
"Felix, sebenarnya mobil ini milik siapa?. Aku tidak pernah melihatmu mengendarai nya. Kau tidak menyewa mobil ini hanya untuk menjemputku kan?". Ucap Berli yang masih heran dengan Felix yang tiba-tiba menjemputnya dengan mobil mewah ini.
Felix terkekeh mendengar pertanyaan Berli yang begitu khawatir.
"Sayang, sesampai nya di rumahku nanti, kau akan tahu tanpa aku harus menjelaskan nya.".
'Apakah Felix benar-benar putra Bu Inez, pemilik perusahaan?. Apakah yang di ucapkan Pak Davi tempo hari adalah benar?'. Berli membatin.
"Lalu, bagaimana jika orangtua mu tidak menyukaiku?". Ucap Berli yang seketika membuat Felix menoleh ke arah nya.
"Why?. Kenapa kau bertanya seperti itu?". Ucap Felix lembut. Ucapan Berli mengingatkan nya pada keresahan nya. Ia juga sempat takut bahwa Bu Inez tidak akan menyetujui hubungan mereka.
"Tidak, aku hanya takut saja. Felix, aku ini..". Ucap Berli yang hendak mengatakan ketidakpantasan nya. Namun Felix langsung menghentikan nya. Karena ia tahu, Berli akan merasa tidak pantas saat bahkan belum sampai di kediaman nya.
"Ssstt.. Aku tidak ingin mendengar kecemasan mu sayang. Sudah, jangan berpikiran negatif. Ibuku pasti akan sangat menyukaimu. Apalagi, malam ini kau sangat cantik". Ucap Felix tersenyum, berusaha mengembalikan suasana.
"Kau selalu saja bisa menggodaku. Jadi, maksudmu, jika hari-hari seperti biasa aku tidak cantik?". Ucap Berli mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Hmmm. Bagaimana yaa.. ". Ucap Felix menggoda. Dengan ekspresi bingung, namun ia hanya bermaksud bergurau.
"Benar kan ku bilang.. ". Berli kembali cemberut.
"Tentu tidak. Calon istriku selalu cantik setiap harinya. Tetapi malam ini cantik nya melampaui batas". Ucap Felix yang membuat Berli tersipu malu.
"Kau ini". Berli tersenyum, mengalihkan pandangan nya ke luar jendela, karena pipi nya mungkin sudah berubah menjadi pipi tomat.
......................
"Waaahh aku jadi tidak sabar ingin berkenalan dengan kakak ipar. Pasti ia sangat cantik.. ". Ucap Romi yang entah mengapa begitu bahagia saat mendengar kabar bahwa Felix tengah menjemput Berli. Sejak tadi ia duduk di meja makan dekat dapur, dan sedikit membantu Bi Esin menyiapkan makan malam.
"Romi, sedang apa kau disitu?". Ucap Bu Inez yang tiba-tiba datang, dan melihat pemandangan tidak seperti biasanya.
"Mama, aku tengah membantu Bi Esin menyiapkan makan malam. Kakak sebentar lagi pasti datang". Ucap Romi begitu antusias
"Kenapa kau begitu antusias sayang, memang nya pacar kakak mu begitu spesial?". Ucap Bu Inez tersenyum, pura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Iyaa Ma. Kak Berli itu sangat baik, dia kan yang menolongku saat kecelakaan". Ucap Romi. Yang membuat Bu Inez kembali berpikir.
"Berli?". Gumam Bu Inez bertanya. Namun pikiran nya masih berputar.
......................
"Kita sudah sampai.. ". Ucap Felix saat mobil nya berhenti di depan rumah mewah bertingkat itu.
Berli yang menyaksikan dalam mobil saja, ia begitu tidak menyangka sampai-sampai ia lupa untuk turun.
"Ayo tuan putri..". Entah kapan Felix turun dan membukakan pintu untuk Berli. Sementara Berli masih tidak menyangka.
"Fe.. Lix, ini rumahmu?". Ucap Berli terbata.
"Ini rumah milik orangtua ku sayang.. Bukan milikku". Ucap Felix tersenyum melihat tatapan heran Berli.
"Felix, tapi.. ". Berli kembali ciut saat melihat rumah megah di depan nya ini. Ingin rasa nya ia pulang ke rumah kecil nya itu.
__ADS_1
"Ayo.. ". Ucap Felix yang langsung menggenggam erat tangan kiri Berli. Berli seketika menoleh saat tangan nya di genggam dengan erat nya.
Berli tersenyum dan mulai melangkahkan kaki nya mengikuti jejak Felix. Meskipun kemegahan itu membuat nya bungkam.