DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 115 - Saya Bukan Pembunuh


__ADS_3

"Aditya, terimakasih.... Kau selalu saja membantuku". Ucap Berli yang kini sudah sampai di parkiran tempatnya bekerja.


Memang tadi saat ia hendak akan menaiki angkutan umum, tiba tiba Aditya datang dan mengajaknya untuk pergi bersama dengan motor matic nya


"Tidak masalah kak, kenapa masih kaku juga? Aku adikmu bukan? Kenapa harus berterimakasih?". Jawab Aditya tersenyum


Deggg,,, tiba tiba hati Berli kembali terharu dengan perkataan Aditya. Cairan bening itu berhasil menitik di ujung mata Berli


"Aditya.... Kau selalu saja membuatku terharu". Ucap Berli tersenyum sambil menyeka air matanya


"Kak? Kenapa menangis? Apa aku membuat kakak terluka? Sungguh, aku tidak bermaksud untuk itu. Maafkan aku kak". Ucap Aditya merasa tidak enak


"Tidak Aditya, sungguh.... Aku sangat terharu saat mendengar kau mengatakan itu. Sungguh, meskipun kau terus mengulangnya, tetapi aku selalu terharu. Apa mungkin kau adikku?". Jawab Berli


"Aku adikmu. Dan aku selalu menjadi adikmu". Ucap Aditya tersenyum. Di balas kembali dengan senyuman haru Berli


'Mereka seperti saling memiliki ikatan satu sama lain'. Batin David yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Ia pun merasa terharu dengan kebersamaan Berli dan Aditya yang layaknya seperti kakak beradik


"Baiklah, kalau begitu.... Aku pamit masuk, sampai bertemu nanti adikku.. ". Ucap Berli pamit sambil tersenyum

__ADS_1


"Sampai nanti kak". Balas Aditya sambil melambaikan tangan


"Ekhmmm". Gumam David saat menghampiri Aditya. Kini ia berani menampakan diri setelah Berli menghilang dari pandangannya


"Pak David? Selamat pagi pak". Sapa Aditya sontak terkejut


"Jadi kau berusaha merebut Berli dariku hah? Haha". Ucap David tertawa renyah. Ia memang tahu kedekatan Berli dan Aditya sebatas adik dan kakak


"Hahah, kak Berli kan kakakku. Ohh iya, bapak sudah sehat?". Jawab Aditya


"Ya.... Seperti yang kau lihat. Aku sudah sehat. Ayo... Kita harus bekerja". Ucap David sambil merangkul pundak Aditya untuk masuk.


"Haha baiklah pak". Jawab Aditya tertawa renyah


......................


"Adelard, kau dengan Romi sama saja. Kalian sama sama suka membuat onar di kampus. Apa bagimu kampus adalah tempat Bertarung hah?". Ucap seorang dosen yang kini tengah berbicara dengan Adelard untuk menyelesaikan masalah yang terjadi hari ini


"Maaf pak, sama dengan kasus Romi kemarin. Bryan lah yang berulah. Mahasiswa mana yang tidak marah jika di ejek sebagai budak hah? Apa menurutnya pertemananku dengan Romi adalah hubungan antara budak dan tuan? Bryan selalu mencari masalah dengan kami pak". Jawab Adelard di ruangan itu, tak lepas dari keberadaan Neel di sampingnya

__ADS_1


"Apa itu benar Bryan?". Tanya dosen melirik ke arah Bryan


"Mereka memang senang bertarung pak. Untuk apa aku mengejek nya seperti itu? Jelas dia melakukan itu karena membela kejadian Romi kemarin". Bantah Bryan berbohong


"Lagi lagi di berbohong untuk melindungi dirinya sendiri pak. Bapak harus bijak menanggapi masalah ini". Ucap Adelard penuh penekanan


"Adelard, sabar". Ucap Neel sambil menepis pundak Adelard


"Bagaimana bisa bapak percaya pada pembunuh seperti dia? Adelard adalah pelaku yang menabrak ayah kandung Prianka hingga tewas!". Ucap Bryan tegas membuat siapa saja yang ada disana terbelalak


"Apa maksud mu Bryan". Bentak Adelard sambil membentakan kakinya untuk berdiri karen terkejuy mendengar penuturan Bryan


"Apa itu benar Adelard?". Tanya dosen


"Tidak pak, saya bukan pembunuh. Saya menabrak seseorang kala itu, tetapi orang tersebut tidak tewas seperti ayah Prianka". Bantah Adelard


"Kau harus di serahkan ke polisi Adelard". Ucap dosen tersebut sambil berusaha menghubungi nomor polisi


Sementara Adelard dengan matanya penuh amarah mengepal erat tangannya bersiap untuk memukul Bryan, namun tertahan oleh Romi. Bryan yang puas tersenyum menyeringai penuh kemenangan

__ADS_1


__ADS_2