DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 276 - Berusaha


__ADS_3

Keesokan hari nya, Berli memberanikan diri untuk pergi bekerja. Ia ingin menemui Felix. Berharap, Felix akan mempercayai nya kali ini. Ia sama sekali tak ingin melepas cincin lamaran dari Felix.


Berli menghela nafas. "Semoga kali ini kau percaya padaku. Aku harap semua akan baik-baik saja".


Berli melenggang, tanpa ada Felix yang menjemputnya. Ia pergi menaiki angkutan umum.


......................


"Sayang, kau tidak pergi ke perusahaan?". Tanya Bu Inez.


Felix menjawab tanpa menoleh. "Tidak"


Bu Inez semakin gembira hati nya, ia tahu persis apa yang sedang Felix rasakan. Namun ia berusaha untuk berpura-pura tak tahu. "Tapi kenapa sayang, biasanya kau sangat bersemangat?".


"Aku hanya ingin istirahat". Felix melenggang, ia pergi ke kamar nya.


'Bagus nak. Jangan pernah temui wanita itu lagi'. Bu Inez membatin.


......................


Bu Yuni mendatangi Lathesia, dengan sumringah.


"Nak, sejak kemarin kau terlihat sangat senang. Ada apa, hm?".


Lathesia tersenyum. "Tentu saja, karena aku akan menikah dengan Felix". Ucap Lathesia penuh percaya diri.


Bu Yuni mengernyit. "Apa yang kau katakan?".


Lathesia menjawab enteng, sembari mempoles wajah nya dengan make up. "Felix sudah memutus hubungan dengan Berli. Mereka tidak akan pernah menikah. Dan aku sangat bahagia untuk itu".


Bu Yuni membelalak. "Bagaimana bisa?. Nak, mama tak ingin mendengar bahwa kau yang menghancurkan hubungan mereka".

__ADS_1


"Kenapa?. Kenapa mama selalu saja membela dia, daripada anakmu sendiri?. Apa mama pikir, wanita seperti dia pantas mendapat kebahagiaan semewah bersama Felix?. Tidak sama sekali!".


"Jaga ucapanmu Lathesia!. Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi wanita kasar seperti ini!. Katakan, apa yang kau lakukan padanya?!"


Lathesia melenggang. "Itu sama sekali bukan urusan Mama!".


"Berli.. Aku harap kau baik-baik saja nak". Gumam Bu Yuni. Ia khawatir akan keadaannya.


......................


Hari mulai siang, dan matahari mulai naik. Namun Berli sama sekali tak melihat keberadaan Felix.


"Mungkinkah Felix tidak datang?. Lalu bagaimana aku akan bicara padanya".


Di saat bersamaan, tiba-tiba David datang ke arah Berli. Memang situasi disana agak sepi karena karyawan lain sudah berada di kantin. Berli terdiam, ia tak ingin melihat wajah nya.


"Berli.. "


"Berli, ku mohon.. Berikan aku kesempatan untuk bicara".


Berli hanya diam, tanpa menatap ke arah David. Karena jika ia melihatnya, ia akan mengingat kejadian itu lagi.


"Berli, aku sama sekali tak menyangka ini akan terjadi. Aku datang untuk memenuhi undanganmu. Itu saja".


"Aku sama sekali tak pernah mengundangmu untuk pergi kemanapun!. Kau bahkan yang mengundangku untuk datang ke tempat itu. Puaskan sekarang?".


David semakin berusaha. "Berli, mungkin saja ada yang memfitnah kita. Aku yakin, seseorang sudah menyusun rencana ini".


"Ku mohon, pergilah.. Aku tak ingin bicara denganmu". Ia masih menunduk, dan sudah tak kuasa mendengar apapun yang keluar dari mulut David.


David mengernyit. "Tapi Berli.. "

__ADS_1


"Pergi"


David menghela nafas. Ia melenggang untuk pergi.


......................


"Aku masih tidak percaya, kau melakukan ini Berli.. Kau mengkhianatiku. Kau bahkan yang meminta nya datang. Mengapa semua ini harus terulang kembali?. Apa aku tidak berhak untuk bahagia?". Gumam Felix. Ia hanya menatap pemandangan di luar, dari jendela kamar nya.


"Mungkin aku akan membencimu Berli!".


Kringg, tiba-tiba ponsel Felix berbunyi. Tanda ada telepon masuk.


"Nona Zaynap?"


"Selamat siang Tuan Felix, maaf mengganggu aktivitasmu". Ucap Zaynap di seberang telepon


"Tidak, tidak sama sekali"


"Begini, kemarin saya sempat menghubungi Nona Berli, saya harap kalian bisa datang kemari untuk percobaan busana dan make up. Kira-kira, kapan kalian bisa datang?. Saya akan mengatur jadwalnya".


Degg, hati Felix berdesir. Pernikahan tinggal di depan mata, namun semua sudah berantakan.


"Nona Zaynap, sebenarnya kami berencana untuk mengundur hari pernikahan. Kita masih ingin mencari tanggal yang tepat. Jadi, bisakah kami datang nanti saja?. Kami pasti datang, namun saat ini kami masih sama-sama sibuk".


"Tentu saja tuan Felix. Kapanpun itu, kau boleh datang. Saya hanya ingin mengabarinya lagi saja".


"Baiklah, terimakasih".


Telepon itu berakhir. Felix menyimpan ponsel nya kembali.


"Kau melakukan ini, saat bahkan kita akan menikah Berli!". Gumam Felix kembali.

__ADS_1


__ADS_2