
"Kemana dia?, apa tidak masuk hari ini?, aku tidak melihatnya sama sekali". Ujar Berli dalam hati, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia kini tengah mencari keberadaan pria es batu yang sudah mulai berlabuh di hatinya itu.
"Ani, kamu cari siapa?". Tanya Bian penuh penekanan, ia tahu persis apa yang ada dalam pikiran Berli saat ini.
"Ah tidak Bian, ayo makan". Jawab Berli gugup. Entah kenapa mood nya tiba tiba menghilang saat mengetahui bahwa Felix tidak ada hari ini.
"Sepertinya hari ini kamu ga mood ya?". Ujar Bian kepada Berli yang sedari hanya diam tak seperti biasanya
"Gapapa Bian". Jawab Berli sambil tersenyum, namun ia merasa ada yang kurang hari ini
"Apa karena pria itu sekarang tidak ada?". Tanya Bian penuh selidik, namun perasaan nya benar benar kesal.
"Ah engga kok Bian, ayo makan lagi". Ujar Berli mencoba menghapus pikirannya tentang Felix. Bian hanya terdiam dengan kekesalan di hatinya.
......................
"Sebenarnya aku masih merindukan mu Lathesia, tapi sungguh aku belum bisa memaafkan kesalahan mu. Kau benar benar membuat hatiku hancur. Dan kini aku telah menemukan gadis yang entah apakah dia tepat untukku atau tidak. Aku akan terus melanjutkan perasaanku padanya, meskipun aku tidak tahu bagaimana akhirnya". Ujar Felix dalam lamunan nya. Ia kini tengah berada di kantin rumah sakit untuk mencari makan dan menghindari Ayah Lathesia. Namun betapa terkejut nya saat lamunan nya di buyarkan oleh seorang Pria yang tidak begitu asing baginya
"Kau disini?". Ujar David yang kini menapakkan kakinya di tempat yang sama dengan Felix
"Kau?, untuk apa disini?". Felix kembali bertanya kepada David
"Aku kesini untuk menjenguk bos ku. Kau sendiri untuk apa berada di sini?". Ujar David kepada Felix. Felix benar benar bersyukur ternyata identitas nya belum di ketahui David
"Ini kantin, siapa saja boleh datang". Ujar Felix dingin berusaha bersikap seperti biasanya. David kini duduk tepat di depan Felix. Entah apa yang ia inginkan, tiba tiba saja David menduduki tempat itu
"Apa kau tahu?, aku sangat mencintai Berliani". Ujar David penuh penekanan
__ADS_1
"Lalu?". Jawab Felix dingin. Padahal hatinya benar benar gusar mendengar pernyataan David
"Kau harus menjauhinya!!". Ujar David tegas
"Apa kau memiliki hak untuk itu?. Jika memang kau memiliki hak untuk melarangku, aku akan menjauhinya detik ini juga". Ujar Felix tenang. Namun penuturannya membuat perasaan David bergemuruh penuh amarah.
Karena penuturan Felix yang berkata demikian, David akhirnya memutuskan untuk berlalu pergi sebelum kemarahan nya benar benar membuncah. Felix hanya tersenyum tipis menatap kepergian David
......................
"Bian, aku minta maaf". Ucap Berli yang kini sudah menyelesaikan makan siang nya dan hendak kembali bekerja. Namun perasaanya benar benar tidak enak kepada Bian. Ia sepertinya marah karena sedari tadi Berli hanya diam
"Tidak apa apa, tidak usah di paksakan. Aku kembali bekerja, sampai nanti". Jawab Bian dingin kepada Berli. Ia berlalu pergi dan tidak ceria seperti biasanya. Ini membuat Berli benar benar tidak enak hati
"Maafkan aku Bian". Ujar Berli pelan menatap kepergian Bian
"Maaf Bu Sherly, saya pikir saya harus beristirahat terlebih dahulu karena memang sudah waktunya makan siang". Ujar Berli lembut menjelaskan kepada Sherly
"Saya yang harus memerintahkan kamu. Dan kamu harus menuruti perintah saya, sekarang juga saya akan menambah pekerjaanmu itu". Ujar Sherly tegas penuh penekanan kepada Berli. Ia benar benar ingin membuat Berli tidak betah bekerja di pabrik ini.
