
Dibalik sebuah tebing di perairan dangkal di sisi barat tanah mati. Tampak sebuah bangkai kapal yang memiliki lubang besar pada lambungnya. Bersandar pada sisi tebing yang menjorok ke laut. Banyak perahu dan kapal kecil berlabuh disekitarnya.
Tak jauh dibelakang bangkai kapal tersebut. Masih diatas batu karang, namun yang tidak tersentuh air laut, berdiri beberapa tenda dan bangunan asal jadi dengan kerangka yang penuh tambalan-tambalan dari kayu bekas dek kapal karam tersebut.
Terlihat beberapa orang wanita dan anak kecil sibuk melakukan aktifitas mereka sehari-hari. Sedang untuk pria, nyaris tak lebih dari 5 orang saja yang tampak ditempat itu.
Sementara di dalam bangkai kapal tersebut di ruabg kabin Kapten, tampak dua orang sedang berbincang. Seorang wanita dan pria Morra.
Yang wanita tanpak mengenakan baju yang biasa dikenakan oleh para pelaut. Baju berompi berwarna biru kusam. Celana berwarna tanah dengan sepatu bot seperti yang sering digunakan oleh para pemburu, hanya saya bagian yang menutupi garis kakinya tidak diikat semua, hingga menyisakan bagian yang dibiarkan saja terbuka. Tampak topi pelaut dengan bentuk segitiga terletak diatas meja. Wanita itu adalah Anna, namun sering dikenal dengan panggilan Kapten Anna.
Sedang yang pria mengunakan baju yang serupa dengan Anna. Hanya saja pria itu tidak mengenakan rompi. Tapi hanya baju lengan panjang berwarna putih gading dengan banyak noda disana-sini. Pria tersebut adalah Nikolai, yang juga sering disebut Nikolai si Harpun. Itu karena kebiasaanya menenteng tombak pendek bermata kail kemanapun ia pergi. Rambutnya yang panjang ia kuncir kuda kebelakang.
"Akhir-akhir ini di tanah mati dibalik tebing itu sering sekali terlihat asap mengepul keatas. Kira-kira apa yang sebenarnya sedang terjadi disana?" Ucap Nikolai dari bangkunya dihadapan Anna.
"Ranting terbakar di tanah tandus itu bukan kejadian yang langka, Nik" jawab Anna dengan santai. Tampak wanita itu sedang mengasah pedang yang memiliki lengkung tak terlalu dalam, dengan batu asah diatas mejanya.
"Asap itu bukan seperti asap dari ranting terbakar atau api unggun, An" ucap Nikolai tampak jengkel karena Anna tidak serius menanggapi ucapannya dengan serius.
"Kapten, ada orang muncul dari balik dinding tanah mati bersama Gale" tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan menyela pembicaraan mereka berdua.
"Apa? Dimana mereka?" Terdengar Nikolai terkejut dan segera bangkit berdiri.
"Ayo, tunjukan tempatnya" ucap Anna seraya menyarungkan pedangnya dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
-
Terlihat 6 orang berjalan dari arah tebing di sisi timur yang biasa disebut dengan 'dinding tanah mati'. Terlihat seorang perempuan yang mengenakan baju penyembuh itu sedang menggendong bocah laki-laki.
"Turunkan bocah itu segera" ucap Anna dengan tangan digagang pedang siap mencabutnya dari sarung.
"Maaf, mungkin ada kesalah pahaman yang terjadi disini" ucap pria pemburu yang berada di paling depan, mencoba menenangkan Anna.
__ADS_1
"Sudah diam" saut Anna cepat dengan wajah seriusnya.
"Kami tidak bermaksud jahat" ucap seorang gadis Narva dibelakang pria tadi berjalan maju.
Sementara wanita dengan pakaian penyembuh tadi menurunkan bocah yang ada dalam gendongannya.
"Siapa kalian? Dan kenapa kalian berada di tempat iini?" Tanya Anna lagi dengan galak saat bocah laki-laki itu sudah berlari menuju kearah seorang perempuan dibelakang Nikolai.
"Apa kalian datang untuk menangkap ku?" Anna terlihat serius siap menarik pedangnya.
