DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 18 - Romi Pulang


__ADS_3

"Assalamualaikum maa".Suara pria itu terdengar di ambang pintu.


Romi memang sudah berada di rumahnya. Ia memutuskan untuk kembali tinggal di sini, namun ia berniat untuk berkunjung dulu hari ini.


"Waalaikumsalam sayang". Jawab wanita hampir paruh baya yang tak lain adalah Bu Inez. Ia langsung berjalan ke tempat Romi berdiri


"Romi pulang maa". Ucap Romi sambil mengecup punggung tangan ibu nya


"Kemana saja anak mama yang ganteng ini hmmm?, kenapa jarang pulang?. Apa mau jadi bang toyib?". Goda Bu Inez kepada Romi sambil tersenyum bahagia


"Romi banyak tugas ma, jadi ga sempet pulang". Jawab Romi lembut kepada ibunya


"Ya udah sayang, sana gih istirahat dulu di kamar, mama mau masakin makanan enak kesukaan kamu". Jawab Bu Inez tersenyum bahagia saat putra kedua nya kini tengah mengunjungi nya.


Sejak tadi Bu Inez memang sudah berada di rumah nya. Begitu sampai rumah, Jovanka segera berpamitan untuk pulang karena mungkin Jovanka sudah lelah menjalani hari ini.


"Kemana kakak? di kamar nya tidak ada?". Tanya Romi kepada Bu Inez yang sedari tadi mencari keberadaan kakak nya.


"Kakak mu sedang keluar sayang, tunggu saja. Mungkin sebentar lagi pulang". Jawab Bu Inez lembut kepada Romi


"Apa mama habis bepergian?". Tanya Romi yang kini sudah duduk di sofa rumah nya. Ia memperhatikan penampilan ibu nya yang rapi


"Iyaa sayang, tadi mama abis belanja sama calon kakak ipar kamu". Jawab Bu Inez tersenyum. Romi benar benar kaget, sejak kapan kakak nya punya pacar? sepertinya selama ia tidak tinggal di rumah, banyak perubahan yang tidak ia ketahui.


"Kak felix udah ada calon ma? ". Tanya Romi terkejut


"Iyaa sayang, mama menjodohkan nya dengan anak sahabat mama, Jovanka namanya. Dia cantik sekali, Jovan baru menyelesaikan study nya di Perth, dia pulang ke indonesia karena akan di jodohkan dengan kakak mu itu. Tapi.....sampai sekarang justru kakak mu belum tahu, mama mau menjodohkan nya. Baru saja mama mau bilang, eh Felix selalu pergi seolah menghindar. Apalagi saat berkenalan, huh cuek nyaaa minta ampun kakak mu itu. Bener bener deh jual mahal hahaha". Jawab Bu Inez panjang lebar menjelaskan kepada Romi.


"Hahaha kakak ku itu memang gengsian". Jawab Romi tersenyum membayangkan sikap kakak nya


"Ma, jaga diri mama baik baik ya. Jika ada sesuatu jangan di tutup tutupi, langsung saja kabari Romi. Apalagi jika ada orang asing tiba tiba datang, Romi mohon biarkan saja, jangan di jamu atau pun di anggap tamu". Ujar Romi kepada ibunya. Saat ini ia benar benar menghawatirkan keluarganya, terutama ibunya.

__ADS_1


"Memang nya kenapa sayang? mama baik baik aja kok". Jawab Bu Inez heran karena tiba tiba Romi berkata demikian


"Engga ma, Romi cuma khawatir aja ada yang mencuri hati mama hihihih". Jawab Romi mengalihkan topik serius nya menjadi gurauan, ia tidak ingin ibunya khawatir. Toh barusan ibunya bilang baik baik saja, berarti ke khawatiran Romi tidak benar benar terjadi


"Kamu ini bisa aja". Ujar Bu Inez tersenyum geli sambil menepis lengan Romi.


......................


"Akhirnya kesampean juga nonton film itu. Huhu seneng bangett". Ujar seorang wanita yang tengah berbahagia karena kemauan nya sudah tercapai. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Laura.


Mereka berempat kini sudah berada di luar Mall besar itu, mereka hendak pulang karena kegiatan nya hari ini sudah selesai.


Felix terlihat sangat bahagia, karena hari ini ia berhasil menghabiskan waktunya dengan Berli. Ya...meskipun tidak sempurna karena ada dua nyamuk yang menjadi pengganggu.


Namun lain hal nya dengan David, ia kembali murung setelah mendapat fakta memalukan itu. Sejak kejadian bersama Felix tadi, ia memang terlihat diam saja. Entah karena menahan malu atau mood nya kembali memburuk.


