
Di rumah mewah nan megah seorang wanita hampir paruh baya masih setia menunggu anak nya yang kini tak kunjung pulang. Ia adalah Bu Inez yang masih menunggu Felix yang tak kunjung pulang.
"Assalamualaikum". Suara gagah itu terdengar di ambang pintu
"Waalaikumsallam". Sambil berlari menghampiri sumber suara itu
"Sayang, kamu kenapa?, ini?, kamu berkelahi dengan siapa?. Mama khawatir". Ucap Bu Inez sambil tak berhenti memperhatikan Felix. Dan melihat memar yang ada di wajah tampan putra sulung nya.
"Gapapa kok ma... Cuma luka kecil, udah di obatin" . Ucap Felix lembut, menenangkan Ibunya
"Kamu dari mana sayang?, ini sudah larut, kamu pulang dengan keadaan seperti ini. Siapa yang berani menghajar kamu?". Tanya Bu Inez penuh selidik, tak lepas dari pandangan Felix.
"Udah lah mah, felix mau istirahat, besok kita ngobrol nya ya.... Udah dadahh ma..". Ucap Felix sambil mengecup kening ibu nya. Felix memang penyayang dan lembut. Hanya saja, sejak di hianati masalalu nya, Felix terkadang terkesan cuek dan kadang mudah marah.
......................
"Pria tadi itu..... Sangat baik, tapi cuek, dia terlihat sangat berwibawa". Ucap seorang gadis yang masih mengingat kejadian buruk yang menimpa nya tadi. Bukan nya mengingat kejadian buruk, ia justru malah mengingat wajah pria tampan yang menolong nya.
"Ah apa sih udahlah, lagian siapapun yang memiliki hati baik pasti akan menolong, bukan dia saja, udah ah". Ucap Berli sambil menampar kecil pipi nya.
Ia memang terngiang bagaimana kejadian saat ia di tolong Felix tadi, ia merasakan ada yang lain dalam hati nya. Entah itu apa, ia sangat teringat bagaimana pria tampan itu memegang erat tangannya. Membayangkan nya, hanya membuatnya senyum senyum sendiri
"Ah bahkan nama nya pun aku tidak tahu, mana mungkin aku suka orang itu, engga engga, ah udahlah ga masuk akal. Aku tidur aja deh". Ucap Berli yang bergelut dengan pikirannya, dan langsung bergegas untuk tidur. Sungguh baginya hari ini adalah hari yang berat.
~Di tempat lain..
__ADS_1
Seorang pria tampan dengan wajah memar nya, sedang asyik menatap langit langit dinding kamar nya sambil merebahkan tubuhnya.
"Huhh perasaan apa ini?. Aku ingin menghilangkan nya, tapi malah terpampang nyata di hadapan ku". Gerutu Felix pada dirinya sendiri.
"Bahkan aku lupa menanyakan siapa namanya. Sudahlah, aku tidak akan percaya lagi pada wanita, mereka semua sama saja. Tapi..apa mungkin dia akan berbeda?. Ah tidak tidak, aku tidak akan mudah percaya lagi."
Yaa... Itulah Felix sekarang yang sedang sibuk bergelut dengan isi kepala nya. Ia memang masih sangat trauma dengan masa lalu nya, maka ia akan membunuh perasaan nya pada wanita mana pun saat ia akan merasakan jatuh cinta lagi sebelum terlanjur.
......................
Pagi hari....
"Sayang bagaimana luka mu?, kenapa semalam?". Tanya Bu Inez saat Felix hendak sarapan
"Hanya kecelakaan kecil ma, tidak apa apa". Jawab Felix santai
"Gapapa ma, lagian Felix bukan anak kecil lagi. Felix cuma cari angin semalem". Jawab Felix
"Terus kamu mau kemana sekarang?". Tanya Bu Inez yang melihat putra sulung nya sudah rapi
"Ke pabrik". Jawab Felix singkat
"Tapi kamu masih sakit sayang". Ucap Bu Inez sambil mengusap punggung Felix
"Gapapa ma, lagian disana cuma main komputer doang kok". Jawab Felix
__ADS_1
Memang sudah beberapa hari ini Felix mulai mengelola pabrik milik orangtua nya, meskipun bos, tapi karyawan nya tidak ada yang tahu bahwa sekarang bos nya sudah berganti menjadi tuan muda yang tampan. Felix lebih memilih menyembunyikan identitas nya. Baginya, akan lebih tenang jika tidak di incar oleh wanita mata duitan di luar sana.
......................
Pagi ini seorang gadis harus kembali pergi mencari uang untuk menafkahi dirinya sendiri. Meskipun luka di kepala nya masih terasa, namun ia tetap semangat jalani hari. Siapapun tidak ada yang tahu keadaan kepala nya yang terluka saat ini. Karena ia tetap setia menggunakan hijab saat pepergian. Meskipun belum bisa istiqomah dalam mengenakannya, tapi ia selalu berusaha menutup aurat nya sedikit demi sedikit.
~Di pabrik
"Assalamualaikum Anii, sendiri aja nih?". Tanya pemuda yang selama ini menyukai Berli, ia memang sudah lama mendekati Berli, hanya saja Berli tidak menghiraukan perasaannya. Dan lebih memilih menganggapnya teman biasa. Laki laki yang tampan dan disiplin namun selalu taat menjalankan 5 waktu. Pria tampan yang seumuran dengan nya, tak lain adalah Abian Malik. Sudah lama ia menyimpan perasaan pada Berli, namun Berli tak kunjung membalas perasaan Abian.
"Waalaikumsallam, haii Bian, iyaa nih aku beda shift sama Laura". Jawab Berli sambil tersenyum ramah
"Lohh? kenapa, bukannya kalian selalu bareng bareng ya?". Tanya Abian
"Haha tidak apa apa,cuma ganti shift kok". Ucap Berli sambil tersenyum
"Kalo begitu, nanti bisa makan siang bareng aku kan?". Tanya Abian penuh harap
"Hmm insyallah". Jawab Berli sambil tersenyum
"Oke, nanti aku kembali buat jemput kamu". Ucap Abian sambil tersenyum menggoda
"Halahh kaya apa aja hhahaha". Jawab Berli sambil tersenyum
"Ya sudah aku lanjut kerja ya... Kamu jangan kemana mana nanti siang, awas kabur haha". Ucap Abian menggoda Berli
__ADS_1
"Hahaha iyaa iyaa". Jawab Berli tenang
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang dari tadi memperhatikan setiap percakapan mereka. Tersirat di wajah nya, tidak suka saat mengetahui mereka akan makan siang bersama.