DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 149 - Kasmaran


__ADS_3

"Tidurlah. Ini sudah larut. Kau bisa sakit nanti".


Felix mengirim pesan itu saat ia melihat status ponsel Berli yang masih aktif hingga larut malam


"Entah.. Aku tidak bisa memejamkan mataku Felix. Rasanya badan ku sangat remuk". Jawab Berli yang detik itu juga langsung membalas pesan Felix


"Kalau begitu angkat panggilanku". Balas Felix kembali. Sontak ia menekan tombol panggilan telpon pada nomor ponsel Berli


Tanpa menunggu lama, Berli yang sangat sulit untuk tertidur itu pun langsung mengangkatnya


"Felix.. Ada apa sebenarnya?". Tanya Berli di sebrang telpon


"Kau mengatakan bahwa kau sulit untuk tidur. Maka dari itu aku menelpon mu". Jawab Felix


"Jadi kau ingin menemaniku? haha". Ucap Berli di sebrang telpon yang semata mata hanya bergurau


"Tentu saja. Kau pikir apa". Jawab Felix


"Apa itu benar? Aku tidak akan di minta bayaran karena kau menemaniku kan? haha". Ucap Berli tertawa renyah


"Bayar semua nya dengan masakanmu. Aku akan menagihnya nanti". Felix tersenyum


"Baiklah. Nanti aku akan memasak lagi untukmu". Ucap Berli tersenyum di sebrang telpon

__ADS_1


"Nanti dan seterusnya, kau akan memasak untukku". Ucap Felix tersenyum


"Apa maksud mu aku akan menjadi tukang masak pribadimu? haha". Ucap Berli


"Tentu saja. Dan bukan hanya itu. Kau akan menjadi temanku selamanya". Ucap Felix yang sebenarnya memberikan kode untuk Berli


"Teman? ya.. Baiklah.. Hanya teman..". Ucap Berli yang moodnya menjadi turun karena salah faham dengan apa yang Felix katakan. Namun ia masih mewarnai perasaan nya dengan senyuman agar Felix tidak curiga


"Ya.. Tentu saja teman". Jawab Felix. Tentu artinya sangat berbeda dengan yang Berli artikan.


"Ya.. Baiklah". Jawab Berli di sebrang telpon yang mood nya seketika ambruk begitu saja


"Kalau kau belum merasa pulih, lebih baik kau beristirahat besok. Tidak perlu berangkat bekerja". Ucap Felix penuh perhatian


"Aku pikir begitu.. Badanku terasa linu, terutama kaki ku". Jawab Berli


"Tidak perlu Felix. Jika kau ingin datang, datang saja. Tidak perlu membawa buah tangan". Ucap Berli


"Baiklah. Aku akan membawa nya besok. Makanan Turki kan?". Felix tertawa renyah seolah tak mendengar apa yang sebenarnya Berli katakan


"Tidak Felix.. Kau tidak perlu repot repot. Tidak perlu membawanya". Bantah Berli


"Baik tuan putri. Hamba akan membawaya besok. Mohon tuan putri bersabar". Ucap Felix tertawa renyah. Lagi lagi membuat Berli kesal bercampur kasmaran

__ADS_1


"Felix.. Kau ini.. ". Gumam Berli tersenyum di sebrang telpon


"Baiklah. Sekarang katakan padaku kapan kau akan tidur? Ini sudah larut. Jangan memikirkanku terus". Ucap Felix menggoda Berli


"Sepertinya ada yang begitu percaya diri disini". Jawab Berli tertawa renyah. Entah mengapa mood nya menjadi naik lagi


"Apa harus melihat wajahku agar kau bisa terlelap?". Ucap Felix menggoda Berli


"Felix.. Kau selalu saja merasa percaya diri". Ucap Berli di sebrang telpon dengan nada gemas nya


"Lalu kau akan menghabiskan waktu malam ini dengan berbicara bersamaku lewat telpon?". Tanya Felix terkekeh


"Semalaman? Memangnya apa yang akan kita bicarakan selama itu?". Jawab Berli tersenyum kasmaran


"Bahas.. Apa saja. Ceritakan semuanya padaku". Ucap Felix


"Apa yang harus aku katakan?". Tanya Berli terkekeh


"Tentang perasaan.. Mungkin.. ". Ucap Felix menggoda Berli


"Apa yang akan aku katakan ya?". Tanya Berli seolah tak mengerti sambil terkekeh


"Apa harus aku yang memulai untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu dan tak ingin jauh darimu?". Ucap Felix yang seketika membuat darah Berli berdesir hebat

__ADS_1


"Felix.. ". Gumam Berli tak percaya. Sontak ia mengusap mulutnya tanda tak menyangka Felix akan mengatakan semua itu begitu singkatnya. Pipi cantiknya mulai memerah, dan senyuman itu mulai merekah di bibirnya.


Berjam jam mereka berbincang lewat ponsel seolah tak kehabisan pembicaraan. Pertemuan tadi seolah sama sekali tak membuat mereka bosan. Malam yang larut begitu tak terasa bagi kedua insan yang sedang kasmaran itu.


__ADS_2