, kau periksa pasukan yang ada di depan hutan" perintah Guan kepada Karka.
"Baik" jawab Karkas sebelum kemudian berlari menuju ke arah hutan.
Guan sendiri juga segera menuju ke barisan belakang untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Terlihat tembok tanah menutupi jalan kearah pantai. Dan setelah Guan menghancurkan tembok tanah tersebut, terkejutlah ia melihat pasukannya sudah tergeletak disepanjang jalan menuju pantai. Tak ada satu prajurit pun yang masih berdiri.
Tampak pula asap hitam itu berasal dari kapal-kapal kecil mereka yang terbakar di pinggiran pantai. Sedangkan para Yllgarian sudah tak terlihat satupun ditempat itu.
"Apa-apaan ini?! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Guan terlihat sangat marah.
Beberapa prajurit yang mengikutinya tampak terkejut dan mulai ketakutan.
Dan tak lama kemudian, terdengar keributan lagi dari sisi mulut hutan Sekai. Prajurit tampak berlarian menuju kearah pesisir pantai.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Guan yang merasa jengkel, saat kemudian terlihat di belakang para prajurit tersebut, ratusan hewan buas dan hewan mistik mengejar secara berkawanan.
-
__ADS_1