DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 113 - Mimpi


__ADS_3

"Romi menyayangi mama lebih dari apapun. Romi ingin mama selalu bahagia, dan selalu sehat. mama, kak Felix, adalah harta paling berharga di hidup Romi. Romi bahagia di saat saat terakhir Romi hidup, mama ada bersama Romi. Maafkan jika Romi belum bia menjadi anak yang berbakti untuk mama, doakan dan ikhlaskan kepergian Romi ya ma..... Romi sayang mama..... Ashaduallailahailaullah..... Waashaduanamuhanmadarosulluloh... ". Ucap Romi sambil perlahan menutup matanya untuk selamanya


"Tidak sayang, kita akan pulang, dan akan berkumpul bersama kembali". Jawab Bu Inez sambil menangis histeris dan berteriak tak percaya


"Romi anakku..... ". Teriak Bu Inez pagi ini yang tersentak oleh mimpi buruknya. Saat ini Bu Inez memang tengah berada di kamar tidurnya, sejak malam Felix sudah mengantarnya pulang untuk menyuruhnya istirahat. Namun Bu Inez terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk yang hadir dalam tidurnya


"Romi..... Syukurlah hanya mimpi". Ucap Bu Inez sambil menenangkan dirinya


"Aku harus segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan anakku". Ucap Bu Inez penuh cemas dan segera bersiap


......................


"Hari ini sepertinya aku harus menjemput Berli, syukurlah sakit ku tidak terlalu lama". Gumam David pagi ini yang sudah siap memulai harinya. Saat ini ia memang akan kembali bekerja setelah beberapa hari cuti karena kesehatannya menurun


"Hari ini aku harus bisa menghapuskan semuanya tentang Felix. Lagipula sekarang dia pasti sedang bersama wanitanya, terlebih saat ini adiknya sedang berada di rumah sakit. Apa aku harus menjenguknya kembali? Ah tapi untuk apa, itu sama saja dengan aku berharap bertemu Felix. Sudahlah, aku harus segera pergi". Gumam Berli yang kini sudah siap dengan pakaian kerjanya, pikirannya benar benar bingung saat hendak memikirkan untuk mwnjenguk Romi

__ADS_1


......................


"Apa Berli berangkat bekerja sendiri saat ini?, bagaimana aku bisa meninggalkan Romi dalam keadaan seperti ini. Satu sisi aku ingin bertemu Berli, tapi.... Bahkan aku tidak memberi apapun selain ucapan terimakasih kepada Berli. Padahal dia sangat berjasa atas kejadian ini". Gumam Felix yang kini berada di kursi koridor tepat di depan ruangan Romi. Sejak malam ia memang setia menunggu kabar keadaan adiknya


"Selamat pagi tuan, permisi.... Dokter akan mengecek keadaan pasien sekarang". Ucap seorang suster ramah kepada Felix, membuat lamunan Felix buyar


"Baiklah, tapi kapan adik saya akan siuman?". Tanya Felix


"Untuk saat ini kami belum bisa mengetahuinya, kami akan berusaha sebaik mungkin, dan doakan selalu pasien ya tuan.... ". Jawab suster


......................


Tok tok tok...


"Assalamualaikum.... Lian..?". Ucap David yang kini sudah berada di ambang pintu rumah Berli, namun usahanya tak mendapat respon sama sekali

__ADS_1


Hal itu di ulanginya terus menerus namun tak kunjung ada jawaban


"Apa Berli sudah pergi? Bagaimana bisa aku terlambat menjemputnya". Gumam David yang segera bergegas untuk pergi, ia berharap akan bertemu Berli di perjalanan nya


......................


"Pagi yang sial saat aku harus bertemu wanita so alim sepertimu". Ucap seorang wanita yang tak lain adalah Sherly. Saat ini Berli memang tengah berada di perjalanan untuk pergi bekerja, namun sebelum ia sampai untuk menaiki kendaraan umum, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Sherly yang berada di dalam mobilnya. Dengan nada sinis nya sherly memepet ke arah Berli


"Permisi... Saya harus pergi". Ucap Berli yang tidak ingin mendapat masalah


"Mau kemana hmm? apa kau tidak merindukan tugas dariku wanita jal*ng?". Ucap Sherly menyeringai. Seketika perkataannya itu mengingatkannya pada kejadian Abian tempo hari


"Saya bukan wanita seperti yang nyonya pikirkan. Saya tidak ingin membuat keributan dengan siapapun, dengan itu asa pamit. Assalamualaikum". Ucap Berli yang sontak pergi meninggalkan Sherly. ini benar benar membuat hati Berli tersakiti, namun ia berusaha tetap tenang


"Sial". Umpat Sherly

__ADS_1


__ADS_2