
Berli menghabiskan hari-hari nya di rumah. Ia tak bekerja, bahkan ia belum makan sama sekali sejak pagi.
"Aku tidak mood untuk makan". Berli menutup kembali lemari makanan, tanpa mengambil makanan apapun di dalam nya.
Ia hanya membuat teh manis hangat, untuk ia minum.
Kringg, tiba-tiba ponsel nya kembali berbunyi.
Ia belum ada niatan untuk mengangkat nya. Namun, ponsel itu tak ada henti nya berbunyi.
"Hufftt". Berli akhirnya meraih ponsel itu.
"Nona Zaynap?". Berli mengernyit heran. Akhirnya ia menjawab telepon itu.
"Halo.. Selamat siang Nona Berli". Ucap Zaynap di seberang telepon.
"Selamat siang Nona Zaynap. Ada apa?".
"Nona Berli, perihal gaun kemarin.. Akhirnya kami bisa menyelesaikan secepat mungkin. Gaun itu sudah tujuh puluh lima persen, sisa nya akan siap selama dua hari kedepan. Kau tahu? Ini proyek tercepat kami selama berkarir. Akhirnya, kau dan Tuan Felix tidak akan menunggu terlalu lama. Oh ya, Nona Berli.. Jika kau ada waktu, bisakah menyempatkan diri untuk datang kemari?. Begini, kita harus mencoba make up yang akan kau kenakan nanti. Biasanya, kami melakukan percobaan satu pekan sebelum acara".
__ADS_1
Degg,, Berli hanya terdiam. Mendengar semua itu, yang kini rasa nya tidak mungkin. Antusias nya kemarin, kini berubah menjadi kecemasan.
"Terimakasih banyak Nona Zaynap. Aku akan membicarakan ini dengan Felix, setelah ia pulang nanti. Terimakasih atas informasi nya". Ucap Berli, berat.
"Baiklah, kalau begitu.. Kami tunggu kedatangan mu Nona Berli. Selamat siang".
Telepon terputus. Berli kembali merenung. Kali ini, ia mengusap perut nya.
"Apa mungkin, akan ada kehidupan di dalam sini?. Kehidupan yang tak pernah ku bayangkan. Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Bagaimana jika aku mengandung anak David?".
Berli kembali melayang. Ia tak sanggup bayangkan, jika ia benar-benar mengandung anak David.
......................
"Pak David?".
David tersentak. Ia membuyarkan lamunan nya. "Ah, Ya. Aditya? Kau mengatakan sesuatu?".
"Pak, apakah Bapak sedang sakit?. Bapak bisa beristirahat. Biar aku yang mengerjakan semua ini".
__ADS_1
"Tidak Aditya. Aku baik-baik saja". David tersenyum, menutup pikiran nya dari Aditya.
"Baiklah".
'Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?. Aku yakin, orang yang melakukan semua ini tahu persis tentangku dan Berli. Aku merasa kasihan pada Berli. Ia pasti sangat terbebani oleh semua ini. Andai malam itu tidak ada, dan aku tidaklah datang, semua itu tidak akan terjadi'. Batin David. Ia begitu kalut dan sulit untuk berkonsentrasi.
......................
"Felix, kau yakin kita tidak akan tinggal disini lebih lama lagi?". Ucap Ozcan, melihat Felix tengah berkemas.
"Tidak. Aku rasa sudah cukup. Lagipula masalah pekerjaan sudah selesai. Untuk apa lagi aku berada disini".
"Mungkinkah kau ingin menemui teman lama kita?. Ini akan menjadi moment yang baik sebelum kita kembali ke Indonesia, bukan?".
"Itu benar. Tetapi, aku mengkhawatikan Berli. Selama ini ia pasti selalu pulang dan pergi sendirian. Selain itu, aku juga harus mengurus urusan pernikahanku kan".
Ozcan mengangguk. "Kau benar".
Toktoktok,, seseorang mengetuk pintu.
__ADS_1
"Siapa yang datang, kau mengundang seseorang?". Felix heran. Pasalnya, selama ia berada disini, mereka tak pernah kedatangan tamu.
Ozcan menggeleng, sembari meleggang ke arah pintu. "Tidak sama sekali. Biarku lihat".