
"Felix Memegang penuh tanggung jawab perusahaan ma?". Ucap Felix terkejut mendengar permintaan ibunya
"Iya sayang, kau mau kan nak?". Jawab Bu Inez penuh permohonan
"Tapi... Felix tidak yakin ma. Bagaimana jika Felix membagi tanggung jawab ini dengan Romi?". Ucap Felix keberatan
"Tidak bisa sayang". Jawab Bu Inez tersenyum
"Tapi kenapa ma?". Tanya Felix penuh selidik
"Adikmu masih harus menjalani pendidikan. Kuliah nya belum selesai kan, dia tidak bisa di bebankan dengan tanggung jawab besar seperti ini". Ucap Bu Inez menjelaskan
"Dengar nak, mama juga akan membagi rata harta peninggalan ayahmu jika Romi sudah menyelesaikan kuliah nya. Romi akan mama beri tanggung jawab mengelola perusahaan yang paman Bram kelola sekarang. Itu juga masib perusahaan ayahmu, kalian punya hak kan". Tambah Bu Inez
"Baiklah jika itu mau mama". Jawab Felix
Sebenarnya Felix keberatan atas permintaan ibunya. Karena ia masih ingin menyembunyikan identitasnya. Namun apa daya, permintaan ibunya ini benar benar serius
"Secepatnya jika mama sudah pulih, mama akan membuat peresmian pemindahan kekuasaan. Kau mau kan sayang?". Ucap Bu Inez penuh harap
"Tapi apa itu perlu ma?, maksud Felix kenapa harus di adakan seperti itu?". Tanya Felix lagi lagi hal ini membuatnya keberatan
"Iya nak, agar semua karyawan tahu bahwa sekarang bos nya sudah berganti menjadi tuan muda yang tampan". Ucap Bu Inez penuh senyuman
'Berarti tidak lama lagi identitasku akan segera terbongkar. Apa Berli masih ingin dekat denganku jika dia tahu bahwa aku bos nya?'. Batin Felix
"Nakk, kau melamun?". Tanya Bu Inez membuyarkan lamunan Felix
"Baiklah ma, kita bicarakan hal ini nanti. Sekarang mama istirahat ya, jangan terlalu memikirkan hal ini. Ada Felix disini". Ucap Felix yang entah harus menjawab apa
"Baiklah nak, mama akan beristirahat. Terimakasih ya sayang". Ucap Bu Inez kembali membaringkan tubuhnya
"Baiklah, baik baik ya ma. Nanti Felix akan kembali". Ucap Felix berlalu pergi ke kamarnya dengan pikirannya yang masih kalut
......................
__ADS_1
"Ternyata Bu Inez sangat baik ya pak. Saya biasanya hanya bertegur sapa seperlunya saja di kantor . Tetapi ternyata ia jauh lebih ramah daripada yang terlihat". Ucap Aditya kagum.
"Tentu saja. Bu Inez sangatlah baik, aku menjadikan nya panutan. Meskipun dia hidup bergelimang harta, tetapi dia tidak pernah sombong". Jawab David terkagum.
Mereka memang masih berada di mobil pribadi milik David. David hendak mengantarkan Aditya kerumah nya. Karena hari ini Aditya tidak membawa motor miliknya.
