
"Romi.. ". Ucap Prianka, saat ia mendapati Romi di ambang pintu.
Romi tersenyum. "Bolehkah aku masuk?"
"Tentu saja, ini rumahmu".
Saat ini Prianka memang tengah menginap di kediaman Romi. Ia menempati kamar tamu yang sudah di siapkan.
Romi melenggang untuk masuk, tanpa menutup pintu.
Romi duduk di samping Prianka. "Bagaimana?, sudah merasa lebih baik?".
Prianka menatap ke arah luar jendela, menatap malam yang begitu tenang. "Iya, ini sangat jauh lebih baik daripada malam-malam sebelumnya".
"Sudahlah, lupakan masalalu buruk itu. Sekarang, kita buka lembaran baru yang lebih baik".
Prianka masih menatap dengan tatapan kosong, penuh penyesalan.
"Andaikan waktu bisa di putar, andaikan hari itu tidak pernah ada dalam hidupku. Dan andaikan aku tidak egois, semua ini tidak akan terjadi".
Romi merangkul pundak Prianka.
"Sayang, lupakan semua nya. Semua sudah baik-baik saja. Kau sudah aman disini. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu, aku akan bersamamu. Aku berjanji"
__ADS_1
Prianka menatap ke arah Romi.
"Romi, seharusnya kau tinggalkan aku. Aku bukanlah wanita yang baik untukmu. Aku juga bukan wanita terjaga, seperti dulu lagi. Seharusnya kau cari penggantiku"
Romi membungkam mulut Prianka dengan jari telunjuknya.
"Berjanjilah bahwa ini adalah terakhir kali nya kau berkata seperti itu. Aku tidak akan melakukan itu, dan tidak akan pernah. Berhenti bicara buruk tentangmu. Kau adalah yang terbaik untukku"
Prianka tersenyum. Untuk kesekian kalinya ia begitu terharu dengan sikap Romi yang sangat menghormati nya.
......................
"Ah sudah, lupakan masalahku. Sekarang, kau yang bercerita". Ucap Lathesia. Setelah ia puas menyindir Berli, ia bermaksud untuk mencari tahu dari mulut Berli langsung.
Berli tertawa kecil. "Apa yang harus aku ceritakan kepadamu, Lathesia?"
Berli mengelak. "Tidak, tidak. Bukan seperti itu.."
"Baiklah, kalau begitu ceritakan"
"Hmm, sebenarnya aku bingung, hendak menceritakan apa padamu"
"Ceritakan saja. Oh ya, aku ingin tahu.. Bagaimana kelanjutan hubunganmu, dengan kekasihmu?. Semua baik-baik saja kan?". Lathesia mulai membuka maksud.
__ADS_1
Berli terseyum. "Semua baik-baik saja Lathesia. Dan semoga selalu baik-baik saja"
Lathesia berpura-pura. "Oh ya?. Apa kalian sudah merencanakan pernikahan?. Tidak baik kan menunda-nunda"
Berli terseyum. "Hmm.. Iya. Sebenarnya kami baru saja merencanakan nya. Doakan aku ya, agar semua berjalan lancar"
"Tentu saja sayang. Kau adalah sahabatku"
"Ah iya, bagaimana dengan keluarga nya? Mereka menyambutmu dengan baik kan?". Tambah Lathesia.
Berli tersenyum. "Mereka menyambutku dengan baik dan ramah. Mereka juga merestui hubungan kami"
'Kau hanya akan bermimpi, wanita miskin!'. Batin Lathesia.
"Syukurlah. Ah iya, bukankah kau belum pernah menunjukkan calon suami mu?. Ayolah, aku ingin melihat nya walau hanya di gambar".
Berli merasa tidak enak, ia tidak ingin terkesan memamerkan kebahagiaan nya kepada sahabat nya yang sedang sedih. "Lathesia, mungkin lain waktu aku akan memperkenalkan nya padamu"
"Memang nya kenapa?. Aku ini sahabatmu kan?. Ayolah, tidak usah malu-malu".
Baiklah, sebentar. Aku akan menunjukkan foto nya kepadamu.
Berli melenggang ke kamarnya. Ia hendak mengambil figura kecil berisi foto nya dengan Felix.
__ADS_1
......................
"Berli pasti mencariku sejak tadi. Maafkan aku Berli, besok aku akan menemuimu". Ucap Felix. Ia memang tengah sibuk mengurus kasus Romi. Ia rela mengorbankan waktunya, agar Romi bisa menenangkan diri di rumah.