
"Ini sudah jam pulang, tetapi Felix tidak menemuiku, sebenarnya dia dimana?". Gumam Berli yang sejak tadi menunggu di tempat biasa ia menunggu Felix. Namun yang di tunggu, tak kunjung datang.
"Kak Berli, sedang apa disini?". Ucap Aditya yang datang dengan motor matic nya.
"Aditya?. Aku sedang menunggu Felix, tetapi sepertinya ia sudah pergi sejak tadi". Ucap Berli.
"Kalau begitu, ayo. Aku akan mengantar kakak pulang". Ucap Aditya menawarkan tumpangan.
"Ah tidak usah Aditya. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku tidak yakin Felix benar-benar sudah pergi dari sini". Ucap Berli.
"Kak, kak Felix pergi sejak tadi untuk mengurus sebuah urusan. Mungkin saat ini, ia belum kembali dan lupa mengabari kakak. Sebaiknya, kakak pulang terlebih dahulu, setelah itu kakak bisa menghubungi nya di rumah. Tidak baik jika kakak menunggu disini terlalu lama". Ucap Aditya.
"Tetapi, urusan apa? Sampai sampai ia belum kembali". Ucap Berli heran
"Aku tidak tahu kak. Ayo, ku antar pulang". Ucap Aditya Kembali.
"Baiklah Aditya, terimakasih". Ucap Berli yang kini setuju untuk menumpangi motor Aditya.
......................
"Ini sudah sore. Berli pasti sudah pulang. Dengan siapa dia pulang". Gumam Felix yang masih setia berada disana. Sedangkan sejak tadi Bu Inez sudah pulang ke rumah nya.
"Tuan, kami masih menganalisasi data-data terkait. Ini mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. Maka dari itu, tuan bisa kembali lagi besok". Ucap seorang karyawan di bank itu.
"Baiklah, kabari aku jika ada perkembangan. Aku akan kembali besok". Pamit Felix sambil melenggang. Ia bergegas untuk kembali ke pabrik, menjemput Berli.
"Semoga saja Berli masih ada disana". Gumam Felix sambil bergegas.
......................
"Rom, kau siap?". Ucap Neel yang berusaha untuk kesuksesan Romi. Kali ini, mereka bertiga sedang menjalankan misi nya.
"Aku sudah siap. Semua alat perekam sudah ada di jaketku. Kalian, doakan aku". Ucap Romi.
"Itu pasti. Semoga berhasil Rom". Sahut Adelard.
__ADS_1
Romi berencana untuk menyamar menjadi kurir yang mengantar barang ke rumah yang Bryan tinggali. Jelas, ini adalah cara untuk bisa menemui Prianka, dan mendengar semua penjelasan nya.
Romi sudah siap dengan jaket, helm, masker, yang menutupi wajah nya dan tak lupa peralatan lain nya layaknya kurir. Tak lupa, ia mamasang alat perekam di tas nya, untuk berjaga jaga jika ada bukti yang bisa ia dapatkan. Tentu ia tidak ingin melewatkan apapun.
Toktotktok,,
Romi mengetuk pintu rumah itu. Sementara Neel dan Adelard mengawasi nya dari kejauhan.
"Permisi..". Ucap Romi. Sebisa mungkin ia mengubah tone suara nya.
"Prianka?. Apa kau tidak dengar ada orang di luar?. Cepat bukakan pintu!". Teriak Bryan dengan nada kasar nya. Sementara ia hanya duduk di kursi dengan kaki naik ke atas meja.
Prianka tak menjawab, namun ia datang ke ambang pintu dengan perasaan kesal. Tentu Bryan memperlakukan nya layaknya pembantu.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?". Ucap Prianka ramah kepada kurir itu.
"Iya nona, saya hendak mengantarkan paket ke alamat ini. Benar ini dengan Nona Prianka?". Ucap Romi yang tengah menyamar. Tentu perkataan nya membuat Prianka heran. Ia tidak pernah memesan barang apapun. Jangankan memesan barang, untuk makan pun, ia hanya memakan makanan sisa Bryan.
"Maaf pak, tetapi saya tidak memesan apapun. Mungkin bapak salah alamat". Balas Prianka menolak dengan santun. Ia mengedarkan pandangan nya ke arah dalam rumah, takut Bryan mendengar nya dan memukulinya lagi
"Mungkinkah saya salah alamat?. Jika berkenan, apakah Nona bersedia melihatnya terlebih dahulu?. Kebetulan barang nya besar, dan masih di simpan di sepeda motor saya. Mungkin setelah melihatnya, Nona akan mengingat bahwa itu barang milik Nona". Ucap Romi yang sebenarnya bertujuan untuk mengajak Prianka menjauh dari rumah nya. Agar ia bisa mempertanyakan semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Mereka berdua melenggang ke arah luar. Sementara Prianka masih bingung.
Sesampainya mereka di belakang rumah, Romi berhenti melangkah. Ia rasa, tempat ini cukup aman karena ada dinding beton yang menghalangi pandangan ke arah rumah Bryan.
"Pak, sebenarnya ada apa?. Barang apa yang bapak maksud?". Ucap Prianka yang melihat sekeliling, dan tak menemukan keberadaan motor kurir itu.
Romi membuka helm dan masker yang ia kenakan. Prianka membelalak saat melihat wajah sebenarnya kurir itu.
"Romi?". Ucap Prianka membelalak tak menyangka. Ia semakin khawatir jika Bryan akan menghajarnya lagi karena menemui Romi.
