
"Lian. Aku ingin bicara dengan mu sebentar. Apa kau tidak keberatan?". Tanya David yang memanfaatkan waktu pulang untuk berbincang dengan Berli
"Ah iya. Tentu saja pak". Jawab Berli tersenyum canggung. Baru saja ia akan keluar dari tempat itu, David langsung menyambatnya
"Apa jawabanmu tentang lamaran ku kemarin Lian? Aku ingin mendengarnya sekarang". Ucap David penuh keingintahuan
"Pak David aku... ". Berli bingung. Ini terlalu cepat baginya
"Kau mencintainya? Jujur saja padaku". Ucap David yang ekspresinya hampir kecewa
"Saya.. Maksudnya.. Aku.. Jujur aku menyukainya. Tetapi aku bingung. Siapa yang pantas untukku. Sedangkan aku hanya wanita biasa. Di luar sana banyak sekali wanita yang lebih baik dan sempurna dariku". Ucap Berli yang seketika kata kata iu keluar begitu saja dari mulutnya
__ADS_1
"Jadi kau akan menolak lamaranku?. Baiklah, itu terserah padamu. Asal kau tahu, cinta bukan tentang kesempurnaan. Sebanyak apapun wanita yang lebih baik darimu, aku akan tetap memilihmu. Karena kau istimewa bagiku. Kau sempurna bagiku. Justru kesederhaanmu lah yang membuatku kagum". Ucap David sambil berlalu pergi begitu saja
"Apa yang dikatakan pak David benar. Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana sikap ku saat menghadapi Pak David sekarang dan seterusnya?. Lalu bagaimana dengan Felix? Aku benar benar bingung". Gumam Berli yang pikiran nya benar benar kalut. Ia mulai melenggangkan kaki nya untuk segera pulang.
......................
"Apa maksud mama aku harus menikah dengan Jovanka secepatnya? Apa apaan ini. Aku bahkan tidak menyukai wanita itu". Ucap Felix penuh penegasan. Sejak tadi ia meang sudah berada di rumah, karena Bu Inez menelpon nya untuk pulang. Tak di sangka, Bu Inez ternyata ingin membahas perihal ini
"Sayang. Dengarkan mama. Jovanka itu punya segalanya. Dia cantik, dia pintar, berpendidikan, dia sempurna sayang. Apa yang kau harapkan dari gadis rendahan itu?. Apa yang dia punya? Dia hanya punya sifat penggoda layaknya wanita ja**ng. Jika dia menjadi pendampingmu, dia hanya bisa menggerogoti hartamu. Dia sama sekali tidak bisa membantu. Wanita miskin biasanya hanya bisa bergantung kepada suami. Ayolah sayang..Buka hatimu untuk Jovanka". Ucap Bu Inez pelan. Namun perkataan nya membuat Felix benar benar naik darah
Bibir gemetar, keringat bercucuran, dan tangan mengepal. Felix benar benar di dalam level tertinggi kemarahan. Pria yang selama ini terkenal dingin layaknya es batu, kini berbicara begitu lantang dan tegasnya.
__ADS_1
"Ya. Aku memang gila harta. Aku memang rela mengorbankan kebahagiaan demi harta. Aku memanglah jahat. Aku bahkan rela membunuh banyak jiwa demi harta. Kau terlalu naif Felix!. Ibumu ini gila harta. Dan seharusnya kau lebih pintar memilih!. Sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan mu Felix!". Ucap Bu Inez yang perkataan nya keluar begitu saja dari mulutnya. Ia mengatkan itu dengan tangisan dan kemarahan. Seketika ia berlari ke kamarnya.
Felix diam terpaku mencerna apa yang ibunya katakan. "Aku bahkan rela membunuh banyak jiwa demi harta" kata kata itu terngiang di kepala Felix. Ini seperti sebuah misteri yang ibunya sembunyikan
"Apa yang mama katakan?". Gumam Felix
"Apa yang kakak pikirkan adalah apa yang aku pikirkan". Ucap seseorang penepis pundak Felix dari belakang.
Ternyata sedari tadi Romi sudah pulang dan mendengarkan semuanya. Romi memutuskan untuk menunggu di luar tanpa mengganggu pembicaraan panas mereka. Sehingga Romi sama sama menangkap rahasia yang ibunya terlanjur katakan
"Apa ini?. Apa mama benar benar?. Ah tidak.. ". Ucap Felix menutup mulut tanda tak percaya
__ADS_1
"Kita akan mencari tahu apa yang mama sembunyikan kak. Tetapi, perjuangkan Kak Berli. Dia wanita yang baik. Suatu saat kemarahan mama akan berakhir. Jaga dia. Dan lindungi dia. Mungkin mama akan melakukan sesuatu yang berbahaya jika terus seperti ini". Ucap Romi menatap ke arah kamar ibunya. seolah ia mengetahui gelagat ibunya.
"Kau benar". Ucap Felix yang masih tidak percaya dengan apa yang ibunya katakan