DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 152 - Pria Bertudung


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu? Apa lukamu sudah sembuh?". Tanya Felix di sebrang telpon. Ia kini sudah berada di ruangan pribadinya


"Aku pikir kau benar. Aku tidak bisa bekerja hari ini. Mungkin aku akan mengambil cuti hari ini saja. Rasanya aku ingin beristirahat sehari saja". Jawab Berli


"Baiklah. Kau beristirahatlah, tidak perlu memikirkan masalah pekerjaan. Aku akan datang sepulang nanti. Kau jangan pergi kemana mana". Ucap Felix penuh perhatian


"Baiklah.. Terimakasih Felix.. ". Ucap Berli yang hatinya berbunga bunga


"Jaga dirimu. Aku akan merindukanmu". Ucap Felix tersenyum tipis. Tentu ini membuat hati Berli menjadi tak karuan


"Felix.. Kau ini". Berli tersenyum keindahan


"Ya sudah. Aku tutup telpon nya. Sampai nanti.. ". Ucap Felix menutup telpon


"Baiklah. Sampai nanti". Jawab Berli


"Aku mencintaimu Felix.. Aku benear benar tidak percaya bahwa hari ini ada. Hari ini terjadi. Apa benar aku dan Felix saling mencintai? Semua terasa seperti mimpi". Gumam Berli sambil mengacak wajahnya. Ia benar benar tak percaya dengan takdir cinta nya


......................

__ADS_1


"Dimana aku? Seseorang tolong aku!!". Teriak histeris Bu Inez yang kini berada di tempat gelap layaknya gudang. Tempat ini sangat asing baginya.


"Mengapa berteriak? Apa kau ketakutan nyonya?". Suara pria bertudung hitam itu terdengar misterius. Membuat ketakutan Bu Inez semakin membuncah.


"Siapa kau? Mengapa aku bisa berada disini?". Bu Inez meronta. Tangan dan kakinya terikat kuat di kursi itu


"Apa yang kau takutkan? Tempat gelap ini? Atau tali yang mengikatmu?. Atau bahkan kau takut padaku?". Pria bertudung itu tersenyum menyeringai di balik kain yang menutup sempurna parasnya. Bu Inez benar benar tidak mengenali siapa pria yang kini berhadapan dengannya.


"Siapa kau sebenarnya hah? Apa masalah mu dengan ku?". Bu Inez mengatakannya dengan penuh penekanan


"Kegelapan ini sama sekali bukan apa apa di bandingkan dengan kelamnya kehidupan yang kami alami. Tali yang mengikatmu sama sekali tak sebanding dengan kesulitan yang selalu kau timpakan pada kami. Kebahagiaan kami, hidup kami, dan keluarga kami. Kau merenggut semuanya dari kami nyonya INEZ PERTIWI!". Ucap seorang pria yang baru saja datang ke tempat itu dengan tudung yang sama dengan pria sebelumnya. Kedua pria bertudung itu membuat Bu Inez gemetar tak karuan.


"Ini belum saatnya untuk memberitahumu tentang siapa kami sebenarnya. Kami akan datang untuk membeberkan semua kejahatan mu di masalalu pada putra putramu. Kau harus merasakan sakit yang kami rasakan. Kau harus merasakan kehilangan yang kami rasakan. Bahkan kau akan merasakan lebih dari yang kami rasakan!". Ucap salah satu pria itu


"Tolong katakan apa kesalahku pada kalian.. Aku akan menebusnya sekarang. Berapa uang yang kalian inginkan? Aku akan berikan. Tapi jangan hancurkan keluargaku. Jangan jauhkan aku dari kedua putraku". Ucap Bu Inez penuh iba


"Lalu bagaimana dengan kebahagiaan kami yang kau renggut dengan paksa?. Yang kau lakukan di masalalu bukanlah hal yang bisa di beri toleransi. Bahkan sebanyak apapun uang yang kau berikan, sama sekali tak akan mengubah semuanya. Ini adalah sebuah peringatan keras untukmu. Katakan semua kejahatanmu sekarang tanpa di tutup tutupi!". Ucap pria itu membawa alat rekam suara dan menodongkan sebilah pisau di leher Bu Inez


"Jangan.. Jangan seperti ini.. Aku mohon.. Lepaskan aku". Ucap Bu Inez berteriak mengiba

__ADS_1


"Berteriaklah sesukamu. Tidak ada seorangpun yang bisa menolongmu sekarang. Kau berada di hutan yang begitu jauh dari tempat tinggalmu. Sekarang pilih saja. Kau katakan semua kejahatanmu agar kau bisa pulang dengan selamat, atau kau pulang dalam keadaan tak bernyawa". Pria bertudung itu tersenyum penuh makna


"Apa yang aku lakukan pada kalian? Dosa apa yang telah ku perbuat kepada kalian? Aku bahkan tidak mengenal kalian". Bu Inez gemetar di tambah tangisan yang keluar begitu saja


"VARUN FISWANATA DEWANTA. Suami mu, sekaligus ayah dari kedua pria yang sedang berada di hadapanmu sekarang!". Ucap Pria itu penuh penekanan


Bu Inez membelalak tak percaya dengan apa yang Pria itu katakan. Namun kini ia berada di ujung tanduk. Nyawa nya benar benar sedang terancam.


"Tidak mungkin.. ". Gumam Bu Inez tak percaya


"Mengapa tidak mungkin? Kami sudah berada di hadapanmu". Ucap Pria itu


"Siapa kalian? Aku ingin melihat wajah kalian". Bu Inez berteriak


"Akui semua kejahatan mu. Lalu kau akan pulang dengan selamat". Ucap Pria itu sambil menodongkan senjata api pistol di kepala Bu Inez


Bu Inez benar benar dalam keadaan terancam. Satu pria menodongkan pisau di lehernya, dan satunya menodongkan pistol di kepalanya. Nyawa nya benar benar tergantung pada kejujuran nya saat ini.


Sementara sejak tadi, alat perekam suara itu sudah merekam semua percakapan di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2