"Laa..mampir saja ke rumahku dulu ya"Ajak Berli kepada Laura


"Naik lah, aku akan mengantarmu pulang". Sahut seorang pria yang tak lain adalah David. Ia memang sudah tidak ingin berdebat lagi dengan Felix, karena ia tahu pada akhirnya Berli akan pulang di antar Felix


"Tidak apa apa pak, saya pulang sendiri saja". Jawab Laura


"Naik saja, tidak perlu membantah". Ucap David singkat dengan wajah murung nya.


Mereka pun kembali ke rumah nya masing masing. Tentu Felix mengantarkan dulu Berli ke rumah nya dengan selamat. Begitu juga David, ia mengantarkan Laura pulang sampai rumah nya.


POV FELIX FISWANATA MARTIN:


Entah apa yang terjadi pada diriku akhir akhir ini. Tiba tiba saja selalu ada dorongan dalam diriku untuk memperhatikannya. Aku memang selalu memperhatikannya saat ia menunggu angkutan umum di simpang jalan itu. Sekali aku melakukan nya, keesokan harinya dorongan untuk memperhatikannya datang lagi, lagi dan lagi. Hingga tiba lah malam itu. Entah apa yang ada dalam pikiranku, tiba tiba saja aku ingin keluar mencari angin menggunakan motor matic cadangan milik ku. Dari sekian banyak motor yang terparkir di parkiran pribadi rumahku, aku lebih suka mengenakan motor itu. Dengan itu, aku terlihat seperti orang sederhana dan tidak akan ada orang yang menyangka bahwa aku ini adalah seorang anak pemilik pabrik sekaligus perusahaan terkenal. Aku memang sengaja menutup identitasku dari orang lain, aku tidak mau saat ada wanita yang mendekatiku karena harta ku. Dan entahlah, aku lebih menyukai gaya hidup sederhana daripada aku menggunakan barang barang mewah pemberian orangtua ku.


Malam itu aku mendengar teriakan seorang wanita, yang sepertinya wanita itu benar benar membutuhkan pertolongan. Aku bergegas melajukan motorku ke arah sumber suara itu. Dan ternyata benar, seorang wanita berhijab itu berteriak meminta tolong karena tengah di dekap oleh seorang pemuda yang sedang mabuk. Terdengar isakan ketakutan nya mendominasi tempat itu. Saat itu memang sudah larut malam, aku berpikir untuk apa wanita itu tengah malam keluyuran. Tapi siapapun dia, aku wajib menolongnya, ia sepertinya benar benar sedang berada dalam kesulitan. Di sana memang tidak hanya satu pemuda, pemuda itu bergerombol mengerumuni wanita itu. Aku memberanikan diri menyelamatkan wanita itu. Saat kesempatan itu tiba, Satu tinjuan keras ku melayang di wajah pemuda itu. Hanya dengan satu tinjuan saja ia sudah tersungkur ke tanah. Aku terlalu memperhatikan pemuda yang baru saja aku buat tersungkur itu, sampai aku tidak menyadari ternyata satu tinjuan keras melayang tepat di belakang kepalaku. Aku ikut tersungkur bersama pemuda tadi. Namun untung nya aku masih mempunyai kekuatan untuk bangun dan melawan. Mereka menyerangku satu per satu, namun berhasil aku kalahkan karena memang mereka dalam keadaan setengah sadar. Aku bergegas pergi sambil membawa seorang wanita yang aku tolong barusan untuk ku antar pulang ke rumahnya. Bahkan aku melupakan rasa sakit ku karena rasa iba ku lebih besar pada wanita itu. Saat aku hendak menyalakan motor ku, aku mendengar wanita itu meringis kesakitan. Saat aku menoleh, ternyata wanita itu tengah memegang kepalanya yang bersimbah darah karena lemparan batu pemuda itu mendarat di belakang kepala nya. Aku benar benar panik. Aku takut wanita itu kenapa kenapa karena aku gagal menolong nya. Aku mengajaknya bergegas pergi. Sepanjang perjalanan ia melingkarkan tangan nya di pinggang ku, darah ku berdesir saat ia melakukan hal itu. Ia terpejam lemas dan menyandarkan kepalanya di punggung ku. Aku sama sekali tidak masalah karena ini adalah keadaan darurat. Siapapun akan melakukan apa yang aku lakukan saat hendak mendengar ada yang meminta pertolongan. Aku memegang erat tangan nya yang melingkar sempurna di pinggang ku, aku takut ia hilang kesadaran hingga terjatuh dari motorku. Ia benar benar seperti akan hilang kesadaran. Aku pun dengan khawatir mengajak nya untuk pergi ke rumah sakit. Namun ia sangat sangat menolak saat aku hendak membawanya ke rumah sakit. Aku terkekeh saat mendengar penuturannya yang takut jarum suntik, ternyata itu alasan ia tidak mau di bawa ke rumah sakit. Aku mengalah dan mengantarnya pulang sampai rumah nya. Aku terkejut saat melihat wajah cantik nya, karena ternyata wanita yang aku tolong saat ini adalah wanita yang selalu ada di pikiran ku beberapa hari ini. Saat aku menolong nya, aku memang tidak melihat wajahnya dengan jelas karena tempat itu sangat minim percahayaan dan pikiranku hanya berfokus untuk menolong nya. Benar, ia adalah wanita yang aku selalu perhatikan di simpang jalan itu. Aku menunggunya di bangku teras rumah nya, saat ia hendak mengambilkan kotak P3K untukku. Namun saat ia mendatangi ku, aku sungguh sangat terpesona dengan kecantikannya, apalagi saat rambut nya di biarkan terurai. Aku melihatnya bugar seperti tidak terjadi apa apa. Keadaannya sangat jauh berbeda dengan saat beberapa menit yang lalu aku menolong nya. Aku terkekeh saat ia menyebutku dengan sebutan es batu, aku tidak mengerti kenapa aku sama sekali tidak keberatan dia merusak namaku seperti itu. Aliran darah ku berdesir hebat saat ia menunjukan sikap peduli padaku saat aku hendak pulang, bahkan aku tak berhenti memikirkan nya malam itu. Aku merasa diriku bodoh karena aku menyukai wanita yang bahkan namanya saja aku tidak tahu.

