
"Di..Di..Dia?". Lathesia terbelalak. Ia memang sudah tahu hubungan mereka. Namun entah mengapa, ia selalu terkejut, melihat foto Berli dan Felix begitu terpampang jelas.
Berli terkejut. "Lathesia, ada apa?. Kenapa kau begitu terkejut?"
"Benarkah, dia kekasihmu?"
Berli semakin tak mengerti. "Iya, tentu saja. Ada apa? Kau mengenalnya?"
Lathesia terdiam. Semakin membuat Berli bingung.
"Lathesia, katakan. Ada apa?. Kau mengenalnya?".
"Lupakan saja. Ah iya, Berli.. Ini sudah malam, aku pikir aku harus pulang".
"Lathesia, tapi kenapa tiba-tiba?". Berli semakin heran dengan sikap Lathesia yang tiba-tiba berubah.
"Ini sudah malam. Aku akan datang lagi lain waktu. Selamat untukmu ya". Lathesia pura pura tersenyum. Ia pun melenggang ke arah pintu, untuk kembali pulang.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati". Berli tersenyum namun ia masih bingung.
__ADS_1
"Apakah Lathesia tersinggung saat aku memperlihatkan pasanganku, sedangkan ia tidak memiliki pasangan?. Tetapi dia sendiri yang memintaku memperlihatkan nya. Atau mungkin Felix dan Lathesia saling kenal?. Aku akan menanyakan ini pada Felix". Gumam Berli, menatap Lathesia yang berlalu.
......................
"Lalu bagaimana?. Dia akan di penjara kan?". Tanya Ozcan.
Felix mengangguk. "Ya. Tentu saja. Aku sudah mengurusnya"
Saat ini Felix memang tengah berada di sebuah cafe. Ozcan meminta nya untuk menemui nya setelah urusan di kantor polisi selesai. Maka dari itu, Felix berada disini sekarang.
"Lalu bagaimana sekarang?". Tambah Felix.
"Ya, sesuai administrasi pada umum nya, kau harus meninjau langsung ke tempat nya. Tentu saja kau harus pergi dalam waktu dekat. Apa kau sudah tahu, kapan kau akan pergi?". Ucap Ozcan.
Ozcan tertawa kecil. "Ayolah kawan, memang nya kau ada urusan apa hmm?. Kau berlaga seperti orang sibuk"
"Aku akan menikahi Berli dalam waktu dekat". Jawab Felix ringan.
Ozcan terkejut. "Oh ya?. Waw, Bung!. Anda pria yang sangat gentle"
__ADS_1
"Kau berlebihan". Ketus Felix.
"Maksudku, dalam waktu sesingkat ini, kau luar biasa, dan penuh kepastian". Ozcan bertepuk tangan ringan
"Itu memang sudah seharusnya. Kau sendiri seharusnya mulai memikirkan itu sebelum kau menjadi perjaka tua". Felix terkekeh.
Ozcan tertawa geli. "Kau benar"
"Hmm. Baiklah, aku punya solusi. Kita akan pergi ke Turki dalam waktu dekat untuk mengurus bisnis ini. Untuk sepekan, atau dua pekan misalnya... Setelah itu, kau bisa pulang. Sisa nya, aku yang akan mengurusnya. Kau akan melanjutkan nya setelah acara pernikahan mu. Kau bisa pergi dengan Berli kan, nanti?. Bisa untuk moment bulan madu". Ozcan berbisik di akhir kalimat.
Felix tersenyum, ia setuju dengan ucapan Ozcan. "Ide bagus. Aku akan mengatur waktu nya. Ya, aku tidak menyangka ternyata kau pintar". Felix terkekeh
"Tentu saja. Kau saja yang tidak menyadarinya". Pekik Ozcan.
......................
"Lihat betapa kau akan hancur Berli!. Aku tidak terima!. Aku membencimu!. Aku benci!".
Teriak Lathesia,yang kini berada di club malam. Saat pulang dari kediaman Berli, entah angin apa yang membawanya kemari. Ia memang berniat menenangkan diri dengan segelas minuman keras. Setelah bertahun-tahun, ia baru menapakkan kaki nya lagi di tempat seperti ini.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah bisa menyaingiku wanita miskin!. Kau tidak ada apa-apa nya di bandingkan denganku!. Aku benci dirimu!. Aku benci!. Aku akan membunuhmu Berli!. Kau membuatku frustasi"
Lathesia mabuk keras, sambil berteriak teriak mengatakan kebencian nya pada Berli. Tentu tak ada yang mencegah nya. Karena setiap orang yang ada di sana fokus pada kesenangan nya masih-masing.