DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 141 - Egois


__ADS_3

"Apa? Felix menyukai salah satu karyawan tante? Ini benar benar tidak bisa di percaya". Ucap Jovanka terkejut. Ia memang tengah berada di kediaman Bu Inez sekarang. Karena tadi Bu Inez memintanya untuk datang


"Tante benar benar tidak menyukai gadis itu. Jovanka, tolong dekati Felix agar ia bisa menghapus perasaan nya pada gadis itu". Pinta Bu Inez


"Pasti. Jovan akan mendekati Felix lebih daripada sebelum nya. Tante tenang saja". Ucap Jovanka dengan raut wajah kesal


"Terimakasih sayang". Ucap Bu Inez yang merasa lega


......................


"Bagaimana sekarang? Apa kepalmu masih terasa sakit?". Tanya Prianka yang kini berada di taman tempat nya menimba ilmu. Dengan siapa lagi jika bukan dengan Romi. Hari ini hari pertama Romi masuk kembali setelah sepekan ia di skors


"Tidak. Karena kau bersamaku sekarang". Ucap Romi terkekeh menggoda kekasih nya itu


"Jika kau terus menggodaku, aku akan mencakarmu hahaha.. ". Balas Prianka tersenyum lepas

__ADS_1


"Tetaplah seperti ini.. ". Ucap Romi yang merubah raut wajahnya menjadi serius


"Maksudmu?". Prianka tertegung


"Tetaplah tersenyum lepas seperti itu. Aku tidak ingin melihatmu menangis. Jangan hapus senyuman itu dari wajah mu". Ucap Romi sambil menatap lekat wajah cantik gadis itu


"Tentu. Selama aku masih bersamamu, aku pasti akan selalu tersenyum". Ucap Prianka tersenyum


"Anak pintar". Ucap Romi sambil mencubit hidung Prianka gemas


"Lihat. Mereka justru asyik berpacaran disana". Ucap Adelard tersenyum di arah sebrang. Sejak tadi ia melihat kebersaamaan Prianka dan Romi


"Lalu kapan kau akan menyusul? Kau tidak bosan bersamaku terus? Haha.. ". Balas Neel menggoda Adelard


"Jika tidak terpaksa, aku sangat bosan Neel haha.. ". Jawab Adelard kembali menggoda Neel. Tentu ucapan nya tidaklah sungguhan

__ADS_1


......................


"Jika kau benar benar mencintainya maka kau tidak akan memaksakan perasaannya". Ucap seorang pria dengan lantangnya. Kini David dan Felix berada di tempat yang sama. Berbicara empat mata adalah solusinya. David mengajak Felix berbincang saat tengah berpapasan di koridor yang kebetulan sepi saat itu.


"Apa yang sebenarnya kau bicarakan?". Balas Felix dingin tanpa menatap ke arahnya


"Aku sudah melamar nya tempo hari. Aku sedang menunggu jawaban darinya. Lalu kau datang dan mengatakan seolah Berli mencintaimu juga. Apa artinya semua ini? Kau memaksanya untuk mengatakan itu bukan?". Ucap David yang kini kecemburuan nya benar benar membuncah. Ia tidak bisa menahan perasaan nya lagi. Ia rela meninggalkan sejenak masalah pekerjaan nya


"Lalu? Bukankah dia belum memberikan jawaban apapun padamu?. Biarkan dia menentukan pilihan nya. Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintaiku. Dia yang mengatakan itu padaku saat setelah aku menyatakan perasaanku. Apa itu salah?. Dan jika pada akhirnya dia akan memilihmu. Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku akan menerima kebahagiaan nya meskipun bukan denganku. Kau tidak perlu menilai ku se-egois itu". Jawab Felix sambil berlalu pergi


"Sial. Aku selalu kehabisan kata saat bicara dengan nya. Tetapi apa ucapan nya itu sungguhan? Apa Berli benar benar mengatakan semua itu?. Tidak. Aku akan terus memperjuangkan cintaku sebelum semua nya hilang. Ini sama sekali bukan akhir. Namun awal dari perjuanganku". Gumam David sambil mengacak kasar rambut nya.


Seketika ia menjadi egois dan berambisi penuh. Sangat berbeda dengan kata katanya kemarin kepada Berli saat ia mengatakan akan bahagia melihat Berli bahagia bersama yang lain. Entah mungkin karena orang itu adalah Felix.


'Ku harap kau akan menjadi miliku. Kau sudah membuatku bangkit dari luka itu. Aku harap kau tidak akan membuat luka itu kembali menganga Berli'. Batin Felix yang pikiran nya benar benar kalut

__ADS_1


__ADS_2