DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 258 - Sebuah Syal


__ADS_3

"Sayang, syal milik siapa ini?. Aku tidak pernah melihatmu mengenakan nya?". Felix heran saat mendapati sebuah syal tergeletak di sofa rumah Berli.


Berli heran, dan langsung menghampiri Felix. "Syal?. Apa mungkin ini milik Lathesia?. Ah iya, dia pasti melupakan nya".


Felix mengeryit. "Siapa?".


Berli tersenyum dan menjelaskan. "Tadi malam Lathesia datang kemari. Dia pasti melupakan syal nya. Aku akan mengantarnya nanti"


Felix terkejut. "Lathesia?"


"Iya. Temanku, bukankah aku sudah pernah menceritakan nya kepadamu?"


Felix terpaku. "Ah iya, maaf.. Aku lupa".


"Ah iya, Felix. Aku ingin bertanya sesuatu"


"Katakan sayang"


"Tadi malam Lathesia memintaku untuk menunjukkan fotomu. Lalu aku menunjukkan nya. Tetapi Lathesia terlihat syok. Maksudku, setelah melihat fotomu, raut wajah nya menjadi berubah. Dan ia tiba-tiba berpamitan. Felix, memang nya kau dan Lathesia saling kenal?". Ucap Berli penuh selidik.


Felix mulai salah tingkah. "Boleh aku melihat, wajah Lathesia?".


Berli langsung merogoh ponsel nya untuk menunjukkan gambar Lathesia. "Ini.. "


Felix membelalak. Pantas saja Berli mengatakan hal itu.


"T.. Tidak. Aku tidak mengenalnya"


Berli ragu. "Benarkah?"

__ADS_1


"Iya sayang. Aku tidak mengenalnya. Sudahlah, kita bicarakan yang lain saja"


"Tapi..". Berli ragu.


'Maafkan aku Berli. Aku tidak bisa memberitahumu. Itu adalah sebuah masalalu yang tidak harus di ungkit lagi. Andai saja kita bertemu sejak dulu, aku tidak akan pernah mengenal Lathesia'. Felix membatin.


"Hari ini kita tidak usah berangkat bekerja"


"T.. Tapi, kenapa?"


Felix tersenyum. "Bukankah kemarin, aku sudah bilang bahwa kita akan pergi ke suatu tempat?"


"Iya. Tetapi, aku baru saja mengambil cuti tempo hari kan?. Kau bilang kita akan pergi akhir pekan?". Protes Berli


Felix terkekeh, terkadang Berli lupa bahwa ia adalah bos nya. "Lalu?. Apa masalah nya?. Aku tidak akan memecatmu. Tidak sayang, aku tidak bisa melakukan nya akhri pekan"


Berli tertawa kecil. "Jadi begini, rasanya menjadi kekasih pemilik perusahaan?".


Berli tersipu. "Kau ini"


"Ya sudah, bersiaplah. Kita pergi sekarang"


......................


"Kenapa semua orang malah membela nya!. Ibu, ayah.. Semua!. Aku benci Berli, aku benci!"


Lathesia membanting apa saja yang ada di hadapan nya. Kamar nya begitu porak poranda.


Sementara di bawah :

__ADS_1


"Kau dengar?. Sekarang putri kita justru sudah tidak seperti dulu lagi. Dia begitu terobsesi pada apa yang bukan miliknya". Ucap Pak Yudi saat mendengar kegaduhan di kamar Lathesia.


Bu Yuni merenung. "Aku juga tidak menyangka, dia bisa sampai seperti ini. Ini salahku, aku terlalu banyak membela nya"


Pak Yudi hanya menghela nafas kasar. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk putri sulung nya ini.


......................


"Kau suka?"


Berli tak henti nya mengunyah. "Heem, ini enak sekali"


Felix tersenyum melihatnya. "Kalau begitu habiskan"


Mereka kini memang tengah berada di sebuah tempat makan. Sebelum beraktivitas, Felix memutuskan untuk mengajak Berli sarapan terlebih dahulu.


"Berli, aku ingin mengatakan sesuatu". Ucap Felix di sela kegiatan makan nya.


"Hmm, katakan saja.. "


Felix menghela nafas. "Berli, aku mempunyai urusan bisnis di Turki. Kau tahu kan?. Kami menginvestasikan sebagian perusahaan kami disana. Jadi, aku harus pergi dalam waktu dekat".


Berli mengernyit, ada sedikit sedih di hatinya. "Tapi kenapa mendadak sekali?. Lalu berapa lama kau akan pergi?".


"Tidak lama sayang, hanya satu atau dua pekan. Mungkin jika memang keadaan nya sibuk, aku bisa menghabiskan waktu dua pekan lebih. Tapi tidak, sebisa mungkin aku akan meminimalisir waktu. Kita harus mengurus pernikahan kita, bukan?". Felix mengedipkan sebelah mata nya di ujung kalimat.


"Begitu ya. Baiklah, lalu kapan kau akan berangkat?"


"Aku akan mengatur waktu nya. Atau kau ingin ikut?". Tanya Felix penuh selidik.

__ADS_1


Berli pun terkejut dengan ucapan Felix. "Tidak, tidak. Aku tidak ingin merepotkan mu. Lagipula ini kan urusan bisnis, kau harus fokus pada tujuan mu. Kita kan masih bisa berkabar lewat telepon. Pokoknya, kau harus selalu mengabariku kalau kau sedang senggang ya". Berli tersenyum, mendukung.


Felix tertawa kecil, mendengar perhatian yang Berli berikan untuk nya. "Baiklah".


__ADS_2