DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 254 - Berbeda


__ADS_3

Hari begitu cepat berlalu. Siang menjadi malam, dan malam menjadi siang, seolah hanya sepersekian detik berlalu.


"Dugaanku benar. Ini pasti masalah serius, makan nya Felix tidak kembali menemuiku". Ucap Berli saat ia melihat ke luar jendela rumah nya. Yang terlihat hanyalah suasana malam yang sepi.


Berli menghela nafas panjang, sembari menyimpan ponsel ke meja "Aku akan menanyakan nya besok".


Ia melenggang, hendak pergi ke kamar nya. Namun, langkah nya terhenti saat ia mendengar suara ketukan di ambang pintu.


Ia langsung menghampiri, dan membuka nya.


"Lathesia..!". Tawa bahagia Berli saat kini sahabat nya datang mengunjungi nya. Ia menyambut nya dengan pelukan.


"Berli, aku sangat merindukanmu". Lathesia membalas pelukan Berli, namun tentu lain di hati nya.


"Ayo, masuk.. ". Berli mempersilahkan tamu nya ini untuk masuk.


Lathesia menduduki sofa yang biasa ia duduki di kediaman Berli.


"Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan minuman untukmu". Berli melenggang ke dapur.


Lathesia mencegah. "Ah, Berli.. Tidak usah repot-repot".


Berli tersenyum. "Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak merasa di repotkan".


'Suatu saat nanti, kau bahkan akan lupa bagaimana caranya tersenyum'. Lathesia membatin penuh kebencian.


......................


"Felix, kau mau kemana?". Ucap Bu Inez saat melihat Felix begitu bergegas.


"Aku masih ada urusan di kantor polisi ma. Untuk sementara, biarkan Prianka tinggal disini. Setelah semua nya selesai, kita akan membawanya pulang". Ucap Felix. Ia mengerti apa yang di maksud ibunya.


"Baiklah, pergilah. Ah iya, mama harap kau tidak akan pulang terlalu lama malam ini. Kau tahu kan?. Kita akan makan malam bersama".


"Baiklah.. "

__ADS_1


......................


"Silahkan, di minum.. ". Ucap Berli sembari menyodorkan segelas teh hangat dan cemilan ringan untuk Lathesia.


Lathesia tersenyum. "Terimakasih..".


"Oh ya, bagaimana kabar ibu dan ayah mu?. Sudah lama kami tidak bertemu".


"Mereka baik-baik saja Berli. Mungkin hanya aku yang tidak baik-baik saja". Balas Lathesia. Mulai membuka pembicaraan.


Berli mengernyit. "Ada apa Lathesia?. Ceritakan padaku".


Lathesia memasang mimik wajah sedih. "Berli, sebenarnya aku malu jika. harus menceritakan ini padamu terus. Tetapi, aku benar-benar tidak kuat".


"Tidak apa Lathesia sayang, ayo.. Ceritakan saja padaku. Aku akan mendengarkanmu".


"Berli, kau tahu kan.. Tentang kekasihku dulu?. Yang sampai saat ini aku cintai. Dia memilih wanita lain, dan menolakku. Bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan". Lathesia mulai menetesakan air mata buaya nya.


Berli mengelus pundak Lathesia. "Tapi.. Darimana kau tahu semua itu Lathesia?".


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia membawa seorang wanita ke dalam mobilnya, tempo hari".


"Apa lagi yang harus aku lakukan Berli?. Rasa nya aku ingin menghancurkan wanita itu!"


"Lathesia, tenanglah.. Semua masalah tidak akan selesai dengan emosi. Sekarang, tenangkan dirimu. Ayo minum..". Ucap Berli sambil menyodorkan gelas teh itu.


Lathesia mulai tenang, ia menyeka air matanya. Dan kini tak lagi menangis.


"Sudah tenang?".


Lathesia tersenyum. "Terimakasih Berli..".


Berli mengelus lengan Lathesia penuh perhatian. "Lalu bagaimana?. Kau masih ingin bercerita?. Aku tidak akan memaksamu. Kalau kau belum siap, kau tidak perlu menceritakan nya"


"Aku akan menceritakan nya sekarang Berli".

__ADS_1


Lathesia menatap ke arah Berli.


"Lalu bagaimana menurutmu?. Apa yang harus aku lakukan?"


"Lathesia, maaf jika aku lancang. Menurutku, apa lebih baik kau melupakan nya saja?. Lathesia, aku tahu persis, melupakan memang tidak semudah itu. Tetapi, jika harus seperti ini terus, apakah kau tidak lelah?. Di luar sana pasti ada laki-laku yang lebih baik dari nya". Ujar Berli penuh kelembutan.


Dalam hati Lathesia, begitu membara mendengar ucapan Berli. Ia malah semakin membencinya.


'Aku membencimu! Sangat membencimu!'. Batin Lathesia sembari menatap mata Berli


Lathesia mulai merespon ucapan Berli, setelah beberapa saat terdiam. "Aku tahu Berli. Tetapi, aku tidak bisa melakukan semua itu. Terlebih, dulu kita hampir menikah".


Berli menghela nafas, dan kembali bicara lembut "Baiklah, lalu sekarang apa yang akan kau lakukan Lathesia?. Apa kau akan terus memperjuangkan sesuatu yang bukan milikmu?"


Mendegar ucapan Berli, ia begitu membara. Ia mengepal tangan kanan nya. Kebencian nya begitu membuncah. Terlebih, wanita itu ada di hadapan nya


Namun ia berusaha menyembunyikam amarah nya


"Oh ya, tetapi ada kabar baik Berli"


Berli sumringah "Oh ya, kabar baik apa?"


Lathesia menyeringai. "Kau tahu?, wanita yang bersama nya sekarang adalah wanita yang tidak sepadan. Maksudku, dari segi pendidikan, kedudukan dan segalanya sangat berbeda jauh. Dan apa kau tahu?, setelah aku menemui ibunya, ibunya juga ternyata sama sekali tak menyukai wanita itu. Ibunya bahkan, ingin memisahkan mereka berdua. Kami justru sedang menyusun rencana untuk memisahka mereka"


Berli tertunduk. Ia memikirkan perasaan wanita itu. Ia merasa, apakah ia juga akan di perlakukan demikian oleh keluarga Felix?. Pasalnya, cerita Lathesia sama seperti perbandingan ia dan Felix.


Tanpa ia sadari, Lathesia justru sedang membicarakan dirinya.


Dalam hati Lathesia sangat puas.


"Berli, ada apa. Kenapa kau diam?".


Berli tersenyum "Tidak apa Lathesia. Hmm, Lathesia.. Apakah tidak baik, memisahkan sebuah pasangan?. Maksudku, mungkin.. Itu akan melukai hati mereka berdua".


Lathesia tak terima. "Kau tahu? Aku sama sekali tidak peduli Berli. Aku hanya berusaha membuat diriku bahagia. Apakah itu salah?"

__ADS_1


Berli membalas nya dengan tutur kata yang halus "Tidak Lathesia, tidak ada yang salah untuk membuat dirimu bahagia. Tetapi, aku pikir caramu ini salah. Lathesia, mintalah pasangan terbaik kepada yang maha kuasa. Niscaya, kau akan mendapatkan nya tanpa harus membuat dirimu berdosa. Lagipula, jika kau berhasil. Apakah ada jaminan kau akan di bahagiakan oleh orang yang sudah tak mencintaimu lagi?. Aku mohon, pikirkan baik-baik."


Lathesia terdiam. Selintas ia berpikir, bahwa ucapan Berli ada benar nya. Tetapi kebencian tetaplah kebencian.


__ADS_2