__ADS_1


Keesokan harinya, aku melihat ia tengah berbincang dengan seorang pria di pabrik milik orangtua ku. Ternyata wanita itu adalah karyawan di pabrik ini. Sampai aku mendengar pembicaraan mereka yang hendak makan siang bersama. Entah apa yang merasuki ku sehingga aku memiliki niat untuk mengganggu mereka. Aku berusaha menenangkan pikiranku sambil melaksanakan kewajiban ku di sebuah mushola. Hati ku seperti di bakar oleh si jago merah, api cemburu itu benar benar aku rasakan saat retina ku tanpa sengaja menangkap sosok wanita yang aku sukai masih bersama pria tadi.


Sampai tiba lah waktu makan siang, aku benar benar seperti orang konyol yang mengganggu orang lain makan siang. Aku duduk tepat di samping nya, aku tidak peduli pada pria yang sejak tadi kesal karena kehadiran ku. Aku benar benar merasa nyaman dekat dengan wanita yang masih asing ini. Sampai akhirnya aku melihat noda bumbu di wajah nya, dengan spontan aku mengusap nya dengan tanganku sendiri. Sungguh, dia benar benar cantik. Aku memutuskan untuk mengantarnya pulang saat waktunya pulang nanti, aku takut hal kemarin terulang lagi, aku tidak mau dia dalam bahaya. Namun pria itu kembali, niat nya sama dengan ku. Ia menghujani ku dengan umpatan umpatan kesal nya, namun aku sama sekali tidak peduli. Akhirnya aku mengetahui siapa namanya, nama yang indah dan cantik, bermakna perhiasan berharga. Sama seperti dia yang berharga di hidupku.


Keesokan harinya aku berniat untuk mengunjungi rumah nya kembali, namun ia sangat terkejut akan kehadiran ku pagi pagi buta. Aku melihat ia terus saja menggerutuki ku dengan kata kata nya. Namun aku sama sekali tidak peduli, dia benar benar menggemaskan. Sampai akhirnya teman wanita nya datang, dan mengira bahwa aku adalah pacar nya. Aku sama sekali tidak keberatan, sampai akhirnya seorang pria datang dengan wajah kecewa nya. Ia mengatakan akan menjemput wanita yang aku sukai, jelas aku tidak terima. Namun aku melawan nya dengan santai. Tetap saja aku pemenang nya,jelas aku yang lebih awal datang. Sampai akhirnya tiba di bioskop, aku tahu persis apa yang ada dalam pikiran pria ini. Hah aku harus mengalah karena halusinasi nya lebih keras daripada teriakku yang berusaha menyadarkan nya.


.


.


.


.


HANYA MENGINGATKAN!!! 🀣



Ini loh Babang Felix πŸ€—πŸ€—, aku takut kalian lupa jadi aku kembali tampilkan visual babang Felix di episode iniπŸ˜πŸ˜‹πŸ˜‹ menurut kalian sesuai ga sih?menurut author mah yaa sesuai banget lahh 😁😁 author nya Bandung banget ga tuh? wkwkwk


Jadi kapan Felix bakal jadian sama Berli?? harus di cari tau sih pasti !!πŸ˜‹πŸ˜‹


Lanjut terus sampe tamat Guyss,jangan kasih kendor πŸ‘»


follow my instagram : @ameliaynsh


JANGAN LUPA LIKE AND VOTE YAAπŸ€—πŸ€—


LOVE YOU ALL!!! ❀❀❀


πŸ‘‡

__ADS_1


πŸ‘‡


__ADS_2