
"Aditya, apa yang terjadi?". Tanya David penuh kecemasan
"Aku tidak mengerti pak, para konsumen melakukan pembatalan yang begitu signifikan. Jika seperti ini terus, aku rasa perusahaan akan bangkrut". Jawab Aditya yang masih setia di depan komputer itu
"Lalu bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Jika aku terus mengadukan ini kepada Bu Inez, ia mungkin tidak akan percaya. Kita harus mencari solusi nya sendiri Aditya". Ucap David sambil mengacak kasar rambutnya. Pikirannya benar benar berputar disini.
"Apa mungkin kita harus menurunkan harga penjualan? Tetap apa ini akan berhasil?. Bahkan kita tidak tahu apa alasan mereka membatalkan pemesanan mereka. Lihat, bahkan ada konsumen yang membatalkan kerja sama juga pak". Ucap Aditya sambil menunjukkan sebuah data masalah yang begitu pesat itu.
"Aku benar benar tidak habis pikir, ini terlalu pesat". Ucap David
"Apa semua baik baik saja?". Suara wanita yang begitu nyaring terdengar di ruangan itu. Sontak Aditya dan David menoleh ke arah sumber suara
"Bu.. Inez?". David terbelalak mendapati pemandangan di hadapan nya
"Kenapa? Ada apa? Kenapa kau terkejut seperti itu?. Katakan, apa yang terjadi?". Tanya Bu Inez penuh selidik
__ADS_1
"Aku.. Saya, maaf Bu. Perusahaan lagi lagi mengalami kerugian yang begitu signifikan. Saya dan Aditya sudah berusaha semaksimal mungkin meminimalisir semua ini, tetapi kejadian ini tetap saja terulang kembali. Bahkan ada pelanggan yang membatalkan kerja sama dengan kami. Saya benar benar bingung harus melakukan apa". Jawab David penuh pengertian. Mau tidak mau ia harus mengatakan semuanya pada Bu Inez
"Apa?. Apa alasan mereka melakukan semua itu?. Apa selama aku tidak disini semua menjadi kacau?". Pertanyaan Bu Inez yang membuat kedua insan itu tersentak
"Tidak, tidak.. Tidak seperti itu, karyawan disini selalu melakukan apa yang menjadi tanggungjawab nya. Saya pikir mungkin konsumen itu mengalami penurunan ekonomi yang sama drastisnya. Jadi.. Apa mungkin kita harus menurunkan harga penjualan demi membawa kembali para konsumen?". Ucap David
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaanku David. Aku percaya padamu, bantu aku. Saat ini semuanya sedang dalam keadaan sulit. Aku akan meminta bantuan Bram untuk ini. Aku pikir aku sudah tidak sanggup lagi mengurus semuanya sendiri". Ucap Bu Inez sambil berlalu pergi
"Bagaimana ini?. Aku benar benar bingung Aditya.. ". Gumam David sambil menatap kepergian Bu Inez
......................
Brugg,, tiba tiba kedua wanita itu terjatuh
"Maafkan saya bu, saya tidak berhati-hati. Saya sangat menyesal, maafkan saya". Ucap Berli penuh permohonan. Ia memohon sambil menyatukan kedua tangan nya
__ADS_1
"Lagi lagi kau?, kau terlambat?. Kenapa kau tidak bisa disiplin dalam bekerja hah?. Apa kau ini orang penting sehingga kau selalu saja mengesampingkan pekerjaan?. Oh, sepertinya kau adalah salah satu alasan mengapa perusahaan ku nyaris hancur!". Ucap Bu Inez penuh penekanan. Darahnya begitu mendidih mendapati Berli yang baru saja datang
"Saya mohon maaf sebesar besarnya, saya benar benar menyesal atas semua ini. Tetapi percayalah Bu, saya selalu memprioritaskan pekerjaan. Akan tetapi tadi ada sesuatu yang membuat saya terlambat datang. Saya mohon maafkan saya". Lagi lagi Berli memohon dengan penuh permohonan
"Aku tidak ingin lagi melihatmu datang terlambat. Aku ingat betul wajahmu. Jangan pernah melakukan kesalahan lagi. Atau kau akan tahu akibatnya!". Ucap Bu Inez penuh penegasan sambil berlalu pergi
"Berli, kau bodoh sekali". Ucap Berli menggerutuki dirinya
"Lian.. ". Ucap seorang pria yang suaranya terdengar di koridor itu. Membuat Berli menghentikan langkahnya.
"Pak David?". Ucap Berli sambil menghadap ke sumber suara
"Aku harap kau tidak akan tersinggung dengan perkataan Bu Inez tadi. Ia sedang kalut karena masalah perusahaan, kau jangan membawa hati perkataan nya ya. Sebenarnya ia orang yang baik. Tetapi mungkin.. ". Ucap David yang langsung di sambat oleh Berli. Ternyata sedari tadi David mendengar setiap inci dari perkataan Bu Inez
"Ssstt,, iya pak. Aku mengerti. Sudah, jangan hiraukan hal itu. Wajar saja jika ia menegur, karena aku memang melakukan kesalahan. Aku terlambat, dan memang sudah seharusnya seperti itu. Sudahlah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku baik baik saja, percayalah". Ucap Berli tersenyum
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu.. ". Jawab David dengan penuh senyuman
"Wanita itu benar benar menculak. Aku harus terus memantaunya sebelum perusahaanku benar benar hancur". Gumam Bu Inez yang kini berada di mobil miliknya. Ia masih menyimpan kekesalan kepada Berli