
Setelah berjam-jam berada di hutan itu untuk mencari jalan pulang..
"Bagaimana ini? Dimana aku sebenarnya? Disini bahkan tidak ada sinyal. Mobiku entah dimana. Inggrid dan anak anaknya memang sama sama picik. Aku tidak menduga ini akan terjadi. Ternyata mereka sudah membuat keluargaku terancam.". Ucap Bu Inez yang masih berjalan bingung di hutan itu. Sinyal ponsel kini tak dapat di jangkau du tempat itu. Mobil miliknya, entah berada dimana saat ini. Ia benar benar bingung
"Jika aku menelpon Felix atau Romi.. Jawaban apa yang harus ku beri jika mereka bertanya tentang keberadaanku di tempat ini?. Tidak. Mereka tidak boleh mengetahui hal ini. Tetapi rasanya aku sudah kehabisan tenaga. Mereka benar benar membuatku lemah". Bu Inez resah tak karuan. Ia menyandarkan dirinya di pohon rindang untuk mengembalikan tenaganya yang sudah mulai terkuras
......................
"Romi. Adelard.. ". Teriak Prianka di ujung koridor membuat langkah kedua pria tampan itu terhenti
"Prianka?". Gumam Romi tersenyum melihat Prianka datang dari kejauhan
"Hai.. ". Sapa Adelard tersenyum
"Romi kau darimana? Aku mencarimu sejak tadi". Ucap Prianka mengerucutkan bibirnya
"Tadi aku mengerjakan tugas karena sudah mencapai deadline, lalu aku menemui Adelard di aula". Jawab Romi lembut
"Baiklah.. Jadi kalian sudah mulai mengabaikanku". Rengek Prianka
"Bukan begitu sayang.. ". Romi tertawa renyah melihat kelakuan Prianka yang kekanak-kanakan. Ia mengusap lembut rambut Prianka
__ADS_1
"Ekhmm.. ". Adelard memecahkan suasana kasmaran itu
"Lagipula jika kau ikut, Romi pasti tidak akan bisa mengerjakan tugasnya dengan baik". Tambah Adelard tertawa renyah
"Adelard.. Kau inii.. ". Ucap Prianka tertawa renyah
"Ngomong- ngomong kemana Neel? Aku tidak melihatnya". Ucap Prianka mengedarkan pandangannya ke sekeliling
"Neel tidak masuk. Ia sedang ada urusan keluarga". Jawab Romi
"Apa itu benar? Tetapi bukankah hari ini ada ujian?". Ucap Prianka heran dengan ketidakhadiran Neel
"Oh ya. Aku lupa memberitahumu Rom, aku sempat keluar tadi. Aku melihat mobil ibumu berada di simpang jalan arah rumah Neel. Apa yang ibumu lakukan disana?". Tanya Adelard yang mengingat kejadian tadi. Ia memang sempat keluar kampus untuk membeli sesuatu
"Arah rumah Neel? Untuk apa mama kesana?. Entahlah, aku tidak tahu. Setahuku tadi pagi mama pergi begitu terburu buru". Jawab Romi yang malah bingung
"Ya sudah. Bagaimana kalau kita ke kantin? Aku sudah lapar Romi.. ". Ucap Prianka mencairkan suasana bingung itu
"Baiklah.. Ayo". Ucap Romi tersenyum tipis. Akhirnya mereka bertiga memilih untuk pergi ke kantin
......................
__ADS_1
"Aditya, apa kau bisa membawakan berkas yang berada di loker arsip sana? Aku membutuhkan nya.. Aku sedang tanggung". Ucap David meminta bantuan Aditya. Karena memang saat ini David sedang sibuk dengan komputernya
"Baiklah pak. Akan saya ambilkan". Jawab Aditya yang segera beranjak
Bruggg,,,
Berkas yang Aditya ambil justru terjatuh dan tergeletak begitu saja di lantai
"Aditya. Kau baik baik saja?". Sontak David beranjak
"Saya baik baik saja.. ". Ucap Aditya yang memegang erat tangan kanan nya. Ia merasakan sakit yang begitu dalam disana, sehingga ia tak mampu menahan beban bahkan hanya seberat berkas sekalipun
"Duduklah.. ". Ucap David yang sontak membawa Aditya kembali ke tempatnya
"Ada apa dengan tangan mu? Ku lihat kau sering sekali mengalami ini Aditya. Periksakan hal ini pada dokter". Ucap David cemas
"Tidak perlu Pak. Ini sudah biasa terjadi. Lagipula saya sudah bosan mengobatinya. Tangan kanan dan kiri saya terkadang tak berfungsi dengan baik untuk di gunakan bersamaan. Ini hanya terjadi beberapa saat, setelah itu saya akan kembali sepertu semula". Jawab Aditya tersenyum
"Apa kau yakin semua akan baik baik saja?". Tanya David
"Iya. Saya yakin". Jawab Aditya sambil memijat kecil tangan nya
__ADS_1