
"Felix, bagaimana aku harus membuktikan padamu bahwa aku benar-benar tidak melakukan hal kotor itu?. Apakah kau tidak akan pernah mempercayaiku lagi untuk selamanya?. Apa pernikahan kita hanyalah akan menjadi mimpi?". Berli masih kalut. Ia tak berhenti menatap kenangan manis yang pernah ia buat bersama Felix.
"Felix, saat ini kau hanya satu-satu nya yang ku punya. Aku tidak memiliki keluarga, lalu.. Impianku untuk membangun keluarga bersamamu, kini sudah lenyap". Ucap Berli penuh putus asa.
Semetara disana, Felix juga merasakan perasaan yang sama. Semakin ia berusaha membenci Berli, ia semakin mengingat kenangan manis saat bersamanya.
"Bagaimana akhir semua ini?. Kemana hidup ini akan membawaku". Felix mengacak rambut nya, dengan penuh frustasi.
......................
"Aku harus menemukan cara. Aku harus mendapatkan bukti yang kuat bahwa kami di fitnah. Aku yakin, seseorang telah merecanakan hal keji ini". Gumam David. Ia memiliki rencana untuk memecahkan masalah ini.
......................
"Kau tahu?. Wanita penyihir itu sepertinya tengah merencanakan sesuatu". Ucap sang kakak kepada adiknya.
"Apa itu, kak?".
"Dia melakukan hal yang sangat rendah dan menjijikkan. Dia memfitnah seorang wanita yang menjadi calon menantu nya"
"Wanita itu memang tidak ada habisnya. Jika ia belum lenyap dari dunia ini, maka ia akan terus berbuat keji".
"Kau benar"
"Kita akan membalasnya. Sekaligus"
"Maksudmu, kak?"
Sang kakak menyeringai "Kita lihat saja nanti"
......................
Pagi mulai menyapa, kembali Berli membangun semangat untuk kembali bekerja. Suasana hati tak boleh mempengaruhi tanggungjawab nya dalam bekerja.
"Tidak apa, mungkin ini hanya ujian sebelum pernikahan. Aku yakin, suatu saat nanti kami akan kembali bersama, dan bahagia. Aku harus kuat, dan tidak boleh menyerah". Berli memberi semangat pada dirinya melalui pantulan cermin. Ia sudah rapi mengenakan seragam yang selalu ia kenakan. Ia hendak pergi bekerja.
Kembali perasaan nya berdesir, saat mengingat kejadian dulu. Felix selalu menunggunya setiap pagi, mereka bahkan selalu sarapan bersama. Ia hanya menatap kursi dan meja kosong itu. Semua seperti mimpi, hilang begitu saja.
__ADS_1
Berli menghela nafas berat, dan tersenyum.
Ia berjalan menuju ujung jalan, untuk menaiki angkutan umum. Namun, sebuah pertemuan terjadi.
"Berli?".
"Bu Yuni?".
Seketika Bu Yuni memeluk Berli, ia merasa bersalah atas apa yang putrinya katakan kemarin.
Berli sedikit heran dengan sikap Bu Yuni. Namun ia berpikir biasa saja, ia membalas pelukan itu.
"Nak, kau akan pergi bekerja?". Ucap Bu Yuni penuh kasih sayang.
"Iya. Aku hendak pergi bekerja. Oh ya, Ibu darimana?. Kebetulan sekali kita bertemu disini". Balas Berli sumringah, seolah tak ada beban di hati nya.
"Aku baru saja pulang dari pasar. Nak kau pergi sendirian?"
Berli tersenyum tipis. "Iya, aku pergi sendiri".
Bu Yuni berusaha mencari tahu, ia memang tak bisa mengatakan langsung bahwa putrinya sedang berusaha merusak hubungan mereka. "Nak, dimana kekasihmu?. Bukankah kau selalu bersama nya?"
"Oh ya. Ia sudah pergi lebih pagi. Ia harus bekerja lembur sehingga kami pergi sendiri-sendiri. Tapi tidak masalah, aku masih bisa pergi dengan angkutan umum".
"Nak, jaga dirimu baik-baik ya. Semoga semua urusan mu lancar"
"Aamiin. Terimakasih banyak bu. Oh ya, sampaikan salam ku untuk Pak Yudi dan Lathesia ya."
"Baiklah sayang". Bu Yuni mengangguk.
'Syukurlah hubungan Felix dan Berli baik-baik saja'. Bu Yuni membatin.
......................
Setelah menyelesaikan perbincangan nya dengan Bu Yuni, Berli langsung menaiki angkutan umum yang akan mengantarkan nya bekerja. Nasib baik masih berpihak pada Berli, karena saat ia baru saja duduk di angkutan umum, tiba tiba hujan turun.
"Syukurlah, aku sudah disini. Jika tidak, bajuku pasti akan basah kuyup". Gumam Berli.
__ADS_1
Jalanan macet, karena banjir mulai melanda beberapa titik. Ia mulai khawatir akan terlambat untuk datang.
"Pak, apa macet nya masih panjang?". Ucap Berli kepada sopir angkutan itu. Ia mulai resah.
"Iya. Sepertinya masih panjang karena ada beberapa jalanan yang banjir". Balas sopir.
"Hufftt. Sepertinya aku akan terlambat". Gumam Berli.
Akhirnya mobil itu bisa maju perlahan-lahan, kemacetan sudah mulai terurai. Tetapi, satu kendala kembali terjadi. Mobil angkutan yang Berli tumpangi, mogok.
"Ya ampun, mobil nya mogok". Ucap sang sopir.
Berli mulai resah, namun ia langsung mengambil langkah seribu.
"Pak, Aku turun disini saja. Ini ongkosnya". Berli bergegas turun untuk mencari angkutan lain. Padahal, di luar masih hujan dan ia sama sekali tak membawa payung ataupun jaket.
"Semoga aku tak terlambat". Gumam Berli. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekeliling untuk mencari mobil angkutan lain. Baju nya mulai basah kuyup.
Setelah menunggu beberapa menit, Berli sama sekali tak menemukan mobil angkutan. Sejak tadi hanya berlalu lalang mobil pribadi.
Berli memeluk tubuh nya yang mulai kedinginan. "Ya ampun, hujan nya semakin deras. Aku sama sekali belum mendapatkan angkutan".
Lalu lintas sudah kembali lancar, namun angkutan itu belum juga muncul.
Siapa sangka, seseorang melintas namun sama sekali tak mempedulikan Berli.
"Felix". Gumam Berli. Ia berharap Felix akan mengajak nya, namun Felix hanya melintas tanpa menghiraukan Berli yang sejak tadi dalam hujan.
Dari kejauhan, Felix memang sudah mengetahui keberadaan Berli. Namun lagi-lagi, ego berhasil mengalahkan nya. Ia tak bisa mengajak Berli bersamanya. Ia sudah terlanjur kecewa. Ia berusaha untuk menganggap Berli tidak pernah ada dalam hidup nya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa. Mungkin saat ini kau lebih membutuhkan pria itu, daripada aku". Gumam Felix sembari menyetir mobil nya. Ia menambah kecepatan mobil nya.
Berli menatap mobil Felix yang berlalu begitu saja. Berli memaklumi hal itu.
'Apa aku sudah sangat asing bagimu Felix?'. Batin Berli.
Ia menyeka air mata nya yang kembali berhasil lolos.
__ADS_1
Akhirnya, tak lama angkutan itu datang. Berli langsung menaikinya. Tentu dalam keadaan basah kuyup, ia tetap harus pergi bekerja.