"Maaf bu, tapi bahkan pekerjaan saya masih banyak. Saya mohon jangan di tambah lagi ya bu". Ujar Berli penuh permohonan kepada Sherly. Memang tadi Bian mengatakan akan membantunya, namun melihat sikap Bian tadi, sepertinya hal itu tidak akan terjadi.
"Kamu bisa mengundurkan diri sekarang juga jika membantah". Ujar Sherly tegas. Hatinya benar benar puas memberikan penderitaan kepada Berli. Berli hanya mampu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dan bersabar atas sikap Sherly
"Baik Bu". Ujar Berli hanya bisa mengalah
Sherly berlalu pergi dengan hatinya yang puas karena sudah berhasil menambah beban Berli. Berli hanya bisa bersabar karena jika ia menundurkan diri pun belum tentu akan mendapatkan lagi pekerjaan dalam waktu singkat.
__ADS_1
"Kak". Tiba tiba seorang pemuda datang dan membuat Berli terkejut. Ia adalah Aditya yang entah sejak kapan berada di sana
"Hai aditya". Jawab Berli tersenyum ramah seolah tak ada beban di hatinya
"Maaf kak, aku tidak sengaja mendengar percakapan kakak dan Bu Sherly tadi, aku sungguh tidak menyangka ternyata Bu Sherly bisa setega itu. Aku akan membantu pekerjaan kakak". Ujar Aditya yang entah sejak kapan ia mendengar percakapan Berli dengan Sherly. Ia sungguh tidak tega dengan apa yang Berli alami saat ini.
"Tidak usah Aditya, aku bisa melakukan nya sendiri. Fokus pada pekerjaanmu sendiri, oke?". Ujar Berli tenang, ia tidak ingin merepotkan orang lain dalam pekerjaannya
"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan kak, aku tulus membantu kakak. Biar aku bantu kakak, sementara pekerjaan ku sudah selesai sejak tadi". Ujar Aditya. Berli memang tidak mengetahui sebenarnya Aditya bekerja di bagian apa, ia menyangka Aditya karyawan biasa sepertinya.
"Baiklah, terimakasih banyak aditya, aku tidak akan melupakan kebaikan mu". Ujar Berli sambil tersenyum. Ia sangat berterimakasih kepada Aditya yang akan membantunya menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
......................
"Jovan sayang, tante minta maaf karena sampai saat ini Felix belum bisa membuka hatinya untuk kamu". Ujar Bu Inez kepada Jovanka yang masih setia menemaninya di rumah sakit
"Gapapa tante, mungkin seiring berjalan nya waktu, Felix akan bisa mencintai Jovan". Ujar Jovanka lembut menenangkan Bu Inez. Namun tentu lain di hatinya.
"Tante bener bener berharap kamu jadi menantu tante". Ujar Bu Inez sambil menyapu lembut dagu mulus Jovanka. Jovanka hanya tersenyum manis atas perlakuan Bu Inez kepadanya.
......................
Di tempat lain, seorang wanita cantik kini masih tetap bergelut dengan nasib malang yang menimpanya saat ini. Ia benar benar merasa putus asa dan selalu ingin mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
"Sayang, bertahanlah. Ayah akan membantumu memperjuangkan kebahagiaanmu. Ayah akan melakukan apa saja agar kamu bahagia". Ujar seorang pria paruh baya yang sangat iba dengan keadaan putri nya saat ini.
"Aku ingin mati saja ayah". Ujar wanita itu penuh penyesalan dalam hatinya
__ADS_1
"Ayah disini, ayah tidak akan pernah membiarkan mu melakukan hal itu. Ayah akan membantumu kembali mendapatkan kebahagiaan". Ujar pria paruh baya yang tak lain adalah ayah dari wanita itu. Ia adalah Lathesia Arrora dan Ayah nya. Lathesia saat ini benar benar dalam keadaan terpuruk karena nasib malang yang menimpanya.