
"Felix... Restoran ini?, wahh...". Ucap Berli terkesima dengan tempat yang baru di kunjunginya itu.
Ia mengedarkan pandangan nya ke sekeliling. Saat ini mereka memang tengah berada di depan sebuah restoran Turki yang Felix suka
"Kau senang?". Tanya Felix sambil tersenyum
"Iya... Aku suka sekali dengan negara Turki, ya meskipun aku belum pernah kesana hihi". Jawab Berli tersenyum renyah
"Baiklah, ayo masuk". Ucap Felix yang tiba tiba saja menggenggam erat tangan Berli
'Ya ampun, apa ini nyata?. Rasanya ingin sekali waktu terhenti saat ini juga'. Batin Berli yang begitu bahagia. Ia sama sekali tidak keberatan di genggam oleh Felix
"Silahkan, tuan, nyonya... ". Ucap seorang pelayan di ambang pintu mempersilahkan kedua insan itu masuk
"Felix... Apa ini benar?, maksudku... Aku datang kesini". Ucap Berli yang masih tidak percaya. Ia begitu kegirangan
"Ya, aku suka makan disini. Tetapi belum pernah bersamamu". Jawab Felix yang jantung nya berdegup begitu kencang, Berli hanya tersenyum.
Dan mereka langsung menghampiri meja kosong yang tak jauh dari tempatnya berdiri
"Tuan, nyonya. Silahkan, ini menu nya". Ucap seorang pelayan ramah
"Terimakasih.. ". Ucap Berli sambil membawa menu itu ke hadapannya
"Felix, kau saja yang pilih. Aku ikut saja". Ucap Berli yang seketika memberikan buku menu itu pada Felix
"Tidak, kau saja. Pesan apa saja yang kau mau, aku akan menuruti pesananmu". Jawab Felix
"Begitu ya. Apa itu tidak masalah?". Ucap Berli khawatir
"Cepat, aku bisa kelaparan nanti". Jawab Felix
"Baiklah, aku pilihkan". Ucap Berli yang langsung membuka menu di buku itu
"Kami pesan kofte, Baklava, dan Lokum minumnya teh Turki saja". Ucap Berli kepada pelayan
"Baik nyonya, pesanan akan segera datang". Ucap pelayan tersebut yang menuliskan pesanan dan berlalu pergi
"Ternyata selera makan mu sama dengan yang aku suka". Ucap Felix tersenyum tipis
"Oh ya?, kalau begitu aku tidak salah pilih". Jawab Berli bahagia
"Aku juga tidak salah memilihmu". Gumam Felix pelan namun terdengar samar oleh Berli
"Kau bilang apa Felix?". Ucap Berli penuh selidik
"Tidak ada". Jawab Felix
"Ya sudah. Ah iya, kau suka makan di tempat ini Felix?". Tanya Berli antusias. Ia memang menyukai negara Turki
"Iya, kau suka?". Jawab Felix
"Sebenarnya aku belum pernah memakan makanan khas Turki. Hanya saja aku asal memilih tadi. Yang aku pesan kelihatan enak, jadi aku pesan". Jawab Berli sambil tersenyum. Ia begitu antusias
"Begitu ya". Jawab Felix yang hatinya begitu bahagia karena melihat wanita yang di cintainya bahagia
"Ah iya, suatu saat nanti aku akan pergi ke Turki. Kau jangan menangis ya saat aku pergi nanti hahah". Ucap Berli bergurau
"Tidak, aku akan ikut bersamamu". Jawab Felix tersenyum tipis
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan mengajakmu. Wle". Ucap Berli kembali bersenda gurau
"Kau tidak mungkin berbulan madu sendirian". Ucap Felix sambil tersenyum tipis, membuat Berli terkejut
"Apa?". Ucap Berli penuh penekanan. Ia tak percaya Felix berkata demikian
"Silahkan tuan, nyonya...". Ucap pelayan yang tiba tiba saja datang memotong pembicaraan mereka
Kini hidangan khas Turki yaitu kofte, baklava, dan lokum sudah di sajikan. Tak lupa teh Turki yang menjadi minuman wajib setelah makan
"Terimakasih". Ucap Felix kepada pelayan. Berli hanya terdiam memikirkan perkataan Felix yang baru saja di dengarnya
"Kau kenapa?, ayo. Makanan nya sudah siap". Ucap Felix membuyarkan lamunan Berli. Ia tahu perisi apa yang Berli pikirkan
"Ah iya, ayo.. ". Ucap Berli bersemangat kembali. Hatinya begitu berbunga bunga
"Felix, kau mau makan yang mana? Biar aku ambilkan". Tanya Berli
"Aku akan memakan apapun yang kau ambilkan untukku". Jawab Felix sambil tersenyum tipis
"Kau ini". Ucap Berli tersenyum. Ia langsung memperhatikan hidangan yang ada di depan nya.
"Felix, kita makan kofte terlebih dahulu saja ya.. Biar aku ambilkan". Ucap Berli
Kini hidangan yang terbuat dari campuran daging sapi dan kambing itu menjadi menu pilihan pertama mereka. Kofte adalah makanan khas Turki yang terbuat dari campuran daging sapi dan kambing yang di giling dan di olah kembali menjadi berbentuk seperti sate buntel khas Jogja, hamburget patty, atau bola. Makanan itu di sajikan bersama saus dip.
Dengan telaten Berli mengambilkan makanan yang di pilihnya itu ke piring saji milik Felix. Ia melakukannya dengan penuh senyuman
"Apa enak?". Ucap Felix saat melihat Berli mulai menyantapnya
"Wahh Felix.. Ini enak sekali, aku suka". Ucap Berli bahagia. Ia kembali menyantap hidangan itu
"Kau juga harus makan, ayo.. Biar aku suapi". Ucap Berli yang sontak memberikan makanan nya ke mulut Felix. Sebenarnya ia refleks karena begitu senang
"Eh maaf... Maksudku, ayo Felix, kita makan bersama". Ucap Berli yang menghentikan tindakannya. Seketika ia menurunkan tangan nya. Ia benar benar menjadi sungkan
"Kau bilang akan menyuapiku. Ayo". Ucap Felix yang membuat Berli terkejut
"Tadi itu.. Aku hanya.. ". Ucap Berli gugup dan langsung di sambar Felix
"Aku mau di suapi". Ucap Felix membuat Berli terkejut. Namun tentu kedua insan itu sebenarnya bahagia
"Baiklah". Ucap Berli yang langsung menyuapi Felix. Tersirat rasa bahagia di ufuk mata keduanya.
'Suatu saat nanti aku akan mewujudkan keinginan mu untuk pergi ke negara itu. Tentu setelah kau dan aku menjadi kita'. Batin Felix tersenyum menatap wajah cantik Berli
"Felix.. Aku ingin menanyakan sesuatu". Ucap Berli sungkan. Kini mereka sedang menyantap hidangan penutup yang melambangkan kegiatan makan mereka akan segera usai
"Tanyakan saja". Ucap Felix sambil meminum teh Turki yang ada di depan nya
"Kau bilang paca... Eh kekasih.... Emm... Kekasihmu ada di cermin?. Apa itu maksudnya? Maksudku... ". Ucap Berli terbata. Ia begitu gugup menanyakan pertanyaan konyol itu
"Pffttt". Felix terkekeh mendengar pertanyaan Berli
"Ah sudah, lupakan saja". Ucap Berli yang pipinya mulai memerah. Seketika ia langsung menundukan kepalanya
'Berli bodoh, bagaimana bisa kau menanyakan pertanyaan konyol seperti ini'. Batin Berli
"Kau sudah melihatnya di cermin?". Tanya Felix kembali serius
__ADS_1
"Tidak... Mmm.. maksudku, aku... Hanya aku yang berada di cermin. Ah lupakan saja, ini terdengar konyol". Ucap Berli menahan malu
"Kau sudah tahu jawaban nya. Kenapa harus bertanya?". Ucap Felix menatap lekat Berli
"Jadi maksudmu.....?". Ucap Berli yang langsung kembali menatap Felix
"Kau". Jawab Felix tersenyum tipis. Seketika Berli terdiam
"Kau sangat ceroboh, lihat.. Ada makanan di pipimu". Ucap Felix mengalihkan pembicaraan dan menyapu lembut pipi Berli.
Sebenarnya ia memang mengakui perasaannya secara tidak langsung. Namun ia kembali mengurungkan niatnya. Dan kebetulan melihat ada makanan di pipi Berli
"Ehh". Ucap Berli yang sontak ikut mengusap pipinya
'Maafkan aku Berli, aku rasa ini bukan saatnya. Aku harus benar benar memastikan apa kau tulus kepadaku atau tidak. Aku tidak ingin gagal lagi'. Batin Felix sambil menatap lekat wajah Berli. Tangan nya masih setia berada di pipi mulus Berli
'Felix, maaf aku sudah berharap lebih darimu. Seharusnya aku tidak memiliki perasaan ini terhadapmu. Tentu kau tidak benar benar dengan perkataanmu'. Batin Berli yang seketika mood nya menjadi berantakan. Ia begitu berharap Felix akan mengungkapkan perasaan nya
"Ehh". Ucap Felix yang tersadar dan langsung menepikan tangan nya dari pipi Berli
"Felix, aku rasa... Ini sudah malam, aku ingin pulang sekarang saja". Ucap Berli yang tak bisa menahan mood nya yang seketika berantakan
"Baiklah, ayo.. ". Ucap Felix. Ia merasa sekarang memang sudah cukup malam
'Iya, seharusnya aku tidak terlalu berharap kepada manusia, karena itu pasti akan membuatku kecewa. Tetapi mengapa aku menjadi kesal seperti ini?, padahal aku sama sekali tidak berhak'. Batin Berli yang kini sudah berada di perjalanan untuk pulang. Ia kembali di antar Felix. Sedari tadi tidak ada perbincangan apapun di antara mereka
'Kenapa dia?, kenapa sikap nya tiba tiba berubah'. Batin Felix. Karena sedari tadi Berli hanya diam, tak seperti saat perjalanan pergi tadi
"Ekhmm.... Apa kau tidur?". Ucap Felix memecah keheningan
"Tidak.. Aku disini". Jawab Berli yang berusaha menutupi perasaannya
"Apa kau senang?". Tanya Felix mencari bahasan
"Iya. Terimakasih sudah mengajak ku kesana". Jawab Berli. Meskipun mood nya buruk tetapi ia berusaha baik baik saja
"Kenapa kau hanya diam sejak tadi?". Tanya Felix
"Tidak, aku hanya mengantuk. Itu saja". Jawab Berli
"Baiklah, kita akan segera sampai di rumahmu". Ucap Felix yang menambah laju kecepatan motornya
......................
"Felix, terimakasih". Ucap Berli yang kini sudah berada di halaman rumah nya. Felix mengantarnya selamat sampai tujuan
"Aku senang jika kau senang". Jawab Felix yang kembali membuat Berli berharap
"Hmm". Gumam Berli sambil tersenyum tipis. Namun ia berusaha menghilangkan harapannya
"Baiklah, aku pulang. Selamat tidur.... Sampai bertemu besok, assalamualaikum...". Pamit Felix yang tak menyadari perasaan Berli
"Baiklah, waalaikumsalam". Jawab Berli yang menatap kepergian Felix sampai hilang dari pandangan nya.
'Apa dia seperti ini gara gara aku menggantungkan perkataanku tadi?, apa dia sudah menyukaiku?. Bagaimana ini'. Batin Felix
"Ya, seharusnya kau tidak terlalu berharap banyak Berli. Kau itu benar benar konyol". Ucap Berli sambil menatap pantulan dirinya di cermin
"Sudahlah, sepertinya aku harus melupakan perasaan ku. Tidak mungkin pria setampan Felix menyukai wanita sepertiku". Ucap Berli kembali psimis
__ADS_1
"Aku bahkan lupa menanyakan tentang kado itu. Huh, seharusnya aku tidak boleh tiba tiba unmood seperti ini. Tapi aghhh entahlah, aku malah terpuruk oleh harapanku sendiri. Padahal aku tidak berhak seperti ini". Ucap Berli yang menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur untuk segera beristirahat. Namun mood nya benar benar buruk.