
"Hm.. Felix.. Terimakasih sudah mengajakku keluar. Aku senang sekali..". Ucap Berli saat mereka sudah sampai di depan kediaman nya. Terpaut wajah bahagia di antara mereka.
"Baiklah. Sekarang kau beristirhatlah, besok aku pagi aku akan menjemputmu". Ucap Felix penuh perhatian
"Baiklah". Balas Berli penuh senyuman
"Aku akan menghubungimu nanti". Ucap Felix sambil mengusap lembut kepala Berli. Sepertinya ini akan menjadi kebiasaan Felix saat hendak berpamitan.
"Aku akan menunggu". Balas Berli tersenyum keindahan
"Assalamualaikum". Ucap Felix lembut hendak berlalu pergi
"Waalaikumsalam". Balas Berli tersenyum menatap kepergian kekasih hatinya itu.
"Felix benar benar.. ". Gumam Berli. Ia benar benar bahagia semenjak ada Felix di dalam hatinya.
......................
"Apa yang harus aku lakukan agar hidupku tenang tanpa ancaman seperti ini? Aku benar benar sudah muak!". Bu Inez depresi mengingat kejadian yang menimpanya hari ini. Ia mengeluarkan keluh kesahnya di kamar mewah miliknya.
__ADS_1
Toktoktok,, tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya
"Masuk". Balas Bu Inez melupakan amarahnya
"Ma?". Romi membuka pintu dan masuk ke kamar ibunya
"Romi sayang, ada apa nak?". Ucap Bu Inez penuh kelembutan, seolah tak ada beban di pikiran nya.
"Ma. Aku ingin membicarakan sesuatu. Apa mama baik baik saja? Mama terlihat banyak pikiran". Ucap Romi segan sambil menduduki tepi ranjang ibunya
"Tidak ada sayang. Bicarakan saja apa yang ingin kau bicarakan". Ucap Bu Inez penuh kelembutan
"Sampai berapa kali kau harus mengatakan hal ini Romi?. Lalu siapa wanita tepat yang kau maksud?". Balas Bu Inez. Seketika ia mengubah nada bicaranya karena ia tak menyukai jika putra putra nya menentang keinginan nya.
"Tidak. Romi tidak menyimpulkan wanita mana yang tepat. Hanya saja untuk kak Jovanka, menurut Romi, dia.. tidaklah tepat. Mungkin alangkah baik nya kak Felix memilih jalan nya sendiri". Ucap Romi segan. Ia hanya mengatakan apa yang ingin ia katakan. Pasalnya, ia sudah mulai mencium gelagat jahat Jovanka.
"Romi, alangkah baiknya kau tidak mencampuri perjodohan ini. Itu akan lebih baik". Ucap Bu Inez tegas
"Tapi ma.. ". Romi membantah namun tak sempat meneruskan kata kata nya
__ADS_1
"Romi. Jangan membuat mama marah hanya karena pandangan mu pada Jovanka. Mama tidak suka kau seperti ini". Ucap Bu Inez penuh penekanan.
"Baiklah". Romi tak ingin membuat ibunya kesal. Ia memutuskan untuk meninggalkan kamar ibunya.
"Aku tidak akan membiarkan Kak Felix di jodohkan dengan Kak Jovanka. Ini benar benar buruk". Romi membatin
Tingg,, tiba tiba terdengar bunyi bel. Tanda ada seseorang di luar
Romi yang berada tak jauh disana langsung membukanya. Ia segan untuk memanggil Bi Esin hanya untuk membuka pintu. Baginya, pekerjaan yang masih bisa di lakukan olehnya tidak perlu meminta bantuan kepada orang lain.
"Kak.. Kau baru pulang?". Ucap Romi saat mendapati Felix di ambang pintu
"Ya. Aku pikir aku harus menghindari wanita itu bukan?". Felix menjawab sambil melenggangkan kakinya untuk masuk
"Kak.. Ada yang ingin aku bicarakan". Ucap Romi menahan Felix
"Datanglah ke kamarku sepuluh menit lagi". Balas Felix singkat sambil berlalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri selepas dari luar.
"Baiklah". Balas Romi menghela nafas
__ADS_1