Pria pemburu tadi mengangkat tangannya menenangkan Anna.
"Perkenalkan saya Lucia, kami sedang membuat sebuah kota di tanah Pharos. Dibalik bukit tersebut. Kami kemari hanya ingin memeriksa wilayah pantai barat saja" gadis Narva itu mencoba berbicara seraya tetap mengangkat tangan.
"Membuat kota? Ditanah mati? Apa kau sedang mabuk, nona?" Anna mencemooh.
"Bila anda tidak percaya anda bisa ikut kami untuk melihatnya sendiri" jawab Lucia dengan cepat.
"Saya berkata jujur. Saya tidak ingin menyakiti siapapun. Tadi saya hanya menolong anak itu yang terjatuh ditebing sana" jawab Lucia lagi berusaha meyakinkan Anna.
"Benarkah itu?" Kini Anna bertanya pada bocah laki-laki yang berdiri dibelakangnya.
Dengan celat bocah itu mengangguk, "kakak itu menghilangkan luka dan rasa sakit nya dengan cepat" jawab bocah Morra berwajah kumal dengan bekas ingus memanjang kering di pipi kirinya.
"Sudah ku bilang jangan pergi terlalu jauh. Kenapa kau tidak mendengarkan ku?" Terdengar Anna memarahi bocah itu.
"Tapi tadi aku mengejar kerang hitam..." bocah itu berusaha membela diri saat Anna memotong ucapannya.
"Sudah, Nikolai bawa mereka kembali" Anna kembali menghadap kearah rombongan Lucia.
"Sudah pergi sana jangan pernah datang kemari lagi. Atau nyawa kalian akan melayang" ucap Anna kemudian dengan ancaman.
__ADS_1
Terlihat beberapa orang yang ada dibelakang Lucia tampak bereaksi dengan mencoba menggengam gagang senjata mereka masing-masing, namun pria pemburu yang berdiri paling depan tadi memberi tanda untuk tetap tenang.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba Lucia bertanya, seraya memperhatikan pakaian dan kondisi beberapa orang yang ikut datang bersama Anna tadi.
"Tidak ada, sudah pergi sana. Jangan kembali" jawab Anna dengan ketus seraya menatap tajam kearah Lucia.
"Baiklah kalau begitu. Kami permisi" ucap Lucia yang setelah mengangguk sopan, segera bergegas meninggalkan tempat itu diikuti 5 orang lainnya.
-
"Kenapa kau harus galak seperti itu, An? Sepertinya mereka berniat baik, mau membantu kita" ucap Nikolai saat mereka sudah kembali lagi di dalam ruang kabin kapal karam tadi.
"Aku tidak bisa percaya dengan orang asing yang tidak ku ketahui asal usulnya?" Ucap Anna dengan tenang.
"Bila kau tidak percaya, kenapa kau tidak mau mengikuti mereka ke balik tebing, saat mereka ingin membuktikannya padamu?" Nikolai tampak geregetan.
"Bagaimana kalau mereka merencanakan sesuatu?"
"Kau pasti yang sedang mabuk. Kau pikir lima orang tadi tidak bisa meringkusmu dengan mudah, kalau mereka mau? Mereka bahkan memiliki penyembuh, kau bisa apa?" Nikolai masi uring-uringan mendengar alasan tidak masuk akal Anna tadi.
"Kau tidak boleh dengan mudah mempercayai orang asing, Nik. Apalagi Narva. Mereka semua busuk" jawab Anna dengan wajah yang terlihat serius.
Tampak Nikolai menghela nafas, "lalu apa yang sekarang akan kau lakukan? Seminggu lagi kita sudah tidak akan bisa memberi makan dua puluh orang dan delapan bocah itu"
"Masih ada waktu"
"Anna! Kau lihat sekarang sedang masa pergantian musim. Cuaca dilaut tidak bersahabat. Jangankan berlayar mencari ikan. Kapal pedagang untuk kita rampok pun tidak akan ada yang berani berlayar" Nikolai menatap lurus kearah wanita dihadapannya itu.
Sedang Anna hanya terdiam membuang muka, menatap dek kayu dibawah kakinya.
Melihat hal tersebut, Nikolai berdiri. Kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan.
__ADS_1
-