
"Sudah reda, aku pulang ya.. ". Ucap Felix hendak berpamitan. Sejak tadi, ia memang belum beranjak dari rumah Berli karena rintik hujan yang lumayan banyak akan membasahi pakaiannya.
"Baiklah, hati-hati ya.. ". Ucap Berli yang mengantar Felix keluar.
"Kau masih ingin aku disini?". Melihat raut wajah Berli yang kurang sumringah, Felix mengerti apa yang ada di pikiran nya.
"Hmm. Ya.. Sebenarnya aku masih ingin berbincang banyak denganmu. Tetapi tidak, ini sudah malam. Kau harus beristirahat. Lagipula apa kata orang jika kau ada disini sampai larut malam". Balas Berli. Seolah belum puas mengobrol sejak tadi.
"Sabar ya, nanti jika sudah tepat waktunya, aku bahkan akan enggan jauh darimu. Sekarang kita belum sah. Aku tidak ingin kau di pandang buruk oleh orang di sekitar mu. Kita lanjutkan perbincangan ini besok". Felix terkekeh menggoda. Ia mengatakan hal bucin seolah membayangkan bagaimana jika mereka sudah halal.
"Kau ini". Lagi-lagi Berli tersenyum mendengar rayuan itu.
"Ya sudah, kau tidurlah. Besok aku akan menjemputmu. Kita berangkat bekerja bersama-sama". Ucap Felix lembut, mengusap pelan kepala Berli yang seolah menjadi candu tangan nya.
"Baiklah. Hati-hati sayang". Berli tersenyum penuh perhatian.
Felix berlalu pergi, rasanya berat sekali meninggalkan rumah kekasihnya itu. Namun, ia harus tetap menjaga batasan.
"Aku beruntung memilikinya". Gumam Berli menatap punggung Felix yang mulai hilang dari pandangan nya.
__ADS_1
......................
"Dimana Felix?. Kamar nya kosong". Ucap Bu Inez heran saat mendapati kamar putranya kosong tak berpenghuni.
"Sedang apa ma?". Sahut Romi yang tanpa sengaja melihat ibunya di kamar sang kakak. Ia melihat pintu kamar itu terbuka.
"Ah, Romi. Tidak, mama hanya ingin menemui kakakmu. Tetapi ternyata ia tidak ada. Entah kemana kakamu pergi". Ucap Bu Inez. Yang semula ingin berbincang dengan Felix mengenai perusahaan.
"Mungkin kakak sedang di luar. Sebentar lagi pasti kakak pulang". Ucap Romi.
"Iya nak. Bagaimana kabarmu?. Kau baik-baik saja?". Tanya Bu Inez, setelah akhir akhir ini perang dingin. Ia berusaha mendekati putranya kembali. Tentu pertanyaan Bu Inez berdasar, ia melihat wajah Romi yang sedikit muram.
"Kau yakin?". Ucap Bu Inez menyelidik. Romi hanya terpaku. Berperang dengan isi kepalanya.
Belum sempat menjawab pertanyaan Ibunya, Felix tiba-tiba datang dan membuyarkan suasana.
"Mama, Romi. Sedang apa kalian disini?". Tanya Felix heran saat baru saja datang ke kamarnya.
"Nak, kau sudah pulang?". Ucap Bu Inez tersenyum sambil berjalan ke arah Felix menapakkan kaki.
__ADS_1
"Iya ma". Balas Felix, seperti biasa.
"Mama mencarimu kak. Syukurlah kau sudah datang". Sahut Romi tersenyum menyambut.
"Begitu ya. Ada apa ma?". Tanya Felix ke arah Ibunya.
Ibunya terdiam, lalu melirik ke arah Romi.
"Aku masih ada urusan. Aku pamit ke kamar". Ucap Romu berpamitan. Ia tahu, ibunya pasti akan membicarakan hal penting. Dan ia merasa tidak perlu mengikuti campuri urusan tersebut.
"Felix, Mama ingin bertanya. Selama ini, apa yang kau lakukan di perusahaan?. Apa kau tahu? perusahaan kita sedang di ambang kehacuran. Apa kau tahu tentang hal ini?". Tanya Bu Inez penuh selidik.
"Apa maksud mama?. Perusahaan kita baik baik saja. Aku bekerja seperti semestinya. Aku memantau arus perusahaan, dan semua laporan keuangan, atau data perusahaan, itu baik-baik saja. Setiap bulan aku menerima laporan keuangan yang akurat dari Aditya". Balas Felix heran. Memang ia tidak pernah menemukan kejanggalan di perusahaan.
"Apa?. Lalu yang David katakan, apa maksudnya?". Ucap Bu Inez heran.
"Apa yang ia katakan?". Tanya Felix
"Tentang perusahaan, kabarnya tak sebaik kabar darimu". Balas Bu Inez heran, sambil berpikir.
__ADS_1
'Apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan?. Selama ini aku tidak pernah merasa ada kejanggalan. Pasti ada sesuatu di balik ini'. Felix membatin