
"Nak. Bagaimana di perusahaan hari ini?. Semua berjalan lancar kan?". Ucap Bu Inez yang kini tengah berada di kamar putra sulung nya itu.
Hari memang sudah malam, sehingga Felix sudah berada di kamarnya untuk beristirahat. Seperti biasa, ketika Bu Inez mendatangi Felix ke kamarnya, tentu ia mempunyai tujuan tertentu.
"Semua baik baik saja. Hanya saja aku belum menemukan penyebab masalah perusahaan kita kemarin". Balas Felix. Mengingat tempo hari perusahaan selalu bermasalah dengan klien
"Itu bukan masalah besar. Kita punya banyak cabang perusahaan. Oh dan ya, mama sudah sepakat untuk bekerjasama dengan perusahaan Bu Delli, ibunya Jovanka. Mama akan mulai berinvestasi nanti. Bagaimana menurutmu sayang?". Ucap Bu Inez penuh senyuman
"Apa?. Kenapa mama mengambil keputusan dengan tergesa-gesa seperti ini?". Seketika Felix beranjak dari tempat duduk nya
"Memangnya kenapa sayang? Apa yang salah?". Bantah Bu Inez yang ikut beranjak. Ia tak mengerti mengapa kedua putranya begitu tak menyetujui keputusannya
"Mama melalukan ini semata mata karena aku harus menikah dengan wanita itu kan?". Ucap Felix penuh selidik. Ia begitu marah dengan keputusan ibunya. Namun ia masih bisa menahan nya. Ia hanya menunjukan nada tak suka.
"Memangnya apa salah nya?. Siapa wanita yang sebanding dengan Jovanka? Tidak ada kan?. Bahkan kau sama sekali belum mempunyai pasangan". Ucap Bu Inez penuh penekanan. Perkataan nya benar benar membuat Felix berguruh. Manik matanya menatap tajam ke arah ibunya.
"Tidak ada yang sebanding dengan Jovanka. Tetapi, aku menemukan wanita yang jauh lebih baik dari Jovanka. Jadi alangkah baiknya mama tidak perlu mendesakku untuk menerima Jovanka. Dan untuk masalah perusahaan, batalkan segera perjanjian itu. Kita tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain". Balas Felix sambil bergegas meninggalkan ibunya di kamar. Ia tidak ingin emosinya semakin membuncah.
__ADS_1
"Kenapa kedua putraku selalu saja membantahku!". Gerutu Bu Inez penuh kesal sambil mengacak kasar wajah nya.
......................
"Terkadang hidup memang harus berjalan tanpa keinginan kita". Ucap Felix lugas. Ia kini tengah berada di bangku taman belakang rumahnya.
"Kak?". Ucap Romi yang sontak menoleh
"Bukankah seperti itu Rom?". Felix ikut bergabung menemani sang adik di bangku taman. Ia melihat kecemasan yang tertaut di wajah adiknya.
"Apa yang terjadi? Katakan padaku". Ucap Felix dingin namun ia begitu mengerti apa yang sedang adik nya alami
"Prianka pergi entah kemana. Aku hanya khawatir padanya". Romi membalas dengan pikiran yang benar benar kalut
"Kau bertengkar dengannya?". Tanya Felix
"Tidak kak. Semua baik baik saja. Tetangganya memberitahuku bahwa tempo hari, ia melihat Prianka pergi bersama seorang pria. Aku tidak tahu siapa pria yang di maksud". Romi benar benar merasa kacau.
__ADS_1
"Kau mencintainya, dan dia mencintaimu. Kau percaya kan padanya?. Tetaplah berpikir positif padanya. Aku yakin dia tidak akan mengkhianatimu". Felix menepis pundak Romi untuk menenangkan pikirannya. Ia tahu persis apa yang sedang adiknya pikirkan.
"Aku tak habis pikir, kakak selalu bisa berpikir positif saat bahkan kakak pernah di khianati wanita yang kakak cintai. Aku bahkan belum tentu bisa seperti itu". Romi terharu dengan kedewasaan kakaknya yang selalu berpikir positif dan percaya pada seseorang yang di cintainya
"Cinta adalah tentang kepercayaan". Felix tersenyum tipis
Romi hanya tersenyum. Ia merasa sedikit lega saat mendengar motivasi dari sang kakak. "Oh ya kak. Mengenai Bu Delli, sepertinya mama sudah mulai tergiur dengan tawaran nya". Romi seketika mengubah topik pembicaraan, karena ia merasa ini lebih penting
"Bahkan mama menerima perjanjian itu tanpa bertanya padaku". Balas Felix menghela nafas kasar
"Apa? Bagaimana semua itu bisa terjadi?". Romi tersentak mendengar penuturan Felix
"Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Aku merasa bahwa ini hanyalah akal akalan mereka untuk memanfaatkan kita". Ucap Felix penuh pemikiran
"Persis seperti yang aku pikirkan. Aku juga berpikir kenapa Bu Delli begitu mendesak mama. Sejak awal aku memang sudah curiga padanya". Balas Romi
"Kita yang akan membantalkan nya". Balas Felix penuh tekad
__ADS_1