
"Kau mau pesan apa?". Ucap David penuh senyuman. Mereka kini berada di kantin. Namun kali ini, bukan kantin pabrik yang mereka datangi. Melainkan kantin yang berada di luar. David memang sengaja membawa Berli ke tempat itu, karena ia pikir ini adalah masalah pribadi. Meskipun kantin itu berjarak dekat dengan pabrik.
"Saya ikut saja dengan pesanan Bapak". Balas Berli canggung
"Baiklah, aku akan memesannya". Ucap David sambil melenggang untuk memesan makanan. David ingin membicarakan ini dengan santai.
"Apa Felix tidak akan menemuiku setelah kejadian tadi?. Apa tidak ada penjelasan apapun? Apa mungkin Felix sedang bersama wanita itu?. Wanita itu pasti sangat cantik, dilihat dari arah belakang saja sudah menarik. Jadi wajar jika Felix akan meninggalkanku demi dia". Batin Berli. Ia melihat ke arah luar jendela, mungkin ia berharap Felix akan datang. Kali ini Berli benar-benar sedang dalam fase overthinking.
Selang beberapa menit, David datang dengan dua cangkir teh hangat. Karena memang makanan nya sedang dalam proses pembuatan.
"Ayo, minumlah". Ucap David sambil menyodorkan gelas itu
"Terimakasih banyak Pak". Balas Berli canggung
"Kau ingat? Di luar tempat bekerja aku bukanlah atasan mu. Jadi santai saja". Ucap David penuh senyuman
"I.. Iya baiklah". Ucap Berli tersenyum
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, dimana Felix?. Ia tidak menyusul?". David membuka pembicaraan dengan pertanyaan sensitif bagi Berli
"Tidak, sepertinya Felix masih banyak pekerjaan. Jadi, hari ini dia tidak bisa makan siang bersamaku". Balas Berli. Ia tidak ingin mengumbar masalah pribadinya dengan Felix kepada orang lain. Terlebih kepada David, yang pernah menaruh perasaan padanya.
"Oh begitu. Kalau aku boleh tahu, sebenarnya Felix bekerja di divisi mana?. Aku rasa aku belum pernah melihatnya bekerja, maksudku.. Tidak seperti melihatmu bekerja, aku tidak pernah melihat Felix dimanapun selain saat datang dan pergi". Ucap David. Ia berusaha mencari tahu, meskipun ia sudah tahu yang sebenarnya.
"Maaf Pak, menurutku itu adalah urusan pribadi. Jadi, aku tidak tahu Felix berada di divisi mana. Jika dia ingin memberitahuku, aku akan mendengarnya. jika tidak, aku tidak akan mengusiknya". Balas Berli. Ia mulai merasa risih dengan pertanyaan David. Mungkin karena ia sedang sensitif terhadap Felix hari ini. Sesuai yang David katakan tadi, di luar pekerjaan mereka bukan atasan dan bawahan. Jadi Berli mengatakannya dengan berbeda.
"Sorry, aku tidak bermaksud untuk itu. Tapi kalau aku boleh tahu, apa kau sudah pernah datang ke rumah Felix?. Maksudku.. Apa kau sudah pernah bertemu dengan orangtua nya?. Memberikan kepastian? . Maaf, aku tidak ada maksud apa-apa. Anggap saja aku temanmu, dan kita sedang menceritakan kisah cinta kita masing-masing". Tanya David yang masih bersikeras.
"Untuk itu, aku belum pernah bertemu dengan orangtua Felix, juga datang ke rumahnya. Mungkin seiring berjalannya waktu, kami akan bertemu. Lagipula hubungan kami belum cukup lama, kami masih butuh waktu untuk saling mengenal. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu. Kepercayaan lebih penting bukan?". Balas Berli yang seketika membuat David terdiam
"Silahkan tuan.. ". Tiba-tiba pelayan datang memecah suasana. Ia membawa makanan yang di pesan David.
"Baik, terimaksih". Ucap David. Kali ini moodnya benar-benar turun drastis. Namun ia berusaha mengolah emosinya.
"Apa aku salah bicara? Sepertinya Pak David menjadi tidak mood saat mendengar ucapanku". Batin Berli menatap tajam raut wajah David.
__ADS_1
"Baiklah, kita lanjutkan pembicaraan. Sampai mana tadi?". David kembali memulai meskipun moodnya berantakan.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa Pak David membahas hubunganku dengan Felix?. Sebenarnya, ada apa? Dan hal penting apa yang ingin Pak David bicarakan? Apa Pak David mengetahui sesuatu? ". Kali ini Berli geram, ia sudah tidak ingin basa-basi lagi. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya spontan.
"Baiklah, kau sudah mengerti maksudku. Berli, kau harus tahu kebenarannya. Felix bukanlah pria sembarangan, dia adalah putra Bu Inez. Pemilik pabrik tempat kita bekerja. Aku mengatakan ini, karena jawaban mu sejak tadi menunjukan bahwa kau tidak mengetahui apa-apa. Aku hanya takut kau sedang di permainkan. Orang yang mempunyai banyak harta, bisa melakukan apapun. Terlebih saat ini ia tidak mengatakan siapa dia sebenarnya kepadamu". Ucap David menjelaskan pelan. Namun perkataan nya berhasil membuat Berli terkejut bukan main.
"Apa? Tidak mungkin. Mungkin saja Pak David salah orang, Felix tidak mengatakan itu padaku. Untuk apa dia menyembunyikan identitasnya?. Dia selalu berkata jujur padaku. Dia juga akan melamarku.. ". Berli menyangkal ucapan David dengan mata yang berkaca-kaca. Mengingat kejadian tadi, kenapa David harus mengatakan ini sekarang.
"Maafkan aku Berli, tapi aku mengatakan sejujurnya kepadamu". Balas David.
"Apa Felix memang putra Bu Inez? Kenapa ia menyembunyikan nya dariku. Dan apa benar Felix sedang mempermainkankan perasaanku?. Buktinya sampai saat ini Felix tidak menemuiku setelah kejadian tadi. Apa aku hanya mainan nya di kala bosan?". Pertanyaan itu terus saja berputar di kepala Berli. Hari ini adalah hari yang benar-benar berat baginya
"Maaf Pak, aku harus pergi". Berli tergesa-gesa meninggalkan meja itu tanpa menyentuh makanan nya sedikitpun. Air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Berli, tunggu.. ". Teriak David
"David bodoh, kau menyakitinya. Dia pasti sangat terpukul karena ucapanku". David menggerutuki dirinya sendiri sambil mengacak kasar wajahnya.
__ADS_1
Mungkin saja Berli bisa menerima kenyataan ini jika hubungan mereka sedang baik-baik saja. Namun faktanya, kebenaran datang di saat yang tidak tepat, sehingga Berli tidak mampu menerimanya.