
"Rom, bagaimana keadaan Prianka sekarang?". Tanya Neel yang baru saja bertemu Romi di kampus nya itu.
"Ya... Begitulah. Dia masih dalam suasana berduka. Setelah ini aku akan kembali ke rumahnya untuk melihat keadaannya". Jawab Romi
"Baiklah Rom, semoga secepatnya Prianka kembali ceria seperti semula". Jawab Neel
"Oh iya, dimana Adelard?". Tanya Romi yang sama sekali tak melihat keberadaan Adelard
"Aku tidak tahu. Mungkin hari ini dia tidak akan hadir lagi... Ntahlah". Jawab Neel bingung saat ingin berkata jujur
"Ah iya, memangnya kemarin kenapa Adelard tidak masuk?". Tanya Romi yang membuat Neel bingung
"Ia bilang... Dia... Dia kurang sehat Rom. Ya, begitu.. ". Jawab Neel terbata karena bingung
"Begitu ya, apa perlu kita menjenguknya?". Tanya Romi
"Tidak Rom, itu tidak perlu. Ia bilang hanya butuh istirahat. Aku pikir jika kita menjenguknya, kita akan mengganggung nya. Lebih baik jangan, kau fokus saja pada Prianka. Adelard pasti baik baik saja". Jawab Neel.
Ia memang tidak ingin Romi mengetahui bahwa Adelard sedang menyelesaikan kasus yang sedang di sandung nya sekarang
"Syukurlah kalau begitu..". Jawab Romi
"Wahh.... Wah... Singa dari segala singa rupanya sudah datang...". Ucap seorang pria yang suaranya membuat darah Romi mendidih
"Apa mau mu Bryan?!". Ucap Romi penuh penekanan
"Rom, tenanglah.. ". Neel berusaha menenangkan
"Aku dengar ayah Prianka sudah tiada. Aku hanya ingin mengucapkan bela sungkawa. Itu saja". Ucap Bryan bernada meledek sambil tersenyum menyeringai
__ADS_1
"Itu sama sekali tidak penting untukmu". Jawab Romi tegas
"Tentu sangat penting. Wanitamu, akan menjadi wanita ku juga. Kau lihat saja nanti, betapa kau akan hancur saat melihatku bersamanya". Ucap Bryan memancing emosi Romi
"Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu Bryan!". Ucap Romi tegas
"Kenapa tidak bisa?, bukankah dulu kau yang merebut Savira dari ku? Kenapa aku tidak bisa merebut Prianka darimu?, bahkan aku bisa melakukan lebih dari apa yang kau lakukan". Ucap Bryan tersenyum menyeringai
"Aku tidak pernah merebut apapun dari siapapun. Savira yang mendatangiku untuk meminta pertolongan dari kejaran pria kasar sepertimu!". Ucap Romi membantah
"Kau pikir aku kasar?, ya. Tetapi aku tidak sepicik dirimu. Kau lihat saja nanti siapa yang akan menjadi pemenangnya. Lagipula kenapa kau ketakutan jika Prianka pada akhirnya bersamaku?. Hmm? Apa Prianka sudah hamil anakmu? Wanita murahan itu memang benar benar haha". Ucap Bryan yang benar benar membuat Romi naik darah
Brugg,, Romi hilang kendali, dan seketika tinjuan keras itu berhasil mendarat di pinggir mulut Bryan hingga mengeluarkan darah.
"Romi, kendalikan dirimu". Ucap Neel berusaha menangkan Romi yang akan menyerang Bryan kembali
"Haaahh, aku tidak peduli". Ucap Romi yang benar benar di penuhi amarah. Ia menghadapkan Bryan pada dirinya. Ia mengepal erat kerah baju Bryan
"Kau akan membayar setiap inchi dari luka ku hari ini Romi!". Gumam Bryan sambil mengusap darah yang ada di pangkal bibirnya.
"Tunggu, Rom... Apa yang kau lakukan? Kendalikan dirimu". Ucap Neel menghentikan langkah Romi
"Rom... Kendalikan dirimu". Ucap Neel yang berhasil memghentikan Romi. Ia menepis pundaknya
"Apa yang bisa kulakukan Neel?, aku tidak bisa membiarkan pria manapun menghina kehomatan wanita. Meskipun jika tadi bukan Prianka yang di hina, aku akan tetap marah. Aku tidak suka laki laki yang tak bisa menghormati wanita!". Jawab Romi tegas
"Iya Rom aku mengerti, tetapi Bryan pasti sengaja melakukan itu untuk membuat masalah. Kau akan terkena masalah karena ulahnya Rom". Ucap Neel menjelaskan
"Aku tahu, aku akan terima resiko itu". Balas Romi berusaha meredam amarahnya
__ADS_1
"Rom, kau di pangggil ke ruang dosen... ". Ucap seorang mahasiswa yang menghampiri Romi. Apalagi jika bukan masalah dengan Bryan barusan?. Bryan memang langsung mengadukam masalah ini kepada dosen nya
"Sudah kuduga". Ucap Romi yang langsung memenuhi panggilan itu. Tak lepas dari Neel yang berada di belakangnya.
......................
"Kau turunlah". Ucap Felix yang kini berada di sebuah taman. Ia menurunkan Jovanka disana, ia tidak ingin Jovanka ikut ke pabrik tempatnya bekerja
"Felix, kenapa kita kesini? Hmm... Aku tahu, kau pasti ingin membicarakan hal penting bersamaku kan?". Ucap Jovanka kegirangan
"Kau turun saja". Jawab Felix penuh penekanan
"Baiklah". Ucap Jovanka yang mulai turun dari motornya. Di susul oleh Felix
"Felix, apa yang ingin kau bicarakan hm?, jangan malu malu sayang... Ayolah". Ucap Jovanka yang bergelayut manja di lengan Felix. Dengan segera Felix langsung menepisnya
"Dengarkan aku Jovanka. Aku tahu bahwa kau ada hubungan nya dengan kejadian ibuku malam itu". Ucap Felix tegas
"Apa maksudmu?, aku sama sekali tidak tahu apa apa Felix". Bantah Jovanka. Terlihat raut wajah cemas di wajahnya
"Lantas kemana kau pergi saat itu?". Tanya Felix penuh selidik
"Aku... Aku.... Aku hanya cari angin keluar". Jawab Jovanka gugup
"Jadi kau tidak akan mengaku?". Ucap Felix dengan tatapan tajamnya
"Apa yang harus aku akui Felix?. Aku hanya bisa mengakui bahwa aku mencintaimu itu saja tidak ada yang lain". Ucap Jovanka meyakinkan
"Cintai saja aku semaumu. Asal kau tahu, aku sudah mempunyai pilihanku sendiri. Dan tentu bukan dirimu!. Kau jangan pernah berharap apa apa dariku, dan jangan berani beraninya kau memaksa ibuku untuk perjodohan ini!. Aku tahu gelagat mu". Ucap Felix sambil berlalu pergi menginggalkan Jovanka
__ADS_1
"Felix.... Tunggu aku". Ucap Jovanka yang berusaha mengejar Felix. Namun Felix sudah berlalu pergi dengan motornya
"Sial. Aku di tinggalkan sendiri di tempat ini. Jika aku tidak memiliki tujuan lain aku benar benar tidak sudi kenal dengan pria itu". Gerutu Jovanka