DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 280 - Pingsan


__ADS_3

Berli menangis sesegukan di dalam toilet. Ia tak percaya Felix akan sangat membencinya seperti itu.


"Felix, mengapa kau berkata seperti itu? Itu sangatlah menyakitkan".


"Aku tidak melakukan apapun".


"Aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan itu"


"Seseorang telah menjebakku"


"Percayalah padaku"


Gumam Berli di tengah isak tangis nya.


Kesedihan itu kian membuncah. Rasanya ingin sekali memutar waktu, andai saja ia tak pernah datang memenuhi undangan itu. Hal ini pasti tidak akan terjadi.


......................


"Terimakasih pak". Ucap penjaga yang membawa makanan pemberian Berli. Ia langsung melenggang pergi.


Felix hanya mengangguk. Namun ia tak bisa berhenti memikirkan perkataan nya tadi. Ia mengingat wajah sedih dan kecewa Berli.

__ADS_1


"Mengapa di saat aku berusaha menyakitinya, justru aku juga yang merasa sakit?. Perkataanku dan sikapku tadi, itu pasti akan sangat menyakitinya. Dan aku juga merasakan hal yang sama. Tetapi aku belum bisa menerima kenyataan ini. Aku tetap harus menjauh darinya. Meskipun ini akan sangat menyakitkan. Suatu saat nanti kami akan terbiasa"


"Maafkan aku Berli. Kesalahanmu terlalu fatal"


......................


Hari yang sulit ini akan segera terlewati. Waktu sudah memasuki jam perpulangan.


Gadis itu berjalan sendiri. Ia terlihat rapuh dan tidak fit.


"Berli, kau harus kuat. Kau tidak boleh sakit". Gumam nya.


Berli merasakan pusing di kepala nya. Ia juga merasa tidak enak badan. Mungkin karena hujan tadi yang membuat nya basah kuyup, dan jam makan siang yang sudah ia lewatkan.


Ia meminjat ringan kepala nya, sembari meminum air yang ia bekal.


"Kepalaku pusing sekali"


Tidak ada siapapun disana. Karyawan lain sudah pulang sejak tadi. Sementara Berli pulang terlambat.


David yang daru kejauhan melihat pemandangan itu, ia khawatir dan langsung mendatangi nya.

__ADS_1


"Berli? Kau baik-baik saja?". Ujar David cemas.


Berli yang sedang dalam keadaan sakit, ia melupakan masalah yang terjadi di antara mereka.


"Kepalaku pusing".


"Berli, aku akan mengantarmu pulang. Kau mau kan?".


Saat itu juga, Felix sedang melintas di dekat mereka. Pemandangan itu cukup membuat nya sakit mata. Namun ia masih memantau nya dari kejauhan.


"Baiklah". Berli beranjak dari tempat duduk nya. Baru saja ia memulai untuk berdiri, namun ia langsung hilang kesadaran. Hal ini membuat David terkejut dan refleks menopang badan nya.


"Berli!". Sontak Felix terkejut, dan hendak bergegas menghampiri nya. Namun sesuatu menghentikan nya.


Berli jatuh pingsan, dan langsung di pangku oleh David. Hal ini yang membuat Felix berhenti. Bayangan dari video itu, setiap inchi nya.. Ia seperti sedang melihatnya lagi saat ini di depan mata nya.


Tatapan Felix tajam ka arah mereka. Rasanya campur aduk. Gambaran dari video itu, meskipun kekhawatiran mendominasi tapi Felix berusaha untuk menahan diri.


"Dia bukan milikmu lagi Felix". Felix memejamkan mata nya sejenak, dan menghela nafas. Namun hati memang tidak bisa bohong, ia tetap khawatir dengan keadaan Berli. Melihat Berli terkapar lemas dan sakit, hatinya begitu terbesit. Mungkinkah sikap nya sejak tadi pagi sangat berpengaruh pada keadaan fisik nya?.


"Berli, bangunlah... ". Ucap David, ia bergegas membawa Berli agar bisa mendapatkan perawatan dari dokter.

__ADS_1


Sementara Berli sama sekali tak membuka mata nya.


__ADS_2