"Benar sekali pak". Jawab Aditya tersenyum kagum
"Sepertinya sebentar lagi Bu Inez akan mengadakan peresmian terkait pemindah tanganan kekuasaannya. Kita harus mempersiapkan itu dari sekarang. Aku harap kau selalu siap Aditya". Ucap David di tengah kegiatan menyetirnya
"Tentu saya akan selalu siap kapanpun pak". Jawab Aditya sigap
"Baiklah, terimakasih kau selalu bisa di andalkan". Ucap David
"Kau terlalu banyak mengucapkan terimakasih pak. Justru seharusnya saya yang harus mengucapkan banyak terimakasih". Jawab Aditya tersenyum
"Kenapa begitu?". Tanya David heran
"Baru kali ini saya mendapat banyak terimakasih atas pekerjaan saya pak. Sebelumnya, saya tidak bisa bekerja dengan baik dan tidak bekerja dalam jangka waktu yang lama, karena kondisi tangan saya yang sewaktu waktu sering mati rasa, jadi saya sering di pecat". Jawab Aditya
"Sudah saya lalukan pak, tapi entah kenapa akhir akhir ini sering kambuh". Jawab Aditya
"Tidak apa apa Aditya, kau tidak perlu cemas bahwa aku akan memecatmu. Aku mengerti keadaanmu. Lagipula itu penyakitmu sejak kecil kan?, tidak mungkin aku memaksamu untuk selalu baik baik saja". Jawab David bijak
"Terimakasih pak". Ucap Aditya tersenyum dan di balas David
"Bagaimana kuliahmu Aditya?". Tanya David.
Aditya memang menjalani kuliah sambil bekerja. Saat orang lain seusianya fokus kuliah, ia memang memutuskan untuk bekerja sambil kuliah untuk menanggung hidupnya
"Semua baik baik saja pak". Jawab Aditya
......................
"Romi.... Kenapa kau tidak memberitahuku jika tante Inez di bawa ke rumah sakit lagi?". Ucap Sherly dengan nada khas nya. Ia memang baru saja sampai di rumah Bu Inez dan langsung di sambut oleh Romi
__ADS_1
"Kau kemana saja?. Mana aku ingat dengamu". Ucap Romi terkekeh
"Kau ini, dimana tante sekarang?". Tanya Sherly
"Dia sedang beristirahat, alangkah baik nya kau tidak mengganggu. Bisa bisa ibuku pingsan mendengar suaramu". Ucap Romi terkekeh
"Sini kau". Balas Sherly sambil memukul pelan lengan Romi
"Sudah sudah, naik saja ke atas haha". Balas Romi menghindari serangan Sherly
"Coba jika kau mengatakan nya sejak tadi". Ucap Sherly berlalu ke kamar Bu Inez
......................
'Bagaimana ini, aku harus mengelola pabrik mama. Sedangkan keinginanku untuk mendapatkan Berli belum terwujud'. Batin Felix kepada dirinya sendiri sambil menatap ke luar jendela kamarnya
"Haiii bosss". Ucap seorang wanita mengejutkan Felix
"Sherly?". Sontak Felix menoleh
Sherly memang hendak ke kamar Bu Inez, namun saat ia melewati kamar Felix, ia melihat Felix sedang asyik melamun di dekat jendela
"Tentu saja. Bagaimama kabarmu?". Tanya Sherly memasuki kamar Felix
"Beginilah". Jawab Felix singkat
"Bagaimana kabar pabrik? Huh aku merindukan membuat masalah dengan wanita so alim itu haha". Ucap Sherly yang asyik duduk di kasur Felix
"Siapa?". Tanya Felix penuh selidik
"Hah aku malas menyebut namanya, tapi karena kau bertanya ya aku jawab. Namanya Berliani. Hah aku benci dia, nama nya saja berarti Berlian, tapi sebenarnya dia itu kere dan so alim haha". Ucap Sherly puas tanpa mengetahui kedekatan Berli dan Felix
'Jadi wanita yang selalu bermasalah dengan Sherly adalah Berli?'. Batin Felix. Ia terkejut mendengar penuturan Sherly
"Apa itu benar?". Ucap Felix yang tidak percaya dengan Sherly. Faktanya Berli memang benar benar baik dan bukan so alim. Rasaya Felix ingin marah, namun ia takut Sherly curiga
__ADS_1
"Ya, kau lihat saja nanti disana. Ah sudahlah aku malas membahasnya, aku pergi bayy". Ucap Sherly berlalu pergi ke kamar Bu Inez