"Ini aku, kau masih mengingatku kan?. Sekarang, aku ingin mempertanyakan semua yang ingin aku ketahui. Prianka, jawablah jujur pertanyaan ku. Apa pernikahan ini adalah keinginanmu?". Ucap Romi menatap lekat Prianka.
Sementara Prianka mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Romi, pulanglah. Untuk apa kau disini?. Disini berbahaya. Bagaimana jika anak buah Bryan memukulimu?". Ucap Prianka khawatir. Rasanya ia belum siap untuk berterus terang. Pasalnya, ia sudah merasa tidak pantas untuk Romi.
"Aku tidak peduli!. Aku hanya ingin kau berkata sejujurnya kepadaku. Bryan yang memaksamu kan?". Ucap Romi penuh penekanan.
"Tidak, ini keinginanku". Ucap Prianka menunduk berbohong.
"Kau berbohong. Lihat mataku Prianka". Ucap Romi sambil menuntun dagu Prianka untuk menatap mata nya. Tentu hal ini membuat Prianka tak berdaya.
"Romi, jika aku berkata jujurpun untuk apa?. Tidak ada yang tersisa di antara kita. Aku bukanlah gadis suci seperti dulu lagi. Mungkin ini sudah menjadi takdirku, untuk hidup di tempat yang tidak aku inginkan. Romi, pulanglah. Kau masih punya masa depan yang cerah, kau masih bisa mencari seorang gadis yang masih terjaga. Jangan bersamaku". Ucap Prianka yang air matanya berhasil lolos.
"Jika ku berkata tidak ada yang tersisa di antara kita, lalu bagaimana denganku?. Aku mencemaskanmu. Aku tahu tempat ini adalah neraka untukmu. Jadi, pulanglah bersamaku. Aku tidak peduli dengan apapun keadaanmu sekarang". Ucap Romi yang membuat Prianka bergetar.
"Tidak Romi, semua tidak semudah itu. Andai aku bisa melakukan nya, aku akan melakukan nya sepanjang hari. Jika aku pergi, dia akan mengumbar aib ku kepada dunia. Mungkin ini sudah menjadi takdirku, aku menyerah Romi. Sekarang pulanglah Rom.. ". Ucap Prianka begitu rapuh dengan bekas memar di wajahnya. Wajah nya muram tanpa senyuman seperti dulu kala.
"Apa yang telah Bryan perbuat padamu?". Ucap Romi penuh selidik, ia mulai bergetar.
"Dia mengambil kehormatanku, dan dia mengancam untuk menyebarkan nya jika aku tidak menuruti keinginan nya termasuk menikah dengan nya. Romi, aku sudah berusaha tetapi aku lelah, aku menyerah. Aku tidak pantas untukmu. Pergilah, jangan ingat aku lagi". Ucap Prianka menunduk meneteskan air mata.
"Maaf jika aku gagal melindungimu". Seketika Romi memeluk Prianka yang menangis tersedu-sedu. Ia merasa bersalah karena gagal melindunginya.
"Aku tidak peduli tentang bagaimana keadaanmu sekarang. Aku akan selalu mencintaimu. Dan bagiku kau wanita yang sangat istimewa di atas segala kekuranganmu. Aku akan membantumu keluar dari tempat ini, bagaimanapun keadaan nya. Aku akan memperjuangkan kita, dan semua mimpi kita yang telah di hancurkan olehnya. Kau jangan takut, aku akan selalu bersamamu. Maafkan aku Prianka..". Ucap Romi sambil memeluk erat Prianka dan meneteskan air mata.
Dengan bergetar, Prianka memeluk kembali Romi sambil menangis sejadinya. Ia melepaskan semua kesedihan dan kerinduan yang ia pendam selama ini. Ia merasa beruntung, di cintai seorang pria yang tak mempedulikan kekurangan nya.
"Maafkan aku, dan terimakasih Romi.. ". Ucap Prianka lirih di balik tangis nya.
Setelah beberapa menit, Romi melepas pelukan nya dan menghapus air mata Prianka. "Prianka. Dengarkan aku, kau harus keluar dari tempat ini apapun yang terjadi. Ambil lah ponsel ini, rekam semua perkataan Bryan yang sekiranya bisa menjadi bukti laporan ke polisi. Kabari aku di saat situasi aman. Sementara itu, aku akan berusaha menghapus rekaman Bryan tentangmu. Aku tidak terima jika kau berada disini selamanya". Ucap Romi yang berusaha tegar. Ia memberikan solusi kepada Prianka.
"Romi, terimakasih banyak.. ". Ucap Prianka terharu. Ia menerima pemberian Romi.
"Jaga dirimu baik-baik. Aku berjanji, kau akan keluar dari tempat ini secepatnya". Ucap Romi mengelus lembut rambut Prianka. Ia memperlakukan Prianka sangat lembut.
"Romi, pulanglah. Aku takut Bryan curiga jika aku berada di luar terlalu lama. Aku takut kau dalam bahaya. Pergilah Romi.. ". Ucap Prianka penuh kecemasan.
"Aku akan merindukanmu". Ucap Romi sambil menggenggam erat kedua tangan Prianka dan mengecup pundak tangan nya. Ia melenggang pergi.
__ADS_1
Prianka tersenyum. Ia merasa begitu di cintai dan di hormati oleh Romi. Tentu ia tidak akan membuat perjuangan Romi sia-sia. Ia akan berusaha lagi untuk keluar dari neraka ini.
Prianka melambaikan tangan, tersenyum, sambil sesekali menyeka air matanya. Rasanya ia menemukam kehidupan nya kembali bersama Romi.