
David yang kepalanya di penuhi pertanyaan tentang keberadaan Felix tadi, ia masih tetap setia berada disana dan mencari tahu siapa Felix sebenarnya. Saat Felix keluar tadi, ia memang sempat mengintip ke tempat itu. Ruangan mewah dan megah, ia sama sekali tak menyangka bahwa tempat itu ada disini.
"Aku tidak menyangka bahwa disini ada tempat semewah ini. Tetapi, tadi dia keluar dari arah ini. Siapa sebenarnya dia?". Gumam David. Ia hendak membalikan tubuhnya, namun terdengar derap langkah kaki menuju ke arahnya. Sontak ia bersembunyi tak jauh dari tempat itu.
Felix yang bingung dengan benda yang ada di genggaman nya, seketika ia masuk ke ruangan itu tanpa memperhatikan sekitar. Ia sama sekali tak menduga bahwa ada sepasang mata memperhatikan nya.
"Apa? Jadi dia.. ". David tersentak tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapan nya. Ternyata, saingan beratnya itu, bukanlah orang sembarangan.
Felix menutup pintu seraya tak memperhatikan apapun di luar, ia hanya fokus pada sebungkus benda itu.
"Apa dia adalah putra Bu Inez?. Aku harus mencari tahu, siapa dia sebenarnya". Gumam David sambil melenggang pergi dengan langkah yang sangat hati-hati. Ia tidak ingin Felix mengetahui keberadaan nya.
......................
"Apa ini?. Aku rasa aku tidak memesan apapun". Felix yang bingung, kini hanya memperhatikan barang yang ia letakkan di meja nya. Ia mengamati barang itu. Namun kali ini, ia berniat untuk membukanya
Dengan hati-hati, Felix membuka bungkusan itu. Sangat terlindungi, ya. Bungkusan itu terbungkus oleh berhelai helai pelindung, sehingga membuat Felix sedikit kesulitan
"ini?. Flashdisk?". Felix terbelalak saat ia mendapati benda itu dan secarik kertas berisikan tulisan 'Buka, dan dengarkan, sedikit kenyataan pahit dalam hidupmu'
__ADS_1
"Sial! Apa maksudnya ini!". Felix menggerutuki benda itu. Ia mulai mendidih karena kehidupan nya mungkin saja sedang di permainkan orang lain.
......................
"Pekerjaanku tidak selesai selesai sejak tadi. Mengapa aku merasa bahwa pekerjaanku semakin banyak". Ucap Berli yang mulai lelah dengan pekerjaan nya.
Kringg,, tiba tiba ponsel nya berbunyi. Tanda ada panggilan masuk
"Lathesia?". Gumam Berli sambil mendongkang benda pipih itu.
"Haii.. Berli.. Sedang apa?". Ucap Lathesia di sebrang telpon
"Oh ya?. Apa aku mengganggumu?. Maafkan aku, aku akan menutupnya kalau begitu". Balas Lathesia di sebrang telpon
"Ah tidak, tidak apa apa. Lagipula aku sedang break sebentar. Aku sudah mulai lelah. Oh ya, ada apa? Kau terdengar bahagia hmm". Berli tersenyum saat hendak mempertanyakan maksud Lathesia.
"Berli apa kau tahu?. Siang ini aku akan bertemu dengan dia. Kau tahu? Tadi aku baru saja pulang menemui ibunya. Ibunya sudah merestui kami kembali". Lathesia begitu antusias menceritakan apa yang terjadi
Berli yang semula lelah, sontak ia ikut bahagia mendengar kabar baik ini. "Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Aku sangat senang mendengarnya. Semoga semua berjalan dengan lancar ya". Ucap Berli penuh senyuman
__ADS_1
"Terimakasih Berli, kau memang teman baikku. Oh ya, apa malam nanti aku boleh datang ke rumahmu? Aku sangat merindukan berbincang denganmu". Lathesia begitu bersemangat di sebrang telpon
"Tentu saja Lathesia. Datanglah, aku senang kalau kau ingin datang ke rumahku lagi. Aku juga merindukanmu". Balas Berli penuh kelembutan
"Dan jangan lupa, tunjukkan padaku pangeranmu itu ya". Lathesia terkekeh, mengingat ia belum pernah bertemu dengan pujaan hati teman baiknya ini.
"Baiklah. Nanti aku akan memperkenalkan nya padamu". Balas Berli tersenyum
"Ya sudah, kau lanjutkan pekerjaanmu. Maaf jika aku mengganggumu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Dahh.. ". Lathesia berpamitan untuk menutup telpon dengan nada sumringah nya
"Baiklah. Semoga semuanya lancar. Dah.. ". Balas Berli yang ikut bahagia.
"Nak, kau menelpon siapa hm?". Ucap Bu Yuni yang sejak tadi memperhatikan sikap putrinya yang begitu ceria.
"Aku memberitahu Berli tentang pertemuanku dengan Felix. Aku benar benar bahagia ma". Jawab Lathesia bersemangat. Ia memang sudah menutup telpon nya.
"Semoga kebahagiaan selalu bersamamu nak. Ya sudah, sekarang sudah siang, lebih baik kau bersiap. Jangan lupa dandan yang cantik". Ucap Bu Yuni membelai lembut rambut putrinya
"Baiklah ma. Dah.. ". Lathesia melenggang ke kamar mandi untuk bersiap. Ia kembali menyegarkan dirinya setelah melakukan beberapa aktivitas.
__ADS_1
"Syukurlah, putriku sudah kembali seperti sedia kala". Gumam Bu Yuni terharu. Cairan bening itu berhasil lolos dari ufuk matanya.