
Felix dan Ozcan telah menikmati indah nya pantai itu. Mereka memutuskan untuk berkeliling di sekitar sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke villa.
"Simit". Felix tersenyum renyah, saat melihat penjual simit di sepanjang jalan.
Ozcan mengikuti arah pandangan Felix, ia heran mengapa respon Felix demikian. "Ada apa?. Mengapa kau tersenyum?".
Felix terkekeh. "Berli sangat menyukai simit. Ntah, aku hanya ingin tertawa saja saat mengingat nya".
Ozcan ikut tertawa kecil. "Baiklah, aku mengerti".
Felix menghampiri penjual simit itu, dan membeli beberapa potong untuk ia dan Ozcan makan. Ia juga mengabadikan gambar itu, untuk di kirim nya kepada Berli.
Teşekkürler (terimakasih). Ucap penjual simit itu, sembari memberikan uang kembalian.
"Felix, Ozcan?". Suara wanita itu terdengar lirih di telinga mereka.
Mereka berdua menoleh ka arah sumber suara. Betapa terkejut nya mereka, terutama Felix, ia tak menyangka pertemuan ini akan terjadi.
"Gulcin?". Felix tak menyangka.
Gulcin berjalan, mendekati mereka berdua dengan penuh senyuman. Gulcin Akashma Backir, adalah mantan kekasih Felix saat ia masih bersekolah di Turki.
__ADS_1
"Merhaba Felix, nasılsın? Uzun zamandır seni görmüyorum. seni tekrar gördüğüme memnun oldum" (Hai Felix, apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu. Senang bisa bertemu dengamu lagi).
Ia mengalihkan pandangan nya ke arah Ozcan. "ve Ozcan, nasılsın?". (dan Ozcan, apa kabar?)
"İyiyim. Ben de çok memnun oldum". (Kabarku baik, senang bertemu denganmu juga". Balas Felix. Begitupun Ozcan, ia hanya tersenyum.
"Bu arada, burada ne yapıyorsun? Zaten Endonezya'da yaşamıyor musun?". (ngomong-ngomong, sedang apa kalian disini?. Bukankah kalian sudah tinggal di Indonesia?).
"Buraya bir iş için geldik. ve tatil için zaman ayırıyor. Yakında Endonezya'ya döneceğiz". (Kami datang ke sini untuk pekerjaan. dan mengambil cuti untuk liburan. Kami akan segera kembali ke Indonesia). Sahut Ozcan.
Gulcin menatap lekat Felix. "Bu kadar çabuk ayrılmanız çok kötü. seni hala özlüyor olsam da". (sayang sekali kalian pergi begitu cepat, padahal aku masih merindukanmu).
Felix tahu persis sikap Gulcin. Ia memilih untuk tidak banyak merespon ucapan nya.
Gulcin berusaha menahan Felix "Felix, ama seninle bir süre konuşmak istiyorum.". (Felix, tapi aku ingin berbincang dengan mu sebentar).
Ozcan mengerti, ia menatap Felix, lalu pergi. Ozcan memberikan kesempatan Gulcin untuk mengobrol dengan Felix. Meskipun Felix tidak menginginkan itu.
Felix menghela nafas dalam, dan mengikuti langkah Gulcin untuk duduk di sebuah taman sekitar.
......................
__ADS_1
Sementara, waktu di Indonesia sudah menunjukkan pukul empat sore, yang dimana ini adalah waktu karyawan perusahaan pulang.
"Akhirnya selesai. Ah iya, aku harus mencari teman untuk datang ke acara nanti malam". Berli mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Ia melihat Vio yang masih mengemasi barang nya.
Berli menghampiri Vio. "Vio, bisakah kita pergi bersama malam nanti?. Sejujurnya aku tidak punya teman untuk datang kesana".
Vio heran, tak biasanya Berli berkata demikian. "Memang nya ke..?".
Kringg, ponsel Vio berbunyi, membuat ucapan nya terpotong. Vio memberikan isyarat tunggu kepada Berli, dan Berli mengerti.
Namun, seseorang di sebrang telepon itu membuat Vio terburu-buru.
"Baiklah, aku akan segera keluar". Vio menutup telepon.
"Berli, maafkan aku. Aku sedang buru-buru. Seseorang sudah menungguku di luar. Maaf ya, aku tidak bisa menemani mu". Ucap Vio. Vio menyangka bahwa Berli akan meminta menemani nya ke suatu tempat.
Vio sama sekali tidak tahu tentang pesan singkat itu. Karena jelas, pesan itu hanya di kirim kepada Berli.
Berli mengangguk seolah paham, bahwa Vio sudah memiliki teman untuk hadir ke acara tersebut. Padahal, Vio bukan sedang membicarakan acara itu. Mereka berdua sudah salah paham.
"Baiklah, tidak apa. Hati-hati..". Ucap Berli.
__ADS_1
"Lebih baik aku pulang terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan memikirkan nya". Berli melenggang, untuk pulang.