
"Ekhm.. ". David bergumam saat ia mendatangi Berli yang tengah mengerjakan pekerjaan nya.
"Pak David?". Berli yang terkejut langsung menatap ke arahnya
"Berli, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Kita bisa bicara setelah makan siang nanti?. Jika aku mengatakan nya sekarang, ini pasti akan mengganggu pikiranmu". Ucap David
"Tidak apa Pak, jika itu penting katakan saja sekarang, saya akan siap mendengarnya". Berli yang matanya sembab itupun mengubah ekspresinya agar terlihat baik-baik saja.
"Kau menangis?". Tanya David penuh selidik saat ia menyadari mata sembab itu.
"Tidak, mata saya hanya terkena debu. Itu saja Pak". Jawab Berli tersenyum
"Aku akan mengatakannya saat makan siang nanti". Ucap David lembut
"Apa Felix akan cemburu jika melihatku bersama Pak David?. Ah tidak, dia bahkan sudah bersama wanita lain di depan mataku. Ya, dia tidak punya hak untuk marah". Berli membatin. Ia bingung saat hendak memberi jawaban.
"Kau melamun?". Ucap David menyadarkan lamunan Berli.
"Ah, tidak pak. Baik, setelah makan siang nanti". Ucap Berli tersenyum. Namun hatinya belum tenang
__ADS_1
"Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu". Ucap David lembut sambil melenggang. Ia membiarkan Berli mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu.
"Apa yang ingin Pak David bicarakan? Semoga semua baik-baik saja". Gumam Berli
......................
"Kak ada apa?. Kenapa tiba-tiba mengajakku kemari?". Ucap Romi yang baru saja datang dan langsung menduduki kursi tepat di depan Felix.
Setelah pergi dari rumah, ia memutuskan untuk membicarakan ini dengan Romi. Tadinya, Felix akan kembali ke perusahaan, namun niatnya urung mengingat Romi pasti akan mengetahui sedikitnya tentang hal ini.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan Rom. Pertama, aku ingin kau berkata jujur kepadaku. Tentang apapun hal yang kau sembunyikan dariku". Ucap Felix pasti
"Apa yang kakak maksud? Aku tidak mengerti". Ucap Romi, ia mulai curiga bahwa Felix sudah mengetahui tentang ancaman yang ia sembunyikan.
"Sebenarnya ada seseorang yang mengirimiku rekaman. Rekaman itu berisi sebagian suara Mama yang menyebut-nyebut tentang anak satu-satunya. Apa di antara kita sebenarnya.. ". Felix mulai ragu dan menggantungkan ucapan nya
"Jadi maksud kakak?. Salah satu di antara kita, bukan putra kandung Mama?". Romi yang langsung mengerti apa maksud Felix seketika terkejut hebat. Namun ia masih bisa menahannya. Ia kembali mengingat kata-kata yang Ibunya ucapkan tadi pagi
"Ya, jika rekaman itu benar, maka dengan berat hati aku katakan bahwa mungkin saja kita bukanlah saudara kandung Rom. Entah aku dan kau, banyak sekali kemungkinan". Ucap Felix sambil menundukan kepalanya. Sungguh, ini berat baginya.
__ADS_1
"Mungkin saja aku bukanlah putra kandung Mama. Sepertinya ucapan yang Mama gantungkan adalah kebenaran ini". Romi membatin. Hatinya begitu hancur. Banyak sekali pertanyaan dalam hatinya.
"Kau mendengarku?". Felix membuyarkan lamunan Romi
"I.. Iya kak, aku tahu. Tetapi kalaupun kita bukanlah saudara kandung, kau akan tetap menjadi kakaku. Tidak ada yang bisa menggantikan peranmu dalam hidupku". Balas Romi. Pikirannya benar benar kacau.
"Berdoalah untuk yang terbaik, kau juga akan selalu menjadi adikku. Dan Romi, jika kau mengetahui sesuatu, tolong katakan padaku. Mungkin saja semua ini ada petunjuknya". Ucap Felix yang terharu akan perkataan Romi. Pikiran mereka benar-benar dibuat kalut.
"Apa kakak sudah menanyakan tentang hal ini kepada Mama?". Ucap Romi. Ia berharap mendapat kabar kebenaran ini dari Ibunya.
"Seperti biasa, Mama akan menyangkal. Dan aku sangat yakin bahwa ini adalah hal penting yang sedang Mama rahasiakan". Balas Felix
"Kak, sebenarnya.. Aku selalu mendapat ancaman dan terror dari seseorang yang tidak aku ketahui". Ucap Romu segan. Akhirnya hari ini datang, hari dimana Romi berani mengatakan hal ini. Kali ini pikirannya sudah menemui jalan buntu.
"Apa?. Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?. Sejak kapan?". Felix membelalak seraya terkejut.
"Sudah lama sekali, sejak aku masih tinggal di rumah kost. Awalnya ku pikir hanya perbuatan orang jahil, namun.. Ancaman itu selalu datang. Bahkan disaat malam Mama keracunan, sebelumnya aku sudah mendapat ancaman tentang Mama. Tetapi aku tidak terpikir bahwa itu akan benar benar terjadi". Romi depresi, ia mengusap kasar kepalanya.
"Jadi.. Selama ini kita hidup di atas ancaman. Artinya ada seseorang yang memiliki maksud tertentu terhadap keluarga kita". Ucap Felix. Kini ia menyadari bahwa bahaya mengintai keluarga mereka.
__ADS_1