
"Romi?". Prianka membelalak saat melihat pria yang masih ia cintai kini menyaksikan pernikahan nya.
"Prianka. Aku tidak percaya ini!". Ucap Romi dengan sorot matanya yang tajam penuh kecewa. Saat ini, di tepat di depan matanya ia melihat wanita yang di cintai nya telah menjadi milik orang lain yang tak lain adalah musuhnya sendiri.
"Ada apa Romi?. Kenapa kau begitu marah?. Bukankah siapa cepat dia yang dapat?". Sahut Bryan penuh kepuasan.
"Apa yang kau lakukan?. Dia yang membunuh ayahmu!. Dia yang memisahkanmu dari ayahmu. Dan saat ini, kau malah menikahinya?". Ucap Romi penuh penekanan. Seolah mendukung, suasana dalam acara itu hampir sunyi. Bagai formalitas, tamu undangan yang hadir pun sangatlah minim. Prianka sama sekali tidak mengundang teman ataupun kerabatnya untuk datang. Entah apa yang sebenarnya terjadi.
"Dan kau?. Bre****k!". Romi melayangkan tinjuan nya tepat di wajah Bryan. Tentu meninggalkan luka disana. Seketika Bryan tersungkur dan orang orang mulai berdatangan untuk melihat kejadian itu.
Prianka terdiam. Ia hanya menangis melihat kekecewaan Romi yang begitu membuncah.
"Hey! Mengapa kau datang membuat kerusuhan hah?. Dasar anak liar. Pergilah dari sini!". Salah satu pria disana berusaha mengusir keberadaan Romi yang telah membuat onar.
"Tunggu pembalasanku Romi!". Dengan langkah tertatih, Bryan berusaha bangkit dengan di bantu oleh beberapa orang disana.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Dan kau, aku benar benar kecewa padamu!". Ucap Romi menatap tajam Bryan dan mengalihkannya pada Prianka. Kini mata penuh cinta itu hilang begitu saja bak di terpa badai kekecewaan.
Romi pergi dengan penuh kekecewaan. Kini, tidak ada lagi cerita cinta di antara mereka. Prianka lebih memilih pria itu. Ya, pria yang sudah jelas adalah musuh dari Romi, kekasihnya dulu. Entah apa yang ada dalam pikiran Prianka.
......................
"Sekarang minum obatmu. Ayo, biar ku bantu". Ucap Berli sambil menyiapkan obat-obatan yang akan ia berikan kepada Felix.
"Terimakasih". Felix menelan obat yang Berli berikan.
__ADS_1
"Bagaimana sekarang? Sudah lebih baik?". Tanya Berli
"Ya, karena kau merawatku". Felix tersenyum menggoda.
"Kau ini". Berli tersipu malu.
"Maafkan aku.. ". Ucap Felix lirih
"Untuk apa?". Seketika Berli terheran.
"Apa kau masih mengingat kejadian kemarin?. Itu pasti membuatmu kecewa kan?". Ucap Felix dengan nada serius.
"Jujur aku kecewa. Tapi ya sudahlah, lagipula kau sudah menjelaskan nya kan. Dan kalau pada akhirnya, perjodohan itu terjadi dan kau akan ber.. ". Ucap Berli yang seketika di hentikam Felix.
"Sttt.. Aku tidak ingin mendengar itu". Ucap Felix menghentikan Berli dengan jari telunjuk nya.
"Kau berjanji?".
"Ya, itu janjiku". Felix tersenyum. Kembali ia mengecup pundak tangan wanita yang begitu ia cintai itu.
Berli tersenyum. Kembali ia mengingat ucapan Lathesia yang mengajaknya makan bersama tempo hari.
"Kau ingat?. Tempo hari temanku mengajak kita untuk makan malam di rumahnya. Kapan kita akan pergi kesana?". Tanya Berli saat Felix sudah melepas genggaman tangan nya.
"Oh ya, aku hampir lupa. Kapan kita di undang lagi?". Tanya Felix
__ADS_1
"Sepertinya kapan saja bisa, dia juga ingin bertemu denganmu. Katanya, ia ingin melihat seberapa tampan dirimu". Balas Berli terkekeh.
"Begitu ya?. Baik, kita akan pergi. Tapi kau jangan marah jika nanti dia terpesona kepadaku". Felix terkekeh seraya mencubit hidung mancung Berli.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan itu. Cukup sekali kau membuatku cemburu. Wle". Balas Berli menjulurkan sedikit lidahnya seolah meledek, ia bermaksud untuk bergurau.
"Baiklah sayang". Felix tertawa renyah melihat tingkah Berli.
"Ozcan belum kembali?. Kemana dia?". Tanya Berli
"Dia sedang ada urusan di luar. Setelah urusannya selesai, dia akan menjemputku. Kenapa? Kau tidak suka aku ada disini?". Balas Felix.
"Ish, tidak sayang. Bukan begitu. Aku hanya bertanya saja. Oh iya, apa ibumu tidak akan mencemaskanmu? Kau sudah mengabarinya?". Tanya Berli. Ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya terhadap kemungkinan Felix yang mungkin adalah putra dari Bu Inez.
"Aku sudah mengabarinya. Lagipula Ibuku pasti sedang berada di luar. Sudahlah". Balas Felix yang jawabannya sama sekali tidak membuat Berli puas.
"Lalu bagaimana dengan Romi?. Dia baik baik saja?". Tambah Berli
"Sejak kecelakaan aku belum bertemu dengan nya. Entahlah, mungkin dia sedang banyak urusan. Lagipula aku tidak ingin membebaninya dengan kecelakaan yang menimpaku". Balas Felix
"Bagaimana rasanya memiliki keluarga?. Memiliki ibu dan adik yang baik?. Sepertinya itu sangat indah. Di bandingkan aku, yang hanya sebatangkara, kau sangat beruntung". Berli termenung.
"Jangan berkata seperti itu sayang. Sekarang kau tidak sendiri lagi, ada aku disini. Sebentar lagi, kita akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Kau akan mempunyai keluarga baru. Suatu saat nanti, kau juga akan menjadi seorang ibu". Ucap Felix yang benar benar membuat Berli tersentuh.
"Rasanya aku tidak bisa bayangkan itu". Ucap Berli penuh haru.
__ADS_1
"Jelas itu akan indah". Balas Felix tersenyum.