DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 156 - Keberadaan Neel


__ADS_3

"Apa? Jadi maksud mu perusahaanku terancam kebangkrutan?". Bu Inez terkejut bukan main saat David mengatakan semuanya di ruang tamu rumahnya


"Saya benar benar minta maaf Bu. Tetapi semua ini benar benar sudah tak terkendali. Modal yang kemarin Pak Bram tanamkan, sama sekali tak kembali. Kita rugi delapan puluh persen". Ujar David


"Perusahaanku bisa hancur jika seperti ini terus". Bu Inez mengacak wajahnya penuh frustasi


"Lalu selama ini apa yang Felix kerjakan di perusahaan? Mengapa ia seperti tak mengetahui masalah apapun". Bu Inez membatin. Pasalnya, ia tak pernah mendengar keluhan apapun dari Felix


"Apa mungkin kita harus meminta bantuan Pak Bram lagi? Mungkin kali ini berbeda". Ucap David segan memberi saran


"Kau benar. Aku harus meminta Bram untuk turun tangan di perusahaanku ini. Sebelum semuanya terlambat. Ya.. ". Ucap Bu Inez penuh pemikiran


"Baiklah. Sementara itu saya dan Aditya akan bekerja semaksmial mungkin. Hari ini mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya izin pamit Bu.. ". Ucap David berpamitan setelah selesai berbincang


"Baiklah. Terimakasih nak David". Jawab Bu Inez


David berpamitan pulang dan bergegas untuk menemui Berli di rumahnya


"Ya. Aku rasa aku harus menemui Lian. Pekerjaan benar benar sudah membuatku suntuk". Gumam David sambil melajukan kemudi mobilnya. Tersirat senyum bahagia di ujung bibirnya


......................


"Tunggu. Bukankah itu Neel? Sedang apa dia disini?". Ucap Romi yang terkejut saat mendapati keberadaan sahabatnya di pinggir jalan yang ia lalui bersama Adelard dan Prianka. Saat ini mereka bertiga tengah berada di dalam. mobil milik Adelard.

__ADS_1


"Kau benar. Tetapi siapa pria yang bersamanya? Bukankah ia sedang ikut urusan keluarga?". Adelard ikut heran dan menatap ke arah Neel


Sedangkan diluar sana, Neel tengah berbincang dengan seorang Pria yang Adelard dan Romi tidak kenali.


"Bisa saja itu salah satu keluarga Neel kan? Sudahlah, kita tidak perlu mengganggunya". Sahut Prianka


"Iya. Kau benar. Mungkin saja..". Gumam Romi yang masih belum percaya


"Jadi bagaimana? Kita lanjutkan perjalanan nya?". Tanya Adelard yang memegang kemudi


"Iya. Kita pergi saja". Jawab Prianka


......................


"Affedersiniz efendim, bir şey unutmuşsunuz gibi görünüyor". Ucap seorang pria di belakang Felix.


(Translate: Permisi Pak, sepertinya anda melupakan sesuatu)


Seketika Felix menoleh ke arah sumber suara


"Ozcan.. Kau disini?". Ucap Felix sumringah


"Kita bertemu lagi tampan haha". Ucap Ozcan merangkul pundak Felix

__ADS_1


"Oh ya. Kau datang kesini tetapi membungkus makanan nya? Untuk siapa? Mengapa tidak memakan nya disini?". Tambah Ozcan


"Tidak. Ini bukan untukku. Aku membelinya untuk seseorang. Kau sendiri sedang apa disini? Maksudku.. Apa kau tidak bosan memakan makanan Turki terus?". Jawab Felix terkekeh


"Tidak. Aku hanya ingin membandingkan saja makanan khas Turki disini dengan yang asli di Negara nya. Ternyata tidak jauh berbeda. Tetapi ini sangat kebetulan. Kita bertemu lagi boy". Ucap Ozcan tertawa renyah menepuk pundak Felix


"evet tesadüf belki de bu yakışıklıyı hala özleyen sensin". Jawab Felix tertawa renyah menopang dagu


(Translate : Ya kebetulan. Mungkin kau yang masih merindukan pria tampan ini)


"Ternyata kau masih bisa berbahasa Turki ya". Ucap Ozcan tertawa renyah mendengar ucapan Felix


"Tentu saja. Kau yang mengajarkanku bukan?". Jawab Felix


"Lalu kapan kau akan ke Turki lagi? Aku jadi ingat masa masa saat kau tinggal bersamaku. Apa kau tidak merindukan sarışın çocuk irem hahah". Ucap Ozcan tertawa


(Translate : Irem si bocah pirang). Wanita yang pernah menjadi teman Felix di Turki dulu


"Haha.. Sudah. Ini tidak akan ada akhirnya. Oh ya Ozcan, menginaplah di rumahku malam nanti jika kau senggang. Bukankah kita harus mengobrol semalaman? Haha. Kemarin kau begitu terburu buru. Dan sekarang aku yang terburu buru. Jadi sepertinya aku harus berpamitan". Ucap Felix


"Oh ya. Aku melihat kau begitu terburu buru. Aku yakin kau akan menemui seorang gadis yang cantik. Pergilah. Jangan buat dia menunggu". Ucap Ozcan tersenyum


"Baiklah. Kabari aku jika kau akan datang malam nanti". Ucap Felix sambil berlalu pergi untuk menemui Berli di rumahnya dengan buah tangan yang ia bawa

__ADS_1


__ADS_2