
Hari mulai berganti, malam berganti menjadi pagi. Namun langit seolah sedang berduka, karena awan hitam dan mendung menutup indahnya langit yang biru.
"Apa hari ini akan turun hujan?, bagaimana aku bisa pergi jika akan turun hujan". Ucap Berli sambil melihat ke jendela
"Tapi tidak apa apa, lebih baik aku bersiap saja. Siapa tau saat aku pergi nanti tidak akan dulu turun hujan". Ucap Berli yang langsung bergegas untuk bersiap
.
"Bagaimana sekarang ma?". Ucap Felix yang menanyakan keadaan ibunya yang masih terbaring
"Mama baik baik saja sayang. Mama sudah siap untuk pulang". Ucap Bu Inez sambil tersenyum
"Apa mama sudah benar benar pulih?". Tanya Felix yang masih mengkhawatirkan keadaan ibunya
"Tentu saja sayang, mama hanya pingsan biasa. Lihat, adikmu sangat kasihan sampai sampai harus tidur di sofa seperti itu". Ucap Bu Inez sambil mengarahkan pandagan nya ke arah Romi yang masih tertidur di sofa.
Romi memang masih setia menunggu ibunya di rumah sakit semalaman. Sementara Felix semalam pulang untuk menjaga keadaan rumah. Dan ia kembali setelah solat subuh untuk menemui ibunya
"Tidak apa apa ma, jika mama memang belum merasa pulih mungkin lebih baik mama disini saja untuk beberapa hari. Felix khawatir terjadi sesuatu saat tiba di rumah". Ucap Felix khawatir
"Mama tidak apa apa sayang, ayolah. Justru jika mama berada disini mama selalu bosan dan bukan menjadi lebih baik". Ucap Bu Inez penuh permohonan
"Baiklah, siang nanti Felix akan membawa mama pulang". Ucap Felix sambil mengecup kening ibunya. Meskipun Felix memiliki sikap dingin tetapi sebenarnya Felix adalah seorang pria yang penyayang
......................
"Ya allah ternyata benar benar turun hujan. Bagaimana caranya aku berangkat bekerja". Ucap Berli yang sudah siap dengan pakaian kerja dan jaketnya. Ia kini berada di teras rumah nya dan hendak pergi, namun ia melihat hujan turun begitu derasnya.
Tak berselang lama, terdengar suara mobil mendekat ke arah rumah Berli.
"Mobil siapa itu?". Ucap Berli yang bingung dengan kedatangan mobil itu pagi pagi seperti ini
__ADS_1
"Syukurlah kau belum berangkat Lian". Ucap David sambil tersenyum dan turun dari mobilnya yang terparkir tepat di depan rumah Berli
"Pak David?". Ucap Berli terkejut
"Aku sengaja datang menjemputmu Lian. Aku tahu kau pasti akan kesulitan untuk berangkat bekerja. Jadi ayo, kita akan berangkat bersama". Ucap David penuh senyuman
"Maaf pak, tapi saya tidak ingin merepotkan. Biar saya nanti pergi sendiri setelah hujan nya reda". Tolak Berli gugup. Ia hanya takut dengan apa yang akan ia lakukan mungkin akan membuat David berharap lebih darinya
"Sampai kapan kau menunggu hujan nya reda?, kau bisa terlambat Lian. Ayolah, aku sudah sengaja datang kesini". Pinta David penuh permohonan
"Baiklah pak, terimakasih". Ucap Berli yang jelas tidak bisa menolak karena David memang sudah berniat datang untuk menjemputnya. Mereka berdua langsung bergegas menaiki mobil milik David. Tentu tak lepas dari rasa bahagia di hati David
"Bagaimana liburan mu kemarin?. Apa menyenangkan?". Tanya David mencari topik saat mereka sudah berada di perjalanan menuju pabrik
"Ah itu, biasa saja pak". Ucap Berli yang masih gugup dengan pertanyaan David. Ia memang selalu gugup jika di hadapkan dengan pertanyaan pertanyaan David
"Begitu ya, aku lupa mengajakmu jalan jalan kemarin, karena aku harus menyelesaikan pekerjaan yang ku bawa ke rumah". Ucap David
"Tidak apa apa pak". Jawab Berli bingung harus menjawab apa
'Kan ku abaikan sgala hasratku, agar kamu tenang dengan nya, ku pertaruhkan semua ragaku demi dirimu bintang. biarkan ku menggapaimu, memelukmu, memanjakan mu. tidurlah kau di pelukku di pelukku di pelukku.....
Biar ku tunda, segala hasratku tuk miliki dirimu. karna semua tlah tersiratkan dirimu kan miliku... '
Alunan musik yang melow, dan guyuran hujan di luar menambah suasana dingin saat itu.
'Apa Pak David sengaja memutar lagu ini'. Batin Berli menyimak setiap nada dari lagu itu
"Kenapa hanya diam saja Lian?". Tanya David mengejutkan Berli
"Tidak apa apa pak". Ucap Berli sambil tersenyum menutupi perasaan nya
__ADS_1
"Apa lagunya terlalu mendalam sehingga kau sangat menikmatinya?". Ucap David sambil tertawa tipis seolah mengetahui perasaan Berli
"Tidak pak". Ucap Berli sambil tersenyum tipis
"Apa kau sudah sarapan?". Tanya David yag masih sibuk dengan kegiatan menyetirnya.
"Sudah pak". Jawab Berli sambil tersenyum.
Entah apa yang ia rasakan, ia merasa bahwa waktu berjalan sangat lambat saat ia bersama David sekarang. Rasanya jarak pabrik sangat jauh karena perasaan nya yang kurang nyaman ini, jelas berbeda saat ia sedang bersama Felix.
"Syukurlah". Ucap David sambil tersenyum menoleh ke arah Berli
"Apa kau tinggal sendiri Lian?". Tambah David
"Iya pak, itu kost an saya. Saya tinggal sendiri". Jawab Berli ramah
"Kemana orangtua mu?". Tanya David. Ia memang tidak mengetahui bahwa Berli adalah yatim piatu, meskipun David sudah mengejarnya sejak lama, ia memang tak pernah berbincang mengenai masalah pribadi
"Saya yatim piatu pak". Jawab Berli sambil tersenyum
"Ah maaf Lian, saya benar benar tidak tahu. Saya tidak bermaksud untuk itu". Jawab David yang langsung mengalihkan pandangan nya ke arah Berli. Ia menatap lekat Berli karena merasa bersalah
"Tidak apa apa pak". Jawab Berli
"Jika kau membutuhkan bantuan apapun itu, jangan sungkan untuk menghubungiku oke?". Ucap David sambil tersenyum ramah
"Baik pak, terimakasih banyak". Jawab Berli sambil tersenyum
"Sebentar lagi kita sampai". Ucap David yang melihat keresahan Berli
"Baik pak, saya turun di ujung jalan saja. Nanti jika ada yang melihatku bersama bapak, mungkin orang orang akan salah faham". Ucap Berli yang merasa tidak enak saat bersama David, ia takut karyawan lain salah faham terhadap kebersamaan nya bersama David
__ADS_1
"Tidak akan menjadi masalah, biar saja. Kau tenang saja oke?". Ucap David meyakinkan Berli. Tentu Berli tidak bisa melawan atasan nya ini
"Baik pak". Ucap Berli yang tetap tidak enak