DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 230 - Memori


__ADS_3

"Berli.. ". Ucap David di koridor saat Berli tengah berjalan. Memang sejak tadi Berli dan Felix sudah sampai di tempat mereka bekerja. Kini Berli berjalan seorang diri karena Felix sudah pergi ke ruangan nya.


"Pak David, ada apa?". Ucap Berli menoleh.


"Ekhm. Sudah lama sekali aku ingin mengajakmu makan malam di luar. Apa malam nanti kau bisa makan malam bersamaku?". Ucap David ragu.


"Ah itu, maaf pak. Aku sudah membuat janji dengan seseorang". Ucap Berli menolak, sungkan.


"Apa dengan Felix?". Ucap David penuh selidik.


"Hmm.. Iya". Jawab Berli menunduk, ia merasa tidak enak.


"Ohh begitu. Memang nya kalian akan pergi kemana?. Mungkin saja kita bisa makan malam bersama-sama kan". Ucap David mencairkan suasana. Ia tidak keberatan jika harus makan malam bersama Felix. Yang terpenting, ada Berli disana.


"Sebenarnya, Felix hendak mengajakku ke rumah nya untuk memperkenalkan aku pada keluarga nya. Maka dari itu, mohon maaf pak. Sepertinya aku tidak bisa menerima tawaran bapak". Ucap Berli yang merasa iba pada David.


Jlebb,, perkataan itu seolah tombak tajam yang menusuk dada David.

__ADS_1


"Begitu ya. Baiklah, semoga semua nya berjalan lancar". Ucap David tersenyum namun lain di hatinya. Ia merasakan api cemburu yang membara.


"Terimakasih. Kalau begitu, aku pamit bekerja ya pak.. Sampai nanti". Ucap Berli berpamitan, dan kembali melenggang ke tempatnya bekerja.


"Baiklah". Ucap David tak semangat.


'Jadi mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih serius?'. Batin David, kecewa.


......................


"Kalau begitu pukul saja!. Puas kau, menghancurkan hidupku dan Romi?. Kau itu benar-benar pecundang Bryan!". Balas Prianka dengan isak tangisnya yang membuag emosi Bryan semakin nangis.


"Jika posisiku sedang tidak menyetir, aku bisa menghabisimu sekarang juga!". Ucap Bryan dengan sorot mata yang tajam. Meskipun begitu, ia tak melakukan apapun karena sedang dalam keadaan menyetir.


"Habisi saja aku. Bukankah kau juga menghabisi nyawa ayahku?. Maka kenapa kau harus bertanya?. Jika aku bisa memilih, aku akan lebih memilih mati daripada hidup dengan mu pria jahanam!". Ucap Prianka penuh penyesalan. Kali ini membuat Bryan kesal, dan menghentikan mobilnya.


Plaakkk,,,,

__ADS_1


Tamparan keras menampar pipi mulus Prianka hingga meninggalkan memar yang cukup besar.


"Aghh". Rintih Prianka hingga wajahnya terhempas ke pintu mobil.


"Kau membuatku marah, sampah!". Ucap Bryan yang tak henti-henti nya menjatuhkan harga diri Prianka.


"Kau yang tidak berguna!. Aku akan melaporkanmu ke polisi!". Ucap Prianka dan hendak membuka pintu mobil. Namun kembali pintu nya di kunci oleh Bryan.


"Maaf Nona anda kurang beruntung". Ucap Bryan menyeringai.


"Jangan pernah macam-macam padaku atau aku akan benar-benar melenyapkanmu!". Tambah Bryan, tepat di telinga Prianka. Bryan mengatakan itu sambil menekan keras dagu Prianka.


Prianka menangis tak bersuara. Menahan sakit di hati dan wajahnya. Bryan benar-benar memberikan penderitaan di hidup nya. Sampai saat ini, Prianka masih menyesal tentang malam itu.


Andai saat itu ia tak memenuhi permintaan Valerie, andai saat itu ia terbuka kepada Romi terhadap pikiran nya. Mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi.


'Ayah, aku merindukanmu. Putrimu kini hidup dalam kesengsaraan, ayah. Tolonglah aku, aku ingin keluar dari mimpi buruk ini'. Prianka membatin, ia kembali mengingat memori tentang ayah nya, dan Romi yang begitu menghormati dan mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2