DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 225 - Dugaan Yang Benar


__ADS_3

"Berli, terimaksih sudah mendengar keluh kesahku. Dan juga mengajariku memasak. Maaf ya, aku sudah merepotkanmu". Ucap Lathesia yang hendak berpamitan.


"Terimakasih kembali. Tidak, aku tidak merasa di repotkan. Aku senang sekali kau datang ke rumahku yang sederhana ini. Lain kali, aku akan mengajarimu memasak lagi. Itupun jika kau mau.. ". Berli terkekeh.


"Tentu saja aku mau! Aku mau, aku mau". Lathesia begitu bersemangat.


"Baiklah, kalau begitu lain kali aku akan mengajarimu memasak yang lainnya.. ". Berli tersenyum


"Baiklah. Kalau begitu, aku pamit pulang. Aku sudah lelah sekali, hari ini aku terlalu banyak berkelana". Ucap Lathesia terkekeh.


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Janga lupa, datang lagi ya". Ucap Berli.


"Iya, kau juga. Jangan lupa, akhir pekan nanti datang ke rumahku. Oke?". Ucap Lathesia semangat.


"Baiklah". Berli tersenyum mengangguk.


"Dahh Berli.. ". Lathesia melambaikan tangan nya saat ia sudah duduk di kursi kemudi.


"Dahh.. ". Berli membalas dengan penuh senyuman.


Tak berselang lama setelah Lathesia pergi, Felix datang dengan motor andalan yang sering ia gunakan.


"Haii.. Kau sedang menungguku?". Ucap Felix mengerlingkan sebelah matanya, saat ia melihat Berli di halaman seolah sedang menunggunya.


"Kau terlalu percaya diri tuan. Temanku baru saja pergi, aku sama sekali tidak menunggumu". Balas Berli meledek sambil menjulurkan sedikit lidahnya.

__ADS_1


"Ohh begitu, jadi kekasihku sudah tidak menungguku lagi?". Ucap Felix yang turun dari motor dan mengajak kepala Berli.


"Ihhh Felix, jangan seperti itu". Gumam Berli yang membuat Felix gemas.


"Aku cubit pipimu yaa". Felix mencubit pelan pipi mulus Berli. Mereka tertawa gemas.


"Ya sudah, ayo masuk. Aku buatkan minuman". Ucap Berli


"Apapun untuk tuan putri". Balas Felix terkekeh.


"Kau ini.". Berli mencubit lengan Felix hingga membuat Felix meringis. Namun mereka tetap tersenyum.


Felix masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya, ia datang untuk memastikan dugaan nya. Namun, ternyata Lathesia sudah pergi saat ia datang.


"Teh hangat rendah gula kesukaanmu". Berli menyodorkan segelah teh hangat rendah gula yang ia buat. Memang Felix tidak begitu menyukai teh manis yang terlalu pekat.


"Kau bilang akan datang nanti malam, tapi ini masih sore. Kenapa kau sudah datang?". Tanya Berli yang bergabung duduk di samping Felix.


"Memangnya kenapa?. Apa aku sudah tidak boleh datang kemari di sore hari?". Balas Felix yang tujuan nya bergurau.


"Tidak, tidak. Bukan itu maksudku, aku hanya merasa heran saja. Lagipula kau datang sekarang pun, temanku sudah pergi. Padahal, sebenarnya ia ingin berkenalan denganmu". Ucap Berli menjelaskan.


"Begitu ya. Memang nya dia siapa?". Ucap Felix yang sebenarnya penasaran atas dugaan nya.


"Menurutku dia wanita yang malang. Felix apa ku tahu, sampai saat ini ia masih menginginkan pria di masalalu nya. Meskipun, sebenarnya ia yang sudah membatalkan pertunangan nya sendiri. Saat ini, ia begitu menyesal atas perbuatan nya. Aku tidak tahu bagaimana cara membantunya. Satu sisi, ia yang bersalah. Di sisi lain, aku merasa iba dengan apa yang ia jalani. Ia di manfaatkan pria hidung belang setelah memutus hubungan dengan kekasihnya. Jika aku menjadi dia, mungkin aku juga akan menyesal seumur hidupku. Entahlah, aku hanya ingin ia mendapatkan yang terbaik apapun itu". Balas Berli yang menceritakan sedikit ringkasan kisah Lathesia.

__ADS_1


Perkataan Berli, membuat Felix yakin bahwa ia sedang menceritakan kisah cinta yang pahit antara dirinya dengan Lathesia. Jantung Felix berdebar tak karuan. Entah apa yang akan ia lakukan, ia hanya tidak ingin kehilangan wanita baik yang ada di hadapan nya ini.


"Sayang, kau menceritakan siapa?. K.. Kenapa temanmu begitu. Maksudku, sejak kapan kau mempunyai teman seperti dia?. Setahuku, kau selalu berteman dengan orang baik, ya.. Seperti Laura misalnya". Ucap Felix terbata. Ia semakin mencari tahu lebih dalam.


"Namanya Lathesia. Dia temanku.. ". Balas Berli sambil memikirkan Lathesia.


Felix membelalak tak percaya. Kini, wanita yang ia cintai begitu dekat dengan masalalu nya. Ia hanya takut, kedekatan Berli dan Lathesia akan mempengaruhi hubungannya dengan Berli.


"Apakah dia yang mengundang kita untuk makan malam akhir pekan nanti?". Felix semakin tak percaya.


"Iya. Lathesia mengundang kita. Kita akan pergi kan?". Jawab Berli kembali bersemangat


"Itu.. Entahlah". Balas Felix menunduk tak percaya. Ia tak ingin menunjukkan wajah kalutnya pada Berli.


"Sayang, kau kenapa?. Kenapa kau terlihat cemas?". Tanya Berli yang memperhatikan raut wajah Berli.


"Tidak, aku baik baik saja". Balas Felix tersenyum. Menutupi kecemasan di hatinya.


"Kau yakin?". Berli bertanya menyelidik.


"Iya sayang. Aku baik baik saja". Felix merekahkan senyuman di bibirnya agar Berli percaya. Berli pun ikut tersenyum meskipun merasa bingung.


"Aku akan mengikatmu secepatnya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi hanya karena masalalu ku dengan Lathesia. Tidak akan ku biarkan pergi". Felix membatin. tiba tiba saja ia menggenggam erat lengan Berli.


"Sayang, ada apa?. Kenapa aneh sekali?". Berli kembali heran saat tiba tiba Felix menggenggam tangan nya.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku hanya merindukanmu". Balas Felix mengalihkan. Rasanya ia belum siap untuk mengakui semua itu kepada Berli.


"Kau ini". Berli tersenyum saat tiba-tiba kekasihnya itu bermanja padanya, meskipun dalam keadaan belum benar-benar pulih.


__ADS_2