DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 213 - Awan Kebencian


__ADS_3

"Felix, bagaimana kau bisa tahu semua ini nak?". Ucap Bu Inez saat hendak berada di parkiran.


"Bukan aku, tapi Ozcan. Ia merekam semua kejahatan yang mereka rencanakan". Balas Felix menoleh ka arah Ozcan.


"Terimakasih Ozcan, kau sudah banyak membantu keluarga kami". Ucap Bu Inez terharu.


"Sudah kewajibanku untuk menolong tante. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri". Ozcan tersenyum.


"Semoga Allah membalas kebaikanmu". Bu Inez tersenyum haru.


"Oh iya, Felix.. Maafkan mama, mama sudah memaksamu untuk menikahi Jovanka waktu itu. Mama benar-benar tidak tahu bahwa mereka punya rencana sejahat ini". Ucap Bu Inez kepada Felix penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa. Lagipula semua belum terlambat. Aku sudah menduga ini dari awal. Lebih baik sekarang kita pulang". Ucap Felix.

__ADS_1


"Ah iya, kau datang mengenakan apa?. Tidak ada mobilmu disini?". Ucap Bu Inez mengedarkan pandangan nya ke sekeliling mencari mobil milik Ozcan.


"Ban mobilku bocor, kami terpaksa meninggalkan nya di jalanan. Tapi aku sudah mengirim orang untuk mengurusnya". Balas Ozcan ramah.


"Kalau begitu, ikutlah pulang bersama Tante. Felix juga pasti butuh teman. Iya kan, nak?". Ucap Bu Inez mengalihkan pandangan nya ke arah Felix.


"Iya Ozcan, ikutlah bersama kami". Sahut Felix


"Baiklah.. ". Ozcan setuju untuk ikut pulang bersama Bu Inez, karena memang ia tidak membawa kendaraan pribadi apapun.


"Bre**sek!. Siapa sebenarnya pria itu?. Kenapa ia begitu lantang membongkar rahasia kita?". Umpat Bu Delli penuh amarah di dalam mobil pribadi miliknya. Mereka masih belum beranjak untuk pergi, rasanya mereka ingin mendinginkan kepala terlebih dahulu.


"Itu artinya, pria itu pernah bertemu kita dan mendengar semua percakapan kita sewaktu di restoran tadi. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ada yang menguping pembicaraan kita". Balas Jovanka penuh pemikiran. Ia mengingat ucapan apa saja yang mereka keluarkan saat di restoran tadi.

__ADS_1


"Semua sudah berakhir Jovanka. Nasi telah menjadi bubur!. Sialan!. Kita gagal mendapatkan harta itu!". Bu Delli yang hatinya masih bergemuruh, benar-benar tak bisa mengendalikan amarahnya.


"Lalu apa yang harus kita bicarakan kepada ayah?. Aku benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi". Sahut Jovanka.


"Diam Jovanka!. Bukan nya memberi solusi, kau malah membuat Ibumu ini naik darah!. Dasar tidak berguna, setelah gagal mendapatkan Felix, kau membiarkan Ibumu ini berjuang sendiri, dan disaat gagal, kau sama sekali tidak memberi solusi. Dasar anak tidak tahu diri!". Kemarahan Bu Delli semakin memuncak.


"Aku? Aku tidak tahu diri?. Lalu bagaimana dengan mama yang pikiran nya hanya uang, uang dan uang!. Pertama mama memperalatku agar bisa mendekati Felix, sampai-sampai aku mengorbankan hubunganku dengan kekasihku. Sekarang, mama menyalahkan aku. Seperti itukah artinya hubungan di mata mama?. Boleh aku katakan?. Mama yang tidak tahu diri karena mama hanya bisa menginginkan milik orang lain, tanpa berusaha sendiri!". Ucap Jovanka yang ikut panas. Ia pergi dan membanting pintu.


"Heyy.. Jovanka!". Teriak Bu Inez menghentikan Jovanka. Namun Jovanka pergi tanpa menoleh sedikitpun. Entah kemana ia akan pergi.


"Dasar sialan! Semua orang membuatku marah.. Aku benci semua ini!". Teriak Bu Delli sambil memukul kemudi mobil.


"Kau sudah menghinaku di tempat umum Inez. Kau akan merasakan pembalasan nya. Aku akan membalas perbuatanmu!. Aku tidak peduli apapun. Jika tujuanku tidak tercapai maka aku akan selalu membencimu!". Umpat Bu Delli penuh kebencian. Rasa demdam dan iri hati begitu menyelimuti hati dan pikiran nya.

__ADS_1


Tak ada pikiran jernih sedikitpun, karena kini hatinya sudah di penuhi kebencian, iri dengki, dan balas dendam.


__ADS_2