
Toktoktok,,
Pagi ini seseorang tengah mengetuk pintu di rumah seorang gadis.
"Felix?".
"Selamat pagi". Felix tersenyum, sembari mengelus kepala Berli.
Berli tersenyum. "Silahkan masuk".
"Kau mau minum teh?".
"Jika calon istriku berkenan". Felix tersenyum. Membuat Berli ikut terkekeh. Berli melenggang menuju dapur.
Tak berselang lama, Berli kembali dengan segelas teh yang ia buat spesial untuk Felix.
"Duduklah". Felix menepuk tempat di sebelah nya, meminta Berli untuk duduk disana.
"Tidak mau". Berli mengerucutkan bibir nya. Ia memang berniat bercanda.
Felix menghela nafas, dan duduk tepat di samping Berli. "Baiklah, kalau begitu"
Berli tertawa kecil dan menantang. "Lalu apa yang akan kau lakukan, hmm?"
"Kalau kau ingin tahu, maka tutup matamu". Felix tersenyum.
"Tidak mau". Berli memangku tangan nya seolah sedang marah.
"Ayo sayang". Felix berbisik lembut, sehingga membuat Berli geli, dan penasaran.
"Ishh Felix. Baiklah, akan aku lakukan". Berli memejamkan mata nya
__ADS_1
Dan tak berselang lama..
"Selesai". Ucap Felix. Berli langsung membuka mata nya.
"Wahh, indah sekali.. ". Berli terkesima melihat kalung berliontin cantik yang begitu mengkilap. Kalung cantik itu kini melingkar di leher nya.
Felix pun ikut bahagia melihatnya. "Kau suka?"
Berli tak berhenti tertawa bahagia seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan. "Tentu saja aku suka. Aku akan menjaga nya dengan baik. Ini untukku kan?".
Felix mengeryitkan sebelah alis nya. "Hmm, bukan. Aku hanya menjadikanmu bahan percobaan kalung nya saja"
Berli cemberut. "Ya sudah, aku kembalikan saja". Berli hampir membuka kalung itu dari leher nya.
Felix terkekeh dan menghentikan nya. "Tentu untukmu sayang, untuk siapa lagi".
"Ishh Felix".
"Kau terlihat sangat cantik". Felix mengelus pipi mulus Berli.
Felix menggoda. "Terimakasih untuk?"
"Untuk kalung dan pujian nya. Aku sangat suka". Balas Berli
"Hanya terimakasih?. Kau tidak ingin memeluk calon suami mu?".
Berli tertawa renyah, dan langsung berhambur ke pelukan Felix. "Terimakasih, sayang"
Felix tersenyum dan membalas pelukan Berli.
......................
__ADS_1
"Aku yakin anak itu adalah anak dari pasangan yang aku celakai bertahun-tahun lalu. Lalu bagaimana jadinya jika mereka tahu kebenaran nya, dan Felix akan membenciku?. Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus menyingkirkan Berli dari anakku". Gumam Bu Inez pagi ini. Ia masih di hantui dengan bayangan masalalu.
"Ma?. Apa yang mama lakukan disana?". Kedatangan Romi membuat Bu Inez terkejut.
"Romi, kau membuat mama terkejut". Ucap Bu Inez. Ia takut Romi mendengar gumamman nya tadi.
Romi menggeleng ."Mama bahkan tidak menutup pintu"
"Mama lupa sayang"
"Baiklah, kalau begitu ayo turun. Kami sudah siap untuk sarapan, hanya mama yang masih disini"
"Baiklah sayang, ayo.. ". Bu Inez melenggang. Memenuhi permintaan Romi.
'Syukurlah Romi tidak mendengar ucapanku. Jika tidak, maka tamatlah aku'. Bu Inez membatin
......................
"Apa yang sebenarnya kau lakukan Lathesia?. Apa kau akan melakukan hal yang sama, seperti apa yang kau lakukan di masalalu?. Apa kau ingin membohongi kami lagi?. Semalam kau mabuk berat, sampai tak bisa berjalan. Dimana pikiranmu!". Pak Yudi benar-benar marah. Pasalnya, tadi malam Lathesia di antar pulang oleh orang asing karena mabuk berat.
"Memang nya kenapa?. Apa masalah nya jika aku seperti ini?. Aku ingin melampiaskan kebencianku kepada Berli!. Dia yang menghancurkan impianku!. Dan sekarang ayah marah kepadaku?. Ini sangatlah tidak adil". Bantah Lathesia.
"Berli tidak menghancurkan apapun!. Kau yang bersalah karena terlalu menginginkan apa yang bukan milikmu!. Kami sudah bersabar dengan sikapmu. Kami menyembuhkan trauma mu. Dan setelah kau sembuh, apa yang kau lakukan?. Kau malah membabi buta dan berniat jahat kepada orang lain!". Bantah Pa Yudi. Bu Yuni hanya menangis kehabisan kata.
"Jadi ayah membela wanita miskin itu?. Wanita gelandangan, sebatangkara, dan tak punya apa-apa. Dia sama sekali tak sebanding denganku. Harusnya ayah tidak membela gadis tak berpendidikan itu. Aku benci ayah, aku benci!".
Plakk,, tamparan keras menyapu pipi indah Lathesia.
Bu Yuni mulai berani
"Jaga mulutmu Lathesia!. Selama ini kami tidak pernah mendidikmu untuk menghina orang lain, dan berkata kurang ajar pada orangtua mu sendiri!. Selama ini aku sudah sabar mengurusmu, memberimu nasihat dengan lembut, tetapi kau masih tidak ingin mendegarkan!. Lupakan Felix, dia tidak lagi memilihmu. Mungkin inilah alasan mengapa ia lebih memilih Berli daripada dirimu!. Berhenti menyalahkan orang lain, karena kau sendiri yang berulah di masalalu!". Ucap Bu Yuni penuh penekanan.
__ADS_1
Ia begitu marah, dan hatinya sangat teriris. Pasalnya, sebelum menikah dengan Pak Yudi dulu, Bu Yuni juga bernasib sama seperti Berli. Tentu ia sangat merasakan apa yang Berli rasakan.
Lathesia terdiam, menatap tajam kedua orangtua nya sambil memegang pipi nya yang sakit. Ia berlari ke kamar, dan mengurung diri di kamar.