
"kenapa Bian tiba tiba seperti itu?. Apa aku melakukan kesalahan?. Apa gara gara tadi aku hanya diam saat makan siang?. Aghh pria es batu itu benar benar mengacaukan pikiran ku. Apa lebih baik aku mengirim pesan permintaan maaf kepada Bian?. Aku benar benar tidak enak hati. Ah aku chatt saja"
Berli kini sudah berada di kamar sederhana yang menjadi tempat ia menuangkan perasaannya. Ia masih benar benar bingung dengan perlakuan Bian kepadanya. Bian tidak seperti biasanya, Berli benar benar tidak enak hati dan memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Abian
'Assalamualaikum Abian, apa sedang sibuk?, maaf jika menggangu. Bian aku sungguh minta maaf jika aku melakukan kesalahan kepadamu. Kamu boleh langsung mengatakan apa kesalahan ku, jangan seperti ini. Terimaksih dan mohon maaf sebesar besarnya Bian:)'.
Pesan singkat itu di kirim Berli kepada Abian. Ia benar benar tidak mengerti dengan Abian yang tiba tiba berubah
"Jadi hari ini pria es batu itu benar benar pengalihkan pikiranku ya. Tapi kemana dia hari ini, kenapa tidak hadir". Ucap Berli pada dirinya sendiri. Pikiran nya benar benar kalut. Di sisi lain Abian, di sisi lain Felix.
"Bahkan untuk menanyakan nya saja aku tidak bisa. Hah selama ini aku belum menyimpan nomor ponsel nya". Gerutu Berli yang kini pikiran nya tertuju pada Felix
Drttttt... Drtttttt
Tiba tiba ponsel yang di genggam Berli bergetar. Tandanya ada panggilan masuk. Panggilan masuk itu ternyata dari Aditya. Ya, sejak tadi Aditya mengantar Berli pulang, mereka memang sempat saling bertukar nomor ponsel agar mudah untuk menghubungi jika ada masalah
"Haii kak". Ujar Aditya di sebrang telepon
"Waalaikumsalam Aditi". Ucap Berli sambil tertawa.
"Ah iyaa, aku lupa hahaha. Assalamualaikum kak Berli". Ucap Aditya kembali
"Haha iyaa iyaa, ada apa Adityaa". Ucap Berli sambil tersenyum membalas perkataan Aditya di sebrang telepon
"Apa kakak sudah baikan?, besok kembali bekerja?". Tanya Aditya
"Iyaa Aditya, aku harus bekerja. Lagi pula sepertinya aku sudah pulih". Ucap Berli
"Baiklah kak, tapi apa kakak tahu kenapa tiba tiba pintu gudang itu terkunci?". Tanya Aditya
"Ah iyaa, aku bahkan melupakan hal itu. Tapi aku benar benar tidak tahu siapa yang melakukan nya Aditi. Dan untuk apa jika seandainya ada seseorang yang dengan sengaja mengunciku di sana". Ucap Berli bingung. Ia bahkan sama sekali tidak terpikirkan untuk mengingat hal itu.
__ADS_1
"Apa mungkin..... ". Ucap Aditya penuh pertanyaan
"Ishh, jangan suudzon". Jawab Berli. Ia tahu persis apa yang akan Aditya katakan
"Baiklah kak, sekarang istirahatlah. Tapi jika besok memang tidak kuat sebaiknya jangan memaksakan untuk masuk kerja. Biar aku yang akan memberitahu Bu Sherly". Ucap Aditya penuh perhatian
"Aku kuat Aditii adikku hahaha. Aku akan bekerja besok, kalau begitu aku tutup telpon nya yaa.. Terimakasih banyak, kau adikku yang paling baik hehe". Ucap Berli sambil tersenyum
"Baiklah kak, Assalamualaikum". Ucap Aditya di sebrang telepon
"Waalaikumsalam". Jawab Berli. Ia benar benar bahagia karena sekarang ia sudah merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang kakak. Begitu juga dengan Aditya
......................
"Aku sungguh sangat tidak mengerti, apa yang ada dalam pikiran Neel. Ia tiba tiba menghilang dan kakak ku bilang, tadi dia melihat nya disini". Ujar Romi kepada Adelard. Adelard kini sudah berada di koridor rumah sakit untuk menemani Romi
"Bisa saja mungkin dia sakit atau saudaranya juga di rawat disini". Ucap Adelard bingung menjawab Romi. Karena bahkan dia pun tidak mengetahui keberadaan Neel
"Apa lebih baik kita coba menelpon nya?". Ucap Adelard
"Aku akan mencobanya". Ucap Romi sambil meraih telepon genggam miliknya
Namun setelah beberapa kali Romi mencoba menghubunginya, ia tak kunjung mendapat jawaban dari Neel. Ponsel nya di luar jangkauan
"Bagaimana bisa ponsel nya di luar jangkauan?. Memang nya dia sedang berada dimana?". Ucap Romi kesal
"Banyak kemungkinan Romi, bersabarlah". Ucap Adelard menenangkan Romi.
Romi hanya bisa terdiam dengan kekesalan di hatinya. Ia benar benar bingung bagaimana harus bersikap kepada Neel. Kecurigaan Romi benar benar sudah memuncak.
Tak berselang lama, ponsel Romi kembali bersuara, tanda ada chatt yang masuk. Namun sayang nya, bukan kabar dari Neel. Melainkan ancaman dari nomor ponsel tidak di kenal
__ADS_1
'Ibumu masih selamat?. Baiklah tunggu kekacauan selanjutnya. Aku akan membuat kalian hancur perlahan'
Pesan singkat ini benar benar membuat darah pemuda itu mendidih
"Sial. Apalagi ini, siapa orang ini!". Ujar Romi benar benar kesal dengan situasi ini
"Coba ku lihat". Ucap Adelard sambil meraih ponsel yang di genggam Romi
"Apa ini?, bagaimana bisa. Nomor nya langsung di blokir". Ucap Adelard yang telah melihat isi pesan singkat di ponsel Romi
"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang melakukan ini. Tunggu saja, jika aku sudah mengetahui nya, aku bahkan tidak akan membiarkan orang itu hidup bahkan sedetik pun". Ucap Romi yang benar benar dalam keadaan panas
"Sabar bro". Ucap Adelard yang hanya bisa menenangkan Romi
......................
"Apa aku harus ke rumah nya?. Rasanya aku benar benar merindukannya meskipun tidak bertemu hanya satu hari". Ucap Felix dalam hati. Sesungguh nya ia sangat merindukan Berli hari ini.
"Sayang". Ucap Bu Inez lembut mengejutkan lamunan Felix
"Iyaa ma". Jawab Felix lembut
"Mama ingin pulang". Ucap Bu Inez
"Tapi mama belum pulih. Biarlah tinggal beberapa hari dulu". Ucap Felix menenangkan ibunya
"Huh mama sudah bosan". Ucap Bu Inez mengeluh
"Sabar, sebentar lagi jika mama sudah pulih, Felix akan membawa mama pulang. Oke?". Ucap Felix lembut
Felix memang penuh kasih sayang kepada ibunya. Ia benar benar perhatian dan lembut menghadapi sikap Bu Inez, meskipun terkadang ibunya selalu memaksakan kehendaknya kepada Felix.
__ADS_1