DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 109 - Kau Harus Sembuh Adikku


__ADS_3

"Dokter, siapa pria di dalam?". Tanya Felix penuh kecemasan pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu


"Mohon maaf tuan, tidak ada kartu pengenal disana. Mohon bersabar, saat ini pasien sedang kami tangani". Jawab dokter sambil berlalu pergi


"Romi... ". Gumam Felix sambil mengusap kasar rambutnya


"Kak, tenanglah.. ". Ucap Aditya menenangkan Felix


Sementara Berli hanya menatap nanar pintu tertutup itu, ia benar benar tidak menyangka bahwa pria yang ia tolong adalah adik kandung Felix. Matanya mulai berkaca kaca karena tak sanggup melihat Felix yang begitu cemas dan sedih


"Felix, kau bersabarlah... ". Ucap Berli sambil mendekati Felix. Felix hanya mengangguk sambil menunduk


"Apa kalian keluarga pasien?". Tanya seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan itu. Seketika mereka langsung menoleh


"Iya, saya kakaknya.. ". Jawab Felix dan langsung berdiri


"Pasien saat ini dalam keadaan kritis karena benturan keras yang di alaminya. Ia masih belum siuman, dan setelah ini akan di pindahkan ke ruangan ICU. Tetapi sebelum itu, dokter mengizinkan satu orang untuk menjenguknya. Silahkan, jika ada perwakilan yang ingin menjenguk..". Jawab suster


"Aku akan melihatnya..". Ucap Felix cemas sambil bergegas masuk ke ruangan itu


Dan ternyata benar, pasien itu tak lain adalah Romi adik kandung Felix. Wajahnya yang memar, perban di kepalanya, matanya yang terpejam, alat yang menempel di hidung, infusan di tangannya dan tubuhnya yang tak berdaya membuat hati Felix semakin teriris


"Romi... Adikku.. ". Gumam Felix sambil menatap tak percaya melihat adiknya terbaring lemah tak sadarkan diri


"Aku yakin kau bisa Romi, kau akan sembuh, kau akan kembali pulang". Ucap Felix sambil menggenggam erat tangan Romi. Hampir saja ia meneteskan air mata, namun tertahan oleh keyakinan Romi sembuh

__ADS_1


"Adikku... Bangunlah... Mama menunggu kita di rumah, ayo kita pulang, untuk apa menginap disini". Ucap Felix sambil menatap iba wajah tampan adiknya yang terluka. Akhirnya cairan bening itu berhasil lolos dari mata indahnya seketila ka langsung menyekanya


"Permisi tuan, maaf... Waktunya sudah habis, pasien harus di pindahkan ke ruangan ICU. Mohon bersabar dan tabah, kami pasti akan berusaha". Ucap dokter yang baru saja datang


"Adikku akan sembuh kan dokter?, berjanjilah kepadaku. Aku memohon padamu. Sembuhkan dia.. ". Ucap Felix sambil menyatukan kedua tangannya. Baru kali ini ia memohon dengan penuh permohonan


"Kami hanya bisa berusaha tuan, selebihnya... Serahkan semua pada yang maha kuasa. Yang penting jangan berhenti mendoakan kesembuhannya". Jawab dokter sambil menepis lengan Felix


"Terimakasih dokter.. ". Ucap Felix berlalu pergi. Namun tatapan nya masih tertuju pada adiknya yang terbaring lemah


"Bagaimana kak, benar dia adik kakak?". Tanya Aditya saat melihat Felix keluar dari ruangan itu


"Dia adikku... ". Jawab Felix sambil menunduk dengan pikirannya yang benar benar kalut


"Terimakasih sudah menolong adikku, Berli". Ucap Felix


"Sudah seharusnya begitu". Jawab Berli tersenyum tipis


"Kak Felix, aku minta maaf... Sepertinya aku harus segera pulang. Pamanku menelpon, sepertinya ada hal penting". Ucap Aditya berpamitan


"Baiklah, terimakasih banyak Aditya.. Hari ini kau banyak membantuku". Jawab Felix tersenyum tipis. Di balas anggukan Aditya


"Kak Berli, aku izin pamit... Assalamualaikum". Ucap Aditya kembali sambil melirik ke arah Berli dan Felix


"Waalaikumsalam.... ". Jawab keduanya

__ADS_1


Kini hanya Berli da Felix yang tinggal disana. Mereka duduk di bangku koridor itu. Entah kenapa Berli tidak berpikir untuk pulang


"Berli, aku.. ". Ucap Felix terbata


"Ada apa?". Tanya Berli


"Apa aku melakukan kesalahan?". Tanya Felix


"Kenapa kau bertanya soal itu?". Ucap Berli


"Aku pikir sepertinya kau sedang menghindariku. Katakan apa kesalahan ku". Ucap Felix


"Tidak ada Felix, kau tidak melakukan kesalahan apapun". Jawab Berli tersenyum tipis


'Aku yang salah Felix, aku yang salah karena terlalu banyak mengharapkan hal yang tidak mungkin. Aku tidak boleh berlama lama disini, aku tidak ingin hubunganmu hancur gara gara aku'. Batin Berli


"Lupakan saja, sekarang fokus lah kepada kesehatan adikmu..... Felix, sepertinya aku harus pulang, hari mulai petang, semoga adikmu segera sembuh. Jika nanti adikmu sudah siuman, sampaikan salam ku padanya... ". Ucap Berli berpamitan


"Baiklah, maaf aku tidak bisa mengantarmu.... Dan terimakasih banyak... Aku tidak tahu cara untuk membalas kebaikanmu hari ini". Jawab Felix


"Tidak apa, assalamualaikum". Ucap Berli tersenyum tipis


"Waalikumsalam". Jawab Felix


'Apa yang kau pikirkan Berli?, kenapa kau menghindariku?, andai aku memiliki keyakinan untuk menyatakan perasaanku padamu, aku akan lalukan itu. Tapi untuk apa aku lakukan itu jika kau sedang mengharapkan orang lain'. Batin Felix menatap kepergian Berli di ujung koridor itu

__ADS_1


__ADS_2