
"Apa kau yakin?. Tidak tidak, Felix tidak mungkin melakukan itu. Tante sudah memperingatkan nya berkali kali untuk pandai dalam memilih wanita. Kau salah Sherly..". Ucap Bu Inez menyangkal tak terima saat Sherly menceritakan semua kejadian yang ia lihat hari ini
"Jadi maksud Tante, aku hanya mengada-ngada, begitu?. Apa Tante sudah tidak percaya lagi kepadaku?". Sherly membalas sangkalan Bu Inez
"Buka begitu Sherly. Tante hanya tidak yakin saja jika mereka benar benar memiliki hubungan. Ya, Tante memang sempat curiga, tetapi.. Untuk hubungan serius sepertinya Tante tidak yakin, bahwa dia wanitanya". Ucqp Bu Inez mencoba memberi pengertian kepada Sherly
"Lagipula, apa kau tahu? Tante menjodohkan kembali Felix dan Lathesia. Selain mereka bisa bersama kembali, ini juga sangat menguntungkan Tante, karena Ayah Lathesia adalah pemilik saham yang besar". Tambah Bu Inez sumringah
"Apa? Setelah Tante menjodohkan Kak Felix dengan Jovanka, sekarang Tante menjodohkan Kak Felix dengan masalalu nya?. Aku benar benar tidak mengerti". Sherly menohok tak percaya
"Selain pasangan yang elegant, Tante ingin hidup mewah terus bergelimang pada putraku". Ucap Bu Inez tersenyum puas
"Lalu bagaimana dengan Jovanka?". Tanya Sherly yang tak habis pikir dengan kelakuan Tante nya
"Tante dan orangtua Jovanka, kamu sepakat membuat kerjasama perusahaan. Dimana, Tante akan menanamkan modal sebanyak lima puluh persen. Dan apa kau tahu? keuntungan nya akan jauh lebih banyak dari sekedar lima puluh persen". Bu Inez sumbringah menceritakan rencana nya
__ADS_1
"Apa Tante yakin?. Lima puluh persen bukanlah perkara sedikit. Memangnya apa jaminan nya bahwa Tante akan mendapat keuntungan sebanyak itu?". Sherly bertanya penuh ragu
"Kami memang belum membicarakan sampai kesana. Tapi Tante percaya bahwa Delli tidak akan berbuat licik. Ah sudahlah, kau hanya perlu datang ke pesta saat Tante mendapat keuntungan itu. Tante akan membuat pesta yang sangat meriah". Bu Inez penuh semangat membayangkan harapan nya akan terwujud
"Lebih baik Tante berhati-hati. Bisa saja itu hanya janji manis yang berujung pahit". Balas Sherly menyangkal
"Ah sudahlah, kau masih anak-anak, tidak perlu ikut campur. Oke?". Balas Bu Inez
"Ya sudahlah, lebih baik aku pergi. Dahh Tan.. ". Sherly melenggang untuk pergi, karena ia sudah muak dengan Bu Inez yang begitu keras kepala.
......................
Hari mulai siang, dan matahari mulai naik.
'Selamat siang Tuan, saya kurir. Ingin mengantar paket untuk atas nama Tuan Felix Fiswana Martin. Apakah Tuan bisa turun sebentar? Saya tidak di perbolehkan masuk oleh petugas'.
__ADS_1
Pesan singkat itu di dapatkan Felix siang ini. Ia heran dan bertanya-tanya. Pasalnya, ia tak memesan paket apapun.
"Apa ini? Aku tidak memesan apapun". Ucap Felix bingung. Namun ia tetap memutuskan untuk turun dan menemui kurir untuk menanyakan hal ini
Felix berjalan di koridor, bergegas untuk turun. Namun tanpa sengaja sepasang mata menatapnya dengan tajam
"Kenapa dia keluar dari arah koridor itu?. Bukankan area itu adalah area Bu Inez?. Kenapa dia sangat berani datang kesana". Gumam David saat melihat Felix berjalan di arah koridor itu. David mulai menyimpan kecurigaan kepadanya.
......................
"Apa ini tidak salah?. Aku tidak memesan apapun". Ucap Felix saat menerima barang yang tertutup rapat dalam kardus kecil itu. Benda itu terbungkus rapi dan tertutup.
"Nama, dan alamatnya sesuai dengan Tuan. Mohon maaf, tetapi saya tidak tahu apa apa Tuan. Saya hanya mengantar saja". Ucap kurir itu sopan
"Baik, pergilah. Ini untukmu. Terimakasih". Ucap Felix sambil memberikan uang tip untuk kurir itu. Kurir itupun bergegas pergi "Terimakasih Tuan". Ucapnya.
__ADS_1
"Siapa yang mengirim ini". Gumam Felix sambil mengamati barang misterius yang berada dalam genggaman nya ini.