
"Assalamualaikum". Ucap Neel mengetuk pintu. Ia kini sudah sampai di kediaman sahabatnya yang tak lain adalah Romi
"Aku pikir mungkin mereka sedang tidak berada di rumah. Sejak tadi tidak ada yang menyahut". Ucap Adelard
"Kalau begitu aku akan menelponnya, mungkin saja mereka memang sedang tidak di rumah". Ucap Neel dan langsung menyambar ponsel di saku celananya
Berkali kali Neel menekan tombol itu, namun sama sekali tak mendapat jawaban, yang ada hanyalah pemberitahuan bahwa ponsel Romi sedang tidak aktif
"Ponsel nya tidak aktif". Ucap Neel
"Apa mungkin Romi sedang bersama Prianka? Apa sebaiknya kita hubungi Prianka?". Ucap Adelard sambil mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya
"Iya, coba kau hubungi". Ucap Neel yang masih setia menunggu jawaban dari ponsel Adelard
"Tidak di angkat". Ucap Adelard dengan raut wajah bimbang
__ADS_1
"Lalu bagaimana?". Ucap Neel bingung
"Kak Felix, ya.... Kita harus menghubungi kak Felix". Ucap Adelard yang kembali membuka ponselnya, kali ini mereka mendapat jawaban dari pertanyaan nya
Kringg,,,, ponsel Felix berbunyi, dengan sigap ia langsung mengangkatnya karena ia takut itu adalah panggilan penting dari ibunya
"Kak, apa Romi bersamamu? Dimana kalian sekarang? kami berada di depan rumah, tetapi sepertinya di rumah tidak ada siapa siapa". Ucap Adelard di sebrang telepon
"Iya, kami berada di rumah sakit. Romi mengalami kecelakaan sejak kemarin, ia sedang menjalani perawatan". Jawab Felix tanpa basa basi
Setelah berbincang dengan Felix mereka langsung memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit
"Neel ayo". Ucap Adelard bergegas pergi
"Baiklah". Ucap Neel dan ikut bergegas
__ADS_1
......................
"Romi, aku disini". Ucap Prianka menatap iba wajah tampan Romi yang di penuhi luka. Ia menahan tangis yang begitu mendalam saat melihat pria yang masih di cintainya penuh luka. Ingin sekali rasanya ia menangis sejadi jadinya, namun ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang. Hanya sapuan jari halus mendarat di pipi Romi yang bisa Prianka berikan
"Maafkan aku Romi. Aku sudah berfikir buruk tentangmu. Aku ingin kau sembuh, aku masih mencintaimu, aku ingin kau bersamaku lagi". Ucap Prianka menangis. Ia masih setia menatap pria yang terbaring lemah menutup mata itu
Sementara Bu Inez yang sejak tadi menatap keberadaan dua insan itu, hanya mampu menangis di balik jendela. Ia merasakan perasaan yang begitu sakit saat melihat Romi dari kejauhan, ia bahkan belum mampu melihat keadaan anaknya dari dekat. Ia masih benar benar terluka
"Apa kau tidak merindukan aku? Setidaknya bukalah matamu Romi". Ucap Prianka yang sudah benar benar tidak tahan melawan tangisnya. Ia menangis sejadi jadinya di atas pergelangan tangan Romi
Suara elektrokardiogram yang menjadi monitor degup jantung pria itu benar benar membuat situasi semakin sayup. Alat infus, perban, mata indah yang tertutup itu benar benar membuat Prianka tak bisa menahan ketakutan dalam dirinya. Ia hanya takut akan di tinggalkan kembali oleh orang orang yang di cintainya
"Kau tidak akan pergi Romi. Kau sudah berjanji akan tetap bersamaku bukan? Maka sekarang, bukalah matamu. Aku disini, aku merindukanmu. Aku merindukan saat saat kita bersama. Aku ingin kau membuka matamu sekarang Romi.... Aku takut". Ucap Prianka yang masih menangis
Tiiiiittttt,,,,,,,,,
__ADS_1
Suara elektrokardiogram tiba tiba berbunyi dengan begitu kerasnya, kali ini ketakutan Prianka benar benar terjadi. Sontak Prianka langsung menoleh ke arah benda itu