
"Kenapa mama belum kembali?". Ucap Romi yang membuat Berli dan Felix merasakan yang sama.
"Iya. Sebenarnya mama sedang apa?". Ucap Felix.
'Apa jangan-jangan, Bu Inez tersinggung saat aku menceritakan masalah pribadiku. Apa mungkin ia tidak akan setuju karena asal usul keluargaku yang bisa di bilang berantakan?. Di bandingkan keluarga nya yang utuh, aku memang tidak pantas'. Berli membatin
"Kenapa melamun, hmm?". Ucap Felix saat melihat Berli ikut termenung.
"Tidak, aku tidak apa-apa". Berli tersenyum menatap Felix.
"Ya sudah, habiskan makanan nya". Ucap Felix lembut.
"Oh ya, kakak.. Bolehkah sesekali aku datang ke rumah kakak?. Aku ingin tahu dimana rumah kakak". Ucap Romi.
"Aku tidak punya rumah Rom. Rumah ku adalah rumah sewa. Jadi, semua serba seadanya". Ucap Berli
"Tidak apa. Dulu juga aku pernah tinggal di tempat kost. Yang terpenting itu kenyamanan kan". Ucap Romi tersenyum.
"Kau benar". Ucap Berli.
"Mama, darimana?". Ucap Felix yang melihat ibunya baru kembali.
"Mama tadi ke toilet sayang, kalian makan saja. Mama sudah kenyang". Ucap Bu Inez. Ia mencoba menyembunyikan kecemasan nya dan tidak ingin orang lain mencurigai tingkah nya.
"Oh ya, Berli.. Tambah makanan mu nak, kau harus banyak makan". Ucap Bu Inez penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Iyaa ma". Ucap Berli tersenyum. Dalam hatinya, ia begitu bahagia karena bisa memanggil seseorang dengan sebutan Mama. Sebutan yang tentu sudah lama. tidak ia katakan kepada seorang wanita yang sudah melahirkan nya. Kini ia merasa memiliki orangtua kembali.
......................
"Semoga saja Felix ada di rumah. Aku sudah berdandan cantik. Semoga Felix suka.. ". Ucap Lathesia melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
"Sebentar lagi sampai.. Aku jadi tidak sabar.. ". Ucap Lathesia penuh senyuman. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bertemu Felix.
Tiba-tiba, terdengar suara letusan ban.
"Ya ampun.. ". Ucap Lathesia yang langsung menghentikan laju nya.
"Astaga, ban nya bocor". Ucap Lathesia saat turun dari mobil dan mendapati ban mobil nya yang bocor.
"Bagaimana ini.. Aku bisa terlambat datang. Siaaal.. ". Umpat Lathesia kesal.
"Ah iya. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ban mobilku pecah. Jika kau berkenan, kau bisa membantuku kan?". Ucap Lathesia segan.
"Tentu saja, Nona tenang saja". Ucap pria itu.
"Lagi-lagi ada hambatan.. ". Gumam Lathesia.
......................
"Felix, ini sudah malam. Aku harus pulang". Ucap Berli yang sudah menyelesaikan makan malam dan sedikit berkeliling di rumah mewah ini. Ia rasa, pertemuan malam ini sudah cukup.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang". Ucap Felix
"Oh ya, dimana ibumu dan Romi?. Aku ingin berpamitan". Ucap Berli.
"Sebentar, aku akan memanggil mereka". Ucap Felix yang langsung melenggang.
Tak berselang lama, Bu Inez dan Romi turun.
"Mama, aku pamit pulang. Maaf ya, jika kedatanganku merepotkan mama. Terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk datang kemari". Ucap Berli hendak berpamitan. Ia menyalami tangan Bu Inez dan memeluk nya setitik.
"Iya sayang. Tidak ada yang di repotkan. Mama senang kau datang kemari". Ucap Bu Inez yang tentu lain di hatinya.
"Romi, terimakasih yaa.. Jika kau ingin datanh ke rumahku, datang saja kapanpun kau mau". Ucap Berli
"Tentu saja. Kak Berli kan kakaku". Ucap Romi tersenyum. Ia menyalami tangan Berli.
Deggg,, ucapan Romi membuat Bu Inez tertegung dan kembali gusar.
'Ternyata mama sangat menyukai Berli. Aku sangat bersyukur. Berarti mama tidak akan memaksaku untuk kembali bersama Lathesia'. Felix membatin.
"Baiklah, ayo sayang..". Ucap Felix.
"Mama, Romi, aku pamit ya.. Assalamualaikum". Ucap Berli tersenyum.
Romi dan Bu Inez menjawab salam dari Berli.
__ADS_1
Felix dan Berli melenggang, namun saat sesampai nya ia di pintu mobil, sepasang mata memperhatikan nya dengan penuh tatapan kesal.
"Bukankah itu Berli?. Kenapa ia bersama Felix?". Ucap Lathesia dengan sorot mata yang tajam. Memang ia baru saja datang, dan hendak memarkir mobil. Namun, sebelum ia benar-benar memposisikan mobilnya, pemandangan yang tak mengenakkan sudah